Verboden yang sudah tidak ada artinya…

Akhir-akhir ini, seiring dengan bertambah banyaknya jumlah kendaraan bermotor terutama di daerah Jakarta, semakin hilanglah arti sebuah rambu lalu lintas. Berdasarkan pengalaman dita sendiri sebagai pengguna lalu lintas, baik sebagai pengendara kendaraan bermotor, maupun sebagai pejalan kaki, banyak sekali orang-orang yang tidak peduli sama yang namanya rambu lalu lintas apalagi bila di sekitarnya tidak ada petugas. Bablas.. blas… blas…

Di daerah perumahan tempat dita tinggal, jalan-jalannya kebanyakan dibuat satu arah, agar siempunya rumah yang ada disitu lebih nyaman dan aman dalam mengakses ke rumah masing-masing. Tapi yang namanya manusia tetep aja doyan melanggar, padahal tanda VERBODEN dipasang hampir diseluruh jalan yang hanya boleh dilalui satu arah. Kalau yang melanggar adalah orang-orang yang baru pertama kali lewat jalan situ, dita gag pernah bosen-bosennya mengingatkan.

“Pak jalan ini verboden, cuman satu arah.”

“Ooooo… gitu yah mbak…” kata mereka, yang biasanya adalah supir taksi atau pengemudi mobil pribadi yang baik hati.

Lain lagi kalau yang lewat pengemudi truk (bukannya dita mau jelek-jelekin loh) tahu sendiri kan bagai mana sifat dan tabiatnya, mereka biasa memelototin, atau bahkan menjawab balik dengan nada sinis dan kasar. Begitu juga penghuni perumahan itu sendiri, kadang mereka dengan seenak perutnya, kalau mereka terdesak, atau ingin lewat jalan pintas, mereka cuek aja lewat jalan yang jelas-jelas ada tanda verbodennya. Malahan mereka lebih merasa gagah perkasa dibandingkan orang-orang yang jelas-jelas patuh pada peraturan. Mereka tidak mau minggir, mereka ngelakson, ngasih lampu, dsb, merasa seakan-akan merekalah yang paling benar.

Padahal kan tujuan semula, biasanya disebabkan karena jalan tersebut tidak boleh dilewati adalah kecilnya lebar jalan yang tidak muat bila dilewati mobil dua arah. Apalagi disamping-sampingnya terdapat saluran air. Kalau tidak hati-hati bisa nyebur masuk kedalam got.

Dita tidak tahu apakah sikap dita benar atau tidak, dita sebagai yang merasa benar, suka tidak mau mengalah bila mereka berusaha lewat, maka dita haling-halingin biar mereka tidak bisa lewat dan akhirnya minggir juga.

Setelah dita teliti lebih mendalam (cieilah…), verboden (lingkaran berwarna dasar merah dengan garis horizontal berwarna putih didalamnya) yang berasal dari bahasa Belanda memiliki arti DILARANG MASUK. Rambu tersebut masuk kedalam kelompok Rambu Larangan. Rambu ini termasuk rambu yang sering sekali dilanggar. Orang merasa cuek aja masuk jalan yang jelas-jelas ada tanda larangannya. Bila di tegur, dengan entengnya mereka menjawab

“Ooo… dilarang ya?”, “Maaf ya, baru pertama kali lewat” atau “Sori deh, soalnya buru-buru”.

Tanpa rasa berdosa, dan akan mereka ulangi lagi di kemudian hari. Mungkin hal tersebut juga dipermudah oleh tidak adanya petugas yang menjaga tempat-tempat yang ada rambu lalu lintasnya. Pak polisi tersebut lebih mengutamakan bertugas pada Lamu lalu lintas yang notabene lebih merupakan lahan basah, alias lebih banyak tangkapannya (maaf ya pak polisi). Padahal bila sesekali pak polisi mau mencoba menjaga rambu lalu lintas, dijamin yang ditangkap bisa lebih banyak pak, karena masyarakat belum waspada.

Semakin direnungkan, semakin hilanglah arti rambu lalu lintas dimata para pengguna jalan. Mereka merasa menyepelekan rambu-rambu tersebut, dan tidak berusaha untuk memahami, kalau rambu tersebut pastinya dibuat dengan suatu tujuan tertentu.

Dita sendiri mungkin belum termasuk yang benar-benar taat pada rambu tersebut, tapi sebisa mungkin untuk menaatinya, kecuali rambunya tertutup (sering sekali rembu-rambu tersebut tertutup oleh dedaunan pohon nan rindang).

So… mari kita menaati rambu-rambu lalu lintas, bagaimanapun bentuk dan artinya, agar sesama pengguna jalan dapat tersenyum bahagia dan tingkat kecelakaan juga dapat berkurang…

Tulisan ini dita sertakan dalam lomba ini

3 comments

  1. dororodo says:

    biasanya yang suka ngelanggar rambu-rambu lalu lintas adalah orang yang ga punya SIM, kalo ngga SIM-nya nembak..

    lagian verboden dibuat untuk menanggulangi banyaknya jumlah kendaraan, bukan karena itu areal terlarang (kecuali daerah tertentu, seperti kawasan militer), jadi kalo jumlah kendaraan ga sebanyak sekarang, verboden pasti jarang ada..

  2. nindityo says:

    selamat ya mbak..
    karena sudah tak berarti sekarang banyak verboden yang berupaya untuk lebih berkreasi. terkadang dengan (ter)sembunyi di balik pohon, dikasih aturan kecil-kecil dibawahnya (mis: jam 07.00 – 09.00), ato hadap samping. :D

Comments are closed.