Waria dan Fatwa Haram

Ketika sedang membilas rambut setelah shampo-an tadi pagi, baru lah saya menyadari bahwa rambut ini telah memanjang hingga kepinggang. Hijab yang saya kenakan sehari-hari juga mengakibatkan saya suka lupa berapa panjang aslinya rambut ini. Sehingga ketika waktu sedang senggang setelah beberapa saat diburu waktu terus menerus, terbersit keinginan untuk memotong rambut. Tapi tiba-tiba saya teringat, bukankah baru-baru ini ada Fatwa yang dikeluarkan Bahtsul Masa’il yang diikuti 125 pondok pesantren se Jawa-Madura, bahwasanya HARAM bagi waria memotong rambut wanita.

Haduh.. Repot bener ya.. Gimana tuh para wanita yang hair stylish langganannya nya waria? Masa iya kudu ganti cuma karena stylish nya banci, eh waria… Kalau buat saya fatwa tersebut tidak terlalu berpengaruh dalam aspek kehidupan. Disebabkan oleh hijab yang dikenakan, toh sudah menyebabkan saya harus berhati-hati dalam memilih orang yang akan memotongkan rambut.

Oh, well.. Terlepas dari apa yang saya kenakan, saya sendiri tidak terlalu ambil pusing sama fatwa tersebut. Misalkan saja nih, saya tidak mengenakan jilbab, saya rasa tetap saja tidak terlalu berpengaruh yang memotong rambut saya pria, waria, maupun wanita. Bagi saya, dan kemungkinan juga bagi para perempuan lainnya, yang paling penting adalah kenyamanan, kepercayaan, keahlian dan kebiasaan, jenis kelamin mungkin gak terlalu berpengaruh kalau faktor-faktor yang saya sebutkan sebelumnya telah terlengkapi.

Iya, saya tahu, kalian boleh memarahi saya! Mengatakan saya bukan muslimah yang baik, or whatsoever. Tapi saya tidak peduli, karena bagi saya dosa atau pahala, salah atau benar toh hanya Tuhan yang tahu. Para ulama yang mebuat fatwa haram itu kan bukan nabi, bukan pula Tuhan. Bagi saya, fatwa mereka justru jahat dan tidak berprikemanusiaan. Kenapa? Karena dengan mereka mem-fatwa-haramkan para waria itu bekerja di salon kecantikan yang harusnya pekerjaan mereka itu HALAL, berarti kemungkinan terburuknya mereka akan melakukan “pekerjaan” yang tidak halal, alias haram (dan haramnya lebih dari sekedar menata/memotong rambut wanita).

Konon, dasar hukum yang mereka gunakan adalah meletakan kelompok waria sebagai bagian dari kaum pria, sehingga diharamkan melihat dan menyentuh bagian aurat wanita yang bukan muhrimnya. Sedangkan rambut dalam keterangan sejumlah kitab fiqih disebut sebagai bagian dari aurat wanita yang harus ditutup, sehingga apabila dilihat, dipegang bahkan dipotong oleh kaum pria yang bukan muhrimnya maka itu dinyatakan haram.

Oh hallo… Di negara kita nih, bukan negara muslim, yang seluruh penduduk wanitanya mengenakan hijab/jilbab. Kalau cuman alasan yang dipake adalah haram karena melihat dan memegang aurat wanita yang disini diartikan rambut, banyak donk yang kena haramnya?? Bukan cuma waria aja. Semua orang yang papasan sama kita dan beda jenis kelamin terus ngelihat rambut kita juga haram dong hukumnya? Sekalian aja suruh potong rambut sendiri dirumah dan gak perlu ke salon segala. Atau sekalian aja jadiin negara kita jadi negara islam, biar semua wanitanya mengenakan penutup kepala, biar rambutnya gak bisa dilihat orang lain yang bukan muhrimnya.

Untungnya MUI kita kali ini tidak ikutan menambahkan kehebohan yang terjadi, seperti kasus mengharamkan rebonding beberapa bulan yang lalu. Menurut saya pribadi, alangkah lebih bijaksananya bila fatwa haram tersebut dikhususkan untuk wanita-wanita yang mengenakan jilbab, haram hukumnya dipotong rambutnya oleh waria dan pria (tidak hanya warianya aja dong yang disebutkan biar adil). Dan saya rasa, para wanita yang mengenakan hijab udah cukup pintarlah, buat menilai mana yang pantas atau tidak buat mereka, rata-rata mereka juga risih kok kalo dipotong rambutnya sama yang bukan wanita tulen. Dan juga, bukankah sekarang sudah banyak salon kecantikan khusus wanita, atau kalau mau lebih khusus lagi, spesial untuk wanita muslimah berjilbab.

So? Kenapa kita harus pusing mikirin fatwa haram bagi waria memotong rambut wanita? Santai aja lagiiii… :)

17 comments

  1. Chic says:

    stylish langganan ku sih kebetulan errrr bertingkah seperti waria, errr ya yang kemayu dan melambai gitu deh, tapi tetap berpakaian laki-laki.. dan saya tidak berminat ganti stylish deh kecuali dia pindah keluar kota.. abisan cuma dia yang udah ngerti banget gimana motong rambut saya :P

  2. Ceritaeka says:

    Jadiii.. kamu udh potong rambut Dit?
    Sama sapa?

    Btw stylist langganan gue juga melambai lhooo, and mereka ini emang lbh luwes ya motongnya, lbh pas juga kalo ngeblow ;)

  3. HASTu W says:

    klo soal fatwa nda mudeng aku…. fatwa mana yg wajib diikutin, banyak org pinter ga ngomong fatwa, n banyak org ngrasa pinter ngomong fatwa…. :roll:

  4. Zippy says:

    Bener banget tuh.
    Kayaknya masalah ini terlalu dibesar2’kan deh, hehehhe…
    Oh..ia, tapi kalo saya pribadi emang gak suka kalo potong rambut di salon yang potongin itu waria.
    Agak risih sih, hihii… :D

Leave a Reply

CommentLuv badge