#certwit, cerita via twitter (no tittle yet)

dan ketika penyihir itu mengayunkan tongkat nya. debu bintang dan kilatan bersemburan. bibirnya mengucap mantra. menghentikan sepersekian –detik hidup saya. lalu gelap.

dalam gelap, sambil mengerlipkan mata. saya mencoba melihat. masih gelap. kepanikan melanda. dimana saya? DIMANA SAYA?

seketika sejuta cahaya menyeruak. menyilaukan mata. lalu lalang manusia. bunyi alat bantu pernafasan. teriak panik suster. dokter berlari.

Bib. Bib. Bib. Bunyi mesin-mesin itu. Semakin lama semakin cepat. Lalu berhenti sama sekali. Semua panik. Aku terpaku. Tanpa sadar.

Air mata mengalir deras. Seketika paru-paruku seperti dihimpit. Aku menggapai. Lalu semua menjadi lebih kabur.

Seperti menonton film yang dipercepat. Aku tau persis adegan apa yg sedang berlangsung. Begitu juga adegan yang akan terjadi.

Panik menyerangku. Kupejamkan mata erat. Berharap bisa mengusir semua itu. Semakin erat kupejam. Semakin terlihat jelas.

Haruskah aku mengulanginya lagi. Melewati semua tahap yg menyakitkan itu. Melihatnya menderita lagi. Berjuang. Lalu kalah? Tak cukupkah penderitaanku? Tak cukupkah?

Tau-tau lokasi berubah. Dia ada dihadapan ku. Melihat wajahnya lagi. Dengan segala alat bantu. Tanganku ingin meraihnya. Merengkuhnya.

Tapi ternyata itu hanya ilusi. Sangat nyata. Hembus nafasnya terasa. Tapi aku. Seperti hantu. Dua dunia berbeda. Aku tau ini pasti mimpi.

Puff. Semua hilang. Seperti pertama kedatanganku. Hitam. Gelap. Dalam ruang tak bertepi. Pasrah. Menanti kejutan berikutnya.

Satu detik. Satu menit. Satu jam. Tak terasa. Apakah hitungan ruang dan waktu ini sama? Terasa seperti selamanya. Dimana saya? Sampai kapan

Saat kufikir nafas ku berhenti. Capek. Lahir bathin. Sinar itu datang lagi. Begitu terang. Kali ini disertai hujan. Basah. Langit cerah.

Seketika ku. Tertawa. Aku tau ini. Dulu. Ketika hujan tiba. Saya. Menari disini. Selalu. Menikmati tiap tetesnya. Tiap geraknya.

Dia menjemputku. Payung berwarna lucu. Menunggu hujan reda. Dan selesainya tarianku. Diam. Tersenyum. Kadang tertawa. Dan aku semakin larut.

Sampai rintik terakhir. Dia setia berdiri mematung. Menantiku. Hingga akhirnya kami bergandeng. Berjalan di sisa hujan. Menuju cinta. Cita.

Dapat terlihat jelas. Terasa jelas. Tubuhku menggigil. Basah. Terasa di dada. Di hati. Tapi kali ini. Dia tak ada. Hampa. Sendiri. Membeku.

Gelap. Terlempar kembali. Terasa makin sesak. Himpitan didada. Tangis kering. Air mata habis. Pasrah. Tanpa alasan. Jiwa saya direnggut.

Penyihir sial itu! Siapa dia? Mengapa dia? Mengapa saya? KENAPA? Kurang yg saya lalui? Penderitaan apa yg ingin ditambahnya? Teriakku.

Belum waktunya. Terdengar suara berat. Melirik ke semua arah. Tak ada bayang orang. Kemudian sunyi. Masih gelap. Tempat yang sama.

Seketika putih. Terang. Kemana lagi ku dibawa. Ah. Ini ketika kabur dari rumah. Saat itu puncaknya. Semua memuakkan. Kecuali kamu. Cuma kamu

cute-food-twitter-cupcake

Bersambung.
———————–

Mencoba menulis lewat media twitter. Tapi biar ndak berceceran, dikumpulin disini. Kalo gaya bahasa agak aneh, maklum maksudnya menyesuaikan dengan keterbatasan 140 character yg ada di twitter. :lol: #certwit

28 comments

  1. venus says:

    dulu pernah ada hashtag apa ya namanya? lupa. jadi semua orang nulis script sepanjang 140 karakter dan hrs tamat. keren. script awaaaayyyy….. :D
    .-= venus´s last blog ..JFW =-.

  2. venus says:

    eh mksdnya dalam 1 tweet ceritanya hrs tamat. asli keren2, terutama tweetnya temen2 yg emang kerjaannya scriptwriter. bikin lagi, dit. lanjuuutt….:D
    .-= venus´s last blog ..JFW =-.

Comments are closed.