This Is My Story: Dentist 2.0

*) Disclaimer: Berhubung postingan ini gak masuk 16 besar lomba #MyStory, maka saya edit jadi extended version nya, dan konteks nya saya ubah sedikit (300 kata tak cukup buat menceritakan mimpi saya :lol: ).

Pada tahun 2016 (5 tahun lagi ya, soalnya 20 tahun kelamaan), saya telah menjadi Dentist yang memiliki Dental Clinic 2.0. yang bukan sembarang klinik dokter gigi biasa. Klinik saya nanti akan menjadi klinik gigi digital pertama, semuanya terintegrasi sama internet. Saat ini kemacetan sudah menjadi makanan sehari-hari kita, dengan adanya Klinik gigi saya akan memudahkan calon pasien dalam melakukan appointment dengan dokter giginya. Selain itu klinik saya memberikan discount khusus bagi pasien yang menjadi follower twitter ataupun fans di FB page klinik tersebut. Adanya socmed account selain untuk mendapatkan discount juga dapat dijadikan sarana komunikasi antar dokter dengan pasien. Sehingga pasien bisa mendiskusikan keluhannya terlebih dahulu atau mendaftarkan kunjungan sebelum bertemu fisik dengan dokternya, sehingga dapat mengurangi terbuangnya waktu. Ketika melakukan registrasi melalui form, ada kolom keluhan yang bisa diisi, sehingga kita bisa mengelompokkan jenis sakit yang diderita, untuk mempermudah memasukkannya ke list dokter gigi umum, atau spesialis (tergantung kebutuhan dan kasus).

Ruang tunggu klinik saya disulap menjadi cafe, sehingga para pasien yang menanti tidak tegang. Dengan adanya cafe, pasien yang menunggu tidak perlu meninggalkan klinik bila ingin makan atau minum, tentunya yang disajikan harus makanan sehat serta minuman yang baik untuk gigi. Selain itu di Cafe tersebut juga ada free wi-fi agar para pekerja yang sibukpun tetap bisa bekerja di klinik saya. Di tengah ruanganpun tersedia perangkat komputer yang bisa digunakan secara bergantian bagi para pasien yang sedang menunggu selain tentunya majalah-majalah seperti yang biasa tersedia di ruang tunggu klinik dokter.

Untuk membentuk suasanya nyaman, ruangan klinik/cafe saya itu full music. Musik sendiri sudah terkenal ampuh dalam membuat tubuh menjadi rileks. Selain itu ruangan kliniknya juga dibuat menghadap taman dimana ada kolam kecil yang menambah kesan sejuk dan nyaman bagi pasien melalui bunyi gemericik air.

Karte pasien yang tidak ditulis secara manual, tetapi komputerisasi, sehingga data-data pasien tersimpan dengan baik dan dapat diakses hanya melalui 1 klik saja. Selain itu komputerisasi karte pasien juga dapet mempermudah bila pasien akan di konsul ke bagian lain karena semuanya telah terintegrasi. Tentunya di klinik saya itu, terdapat berbagai jenis spesialisasi dokter gigi, bukan hanya general practitioner saja. Tujuannya tentu saja mempermudah pasien agar tidak perlu pindah lokasi bila perlu mendapatkan tindakan lebih lanjut dari spesialis yang berwenang.

Selain itu bagi pasien yang membawa anak kecil tidak perlu takut, karena di klinik ini juga ada tempat bermain bagi anak-anak. Tempat bermain bagi anak-anak itu tentunya penuh dengan mainan dan buku bacaan yang mendidik bagi anak, tempatnya nyaman dan membuat anak-anak betah, tidak takut dan tidak ingin cepat-cepat minta pulang kepada orang tuanya.

Selain tempat bermain bagi anak, ruang klinik yang buat menangani pasien anak-anak, juga memiliki bentuk dan interior yang berbeda bagi pasien dewasa. Ruangan tersebut memiliki dinding yang dipenuhi cat/mural berbentuk binatang, tumbuhan, ataupun hewan bawah laut, dimana di langit-langitnya ditempeli bintang yang gemerlapan yang dapat menenangkan perasaan anak kecil yang hendak dilakukan perawatan.

Tapi untuk menjadi dentist yang memiliki dental clinic seperti ini tentunya diperlukan pengetahuan bahasa yang luas. Gak mungkin kalau harus membatasi pasien yang hanya orang Indonesia/harus bisa berbahasa Indonesia. Paling tidak bahasa Internasional yaitu bahasa Inggris harus dikuasai. Untuk itu saya perlu belajar bahasa inggris di EF agar dapat berkomunikasi dengan lancar sama pasien Internasional.

Dear judges @venustweets and @pitra, Now I’m writing my very own future story. There’s nothing impossible, and I’ll proved that again. Just like you said to me once mbok, “never stop dreaming and believing!” So, here I am. :)

* * * * * * * * * * * * * * *

Btw, walau sudah gugur dan ndak masuk 16 besar, tulisan ini beneran ingin saya wujudkan dalam waktu dekat, so… Kali-kali yang membaca ada yang tertarik mau ngasi sponsor, atau mau ngemodalin saya buka klinik… #banciSponsor :lol:

29 comments

  1. Ikarie Monitha says:

    satu lagi request-nya (Nanti kalau ada tambahan lg, dikasih tahu) ada t4 main untuk anak2x atau buku bacaan & semacamnya, apalagi kalau kliniknya jg buat anak2x. :)

  2. Triunt says:

    Amiiin, semoga terwujud ya mbak.
    tapi kalau dalam dunia nyata, saya pasti takut sama mbak Dita ini.
    Saya sejak kecil takut sama Dokter Gigi, palagi kalau dokternya Laki :(

  3. Z says:

    begitu baca, yg pertama terlintas di kepala… “buset, butuh modal berapa nih bikin klinik ky gini” :D

    good luck dita dalam mewujudkan mimpi2nya :)

Leave a Reply

CommentLuv badge