Ubah Keberuntunganmu

June 23, 2007

Kadang kita sering bertanya-tanya, mengapa bisa ada orang yang sangat beruntung dan ada yang sial terus. Sebagian orang lalu mengaitkan antara keberuntungan sebagai bakat dari lahir dan dikaitkan dengan tanggal, bulan dan tahun kelahiran. Sebagian yang lain mengaitkan keberuntungan dengan kemampuan supranatural dan kecerdasan.

Alkisah ada seorang pesulap terkenal dari Inggris yg bernama Richard Wiseman, yg kemudian mendapatkan gelar doctor-nya pada fakultas psikologi di Univeritas Edinburgh, memutuskan untuk mengadakan riset mengenai keberuntungan.

Sang Professor melakukan survey dengan rentang yg sangat lebar dari beberapa orang – laki-laki dan perempuan, tua dan muda. Hasil survey tersebut menunjukkan bahwa 50 % dari partisipan mengaku bahwa mereka mendapatkan keberuntungan dengan konsisten dan selalu beruntung sepanjang hidupnnya. Sementara 14% yang lain berpendapat bahwa mereka selalu ditimpa ketidakberuntungan sepanjang hidupnya, ibarat pepatah terkenal yaitu “sudah jatuh, tertimpa tangga”. Sedangkan sisa-nya, 36% mengaku kadang-kadang beruntung dan kadang-kadang tidak beruntung. Dengan kata lain, 64 % dari partisipan mengaku mendapatkan keberuntungan atau ketidakberuntungan secara konsisten. Cerita kartun saja biasanya mempunyai tokoh yang selalu sial dan selalu beruntung, seperti halnya Donal bebek dan Untung bebek.

Penelitian ini membuat dia yakin bahwa keberuntungan ini tentu bukan hanya semata sebuah kebetulan. Sesuatu kebetulan tentunya tidak akan terjadi berulang-ulang dan konsisten. Tentunya ada sesuatu yang menyebabkan seseorang mendapatkan keberutungan secara konsisten sementara yang lainnya justru mendapatkan ketidakberuntungan secara konsisten. Untuk mengetahui rahasia dibalik keberutungan itu, Richard masih harus melakukan penelitan lebih jauh. Ia memutuskan untuk melakukan penelitian pada titik-titik extrim, yaitu kelompok orang yg sangat-sangat beruntung, dan kelompok orang yang sangat super sial.

Benarkah orang yang super beruntung itu disebabkan karena bakat psychic yang dimilikinya? Pendapat yang dianut banyak orang ini tentu saja perlu dibuktikan kebenarannya. Untuk itu Richard perlu mengumpulkan segerombolan orang yang super beruntung dan orang-orang yang teramat sial untuk diuji keberuntungannya menebak sesuatu yang benar-benar acak. Bagaimana dengan si beruntung dan si sial dalam percobaan ini? Ternyata dari 700 peserta yang berpartisipasi, hanya 36 peserta yang menebak dengan benar. Itupun tersebar di antara kelompok beruntung dan kelompok tidak beruntung. Akhirnya kesimpulan yang didapat dari penelitian ini adalah bahwa tidak ada hubungan antara keberuntungan dengan kemampuan psychic.

Selain menyelidiki hubungan antara keberuntungan dan kemampuan psychic, Richard juga meneliti apakah keberuntungan itu disebabkan oleh kecerdasan. Dengan metode yang sama, yaitu mengumpulkan orang-orang yg sangat beruntung dan orang-orang super sial, Richard menguji tingkat intelegensia mereka dengan berbagai test. Test yang bertujuan mengukur kemampuan verbal, non-verbal dan reasoning ini ternyata menghasilkan grafik hubungan yang acak antara keberuntungan dan kecerdasan. Rata-rata skor kelompok beruntung, kelompok tak beruntung, dan kelompok normal sama. Dengan kata lain, tidak ditemukan hubungan antara keberuntungan dan kecerdasan.

Hidup ini ternyata tidak mirip dengan Undian yang faktor keberhasilannya begitu acak dan tak dapat ditebak. Selama lebih dari 10 tahun Richard meneliti faktor keberuntungan ini, dan akhirnya beliau menemukan mekanisme psikologis yang membedakan orang-orang beruntung dan orang-orang yg tidak beruntung. Ada empat prinsip dari keberuntungan.

Prinsip pertama adalah memaksimalkan kesempatan yang ada. Orang-orang beruntung berpikir dan berkelakuan berbeda sekali dengan orang tak beruntung dalam hal menciptakan, melihat dan bereaksi pada kesempatan-kesempatan yang kebetulan muncul dalam hidupnya. Pada umumnya orang-orang beruntung percaya bahwa kesempatan-kesempatan yg hadir dalam hidup mereka itu datang hanya karena faktor kebetulan semata. Mereka menerima semua itu dengan berbagai cara, termasuk bersosialisasi, mereka cenderung lebih santai dan kalem menghadapi hidup, senang mencoba hal-hal baru dalam hidupnya.

Prinsip yang kedua adalah mendengarkan “lucky hunch” atau alam bawah sadar dalam dirinya. Orang yang beruntung menbuat keputusan-keputusan bagus dalam hidupnya dengan mendengarkan intuisi dan perasaan yang terdalam. Mereka terbiasa mengasah insting dengan cara-cara seperti membersihkan pikiran dari hal-hal yang negatif. Orang-orang beruntung secara konsisten memberi kepercayaan pada orang-orang yg jujur dan dapat dipercaya, dan juga memilih opsi yg menguntungkan ketika dia dihadapkan pada pilihan-pilihan dalam karir ataupun kehidupan pribadinya. Ketika ditanyakan pada si Beruntung apa yg menyebabkan mereka bisa membuat keputusan-keputusan yg tepat, si Beruntung juga tak tahu jawabannya. Mereka hanya merasa tahu bahwa keputusan itu adalah keputusan yg tepat. Dan penyelidikan-penyelidikan Richard akhirnya menunjukkan bahwa keputusan-keputusan yg dibuat si beruntung itu didukung oleh alam bawah sadar si beruntung.

Prinsip yang ketiga adalah harapan pada keberuntungan. Orang-orang beruntung itu memiliki harapan yg besar (bahkan bisa dikatakan yakin) bahwa keberuntungan akan selalu menyertainya. Orang-orang kelompok beruntung percaya bahwa keberuntungan-keberuntungan yg didapatinya selama ini akan terus berlanjut didapatinya, dengan adanya harapan yg kuat tersebut, secara tak sadar si beruntung akan mengubah sikapnya sehingga akhirnya keberuntungan itu memang datang. Dengan keyakinan tersebut mereka tetap dapat berfikir positif dalam keadaan yang sulit sekalipun.

Prinsip keempat adalah mengubah ketidakberuntungan menjadi keberuntungan. Orang-orang yang beruntung tidak tenggelam dalam kegagalan, mereka secara spontan membayangkan hal yang lebih buruk yang pernah terjadi dengan mereka, sehingga mereka langsung dapat mengendalikan situasi yang terjadi. Hal tersebut ternyata memicu orang-orang beruntung untuk selalu berusaha mencapai tujuannya walaupun peluang keberhasilannya sangat kecil. Orang-orang beruntung itu tidak takut akan kegagalan, memiliki semangat juang yang tinggi dan juga tak mudah menyerah.

Menurut profesor Wiseman, ada nasib dan ada juga kesempatan. Perbedaannya adalah, nasib dapat dipengaruhi, sedangkan hal yang terjadi karena adanya suatu kesempatan tidak dapat dipengaruhi. Sebelumnya kita perlu mengetahui terlebih dahulu apa yang sebenarnya disebut nasib, karena beruntung sama dengan nasib baik. Nasib adalah tendensi dari kesempatan yang dapat membawa kesuksesan dari suatu hal. Apakah baik atau buruk? Nasib baik atau keberuntungan merupakan persepsi, yang bentuknya dapat bermacam-macam. Untuk orang-orang yang beruntung, isi gelas itu adalah setengah penuh, bagi yang selalu merasa tidak beruntung, gelas tersebut setengah kosong. Orang-orang yang tidak beruntung terbiasa pesimis dalam memandang segala aspek kehidupan sehingga tidak dapat melihat kesempatan yang ada didepan hidung mereka.

Secara umum orang yang beruntung adalah orang yang berada ditempat yang tepat pada waktu yang tepat; tidak memiliki kecenderungan untuk cemas dan khawatir dalam menjalani hidup; sangat terbuka dalam mempelajari hal-hal baru, mendengarkan alam bawah sadar dan firasatnya; rileks; selalu optimis dengan keberuntungannya; selalu mencoba dan mendapatkan sesuatu yang dia inginkan dalam hidupnya walaupun kemungkinannya untuk berhasil sangat kecil; selalu berharap bertemu dengan orang-orang yang ramah bersahabat dan suka membantu; selalu berfikir positif walau apapun yang kan terjadi; percaya bahwa kejadian buruk tidak akan menjadi lebih buruk bila dihadapi dengan benar; tidak pernah memaksakan sesuatu yang memang tidak cocok untuknya; selalu mencoba belajar dari kesalahan masa lalu; dan tidak pernah takut untuk berteman dengan orang-orang yang baru ditemui.

Bagi orang-orang yang ingin menin
gk

atkan keberuntungannya, profesor wiseman berpendapat, dengan mencoba berfikir seperti jalan fikiran orang-orang yang beruntung, tentunya dengan memahami dan menjalankan keempat prinsip diatas diharapkan dapat meningkatkan keberuntungan anda.

Daftar pustaka

Wiseman, Richard. 2003. The Luck Factor: Change Your Luck and Change Your Life. London: Century

Wiseman, Richard. 2004. The Luck Factor: The Scientific Study of the Lucky Mind. London: Century