what a day!

matahari bersinar terik ditambah kemacetan lalu lintas yang biasa ia  hadapi setiap hari, bising suara klakson terdengar diluar  bersahut-sahutan, mobil dan motor yang tak mau saling mengalah,  ditambah dengan lampu hijau yang bertukar begitu cepat.

gadis itu berulang kali menatap jam yang terletak di dashboard mobil.  semakin lama, wajahnya semakin tertekuk. jarinya sibuk  menganti  channel radio. dia sudah pasrah. tak mungkin dia dapat tepat waktu tiba  di tempat janjian dengan kawannya.

saat itu waktu menunjukan pukul 16.15 sedangkan dia belom menempuh  seperempat jarak yang harus ditempuh. waktu yang ditentukan adalah  16.50 dan sudah dapat dipastikan dia akan telat datang. perlahan rasa  pasrah menghinggapi gadis itu, dia semakin santai dan bisa duduk tenang  sambil menatapi lautan mobil diluar sana.

jari-jemarinya tidak lagi dimainkan di tombol radio, dan berpindah ke  tombol-tombol imut blackberry yang digenggamnya. diambilnya earphone  dan dipasang ke kupingnya. radio dimatikan dan lagu kesayanganpun mulai  mengalun. dia semakin rileks.

2008-chevrolet-spark-side-rearbegitu pusat kemacetan dilalui, perlahan tapi pasti ribuan kendaraan  diluar sana mulai bergerak. di lihatnya celah kecil, gadis itu langsung  menekan kuat gas mobilnya dan menderu mendahului mobil-mobil lainnya.  dengan kelincahannya, dia bermain kopling, gas dan rem.

akhirnya, ketika dirasa jalanan mulai bersahabat dan sang gadis hendak  bernapas lega, timbul satu masalah baru. sahabat sejatinya yang selalu  setia menemaninya kemanapun dia pergi, memutuskan untuk ngambek. dicoba di gas tapi kecepatan tidak bertambah.

“Damn!”

“Ayolah, please. jangan sekarang!”

si sahabat mungilnya itu tampak tidak mau mendengar. dia bersikeras untuk ngambek, mungkin lelah menamani kebrutalan sang gadis dalam berkendara.

raut wajah si gadis semakin buruk. habis sudah harapannya untuk bisa sampai, walau sudah pasti telat. akhirnya dia ikuti permainan sahabatnya itu. perlahan mereka melambat mengukur jalanan yang seakan tiada habisnya. untuk hujan pun tidak memutuskan untuk mencurahkan air matanya saat itu, jadi sang gadis masih punya sedikit harapan.

saat tempat tujuan sudah didepan mata, sang mentari sudah jauh berada diufuk barat mulai meninggalkan siang. dia memainkan jari-jari lentiknya di tombol mungil berry-nya, menghubungi sang kawan yang ingin ia temui.

“aku udah mau nyampe”

“kamu dimana?”

“ok, tunggu ya. aku parkir dulu”

setelah berputar mengelilingi gedung yang tempat parkirnya sangat aneh, seperti labirin yang tiada habisnya, akhirnya di suatu pojok, gadis itu melihat satu tempat kosong, dan dia langsung mengarahkan sahabat mungilnya kesana.

dimasukkannya karcis parkir ke tas pink yang setia menemaninya kemanapun, di tengoknya sebentar penampilannya setelah berjuang menembus kemacetan di kaca spion, lalu dia keluar.

dikuncinya mobil kecilnya itu, sambil berusaha tersenyum tuk perbaiki mood, dia langkahkan kakinya ke dalam. dan dilihatnya sang kawan sudah menanti.

“hai…”

11 comments

Comments are closed.