Technopreneur with #JeniusWay

Salah satu rangkaian #BrightspotxJeniusLive di Senayan City adalah berbagai talkshow dan workshop dengan materi yang beragam dan pastinya oke punya. Nah, acara apa sih ini sebenernya?

Brightspot market adalah event tahunan yang selalu ditunggu-tunggu kehadirannya, sejak tahun 2009 berupa bazaar yang mewadahi para anak muda yang memiliki usaha agar bisa berjualan langsung ke target market mereka selama 3-4 hari. Nah tahun ini Brightspot Market kolaborasi sama Jenius, menghadirkan rangkain acara yang oke banget, dan sesuai banget sama kita-kita para milenials (ngaku-ngaku muda nih).

Salah satu rangkaian acara yang saya tunggu adalah talkshow bertemakan TECHNOPRENEUR. Kenapa? Karena ada preneurnya… Halah.. Pembicaranya adalah anak muda yang piawai dan pakar di bidangnya masing-masing.

Pembicara perrtama adalah Lukas, salah satu founder Voyej, sebuah brand yang menjual Leather Goods. Lukas menceritakan perjalanan brand Voyej, brand yang awalnya di bentuk sebagai tugas kuliah di Prasetya Mulya tahun 2011 lalu, yang ternyata konsisten hingga saat ini. Salah satu keunikannya adalah menggunakan Natural vegetable tanned (vegtan) leather sebagai bahan baku utama. Nah bahan baku tersebut adalah daya jual utama Voyej, karena dibandingkan Raw leather, seiring ditempa waktu natural vegetable tanned leather akan mengalami evolusi warna menjadi lebih gelap, dan tergantung intensitas penggunaannya juga.

Lalu apa hubungannya dengan technopreneur?

Technopreneur, noun | tech.no.pre.neur
Definition: an entrepreneur involved with high technology.

Lukas berserta teman termasuk technopreneur karena sejak awal berdirinya, Voyej langsung memiliki website sendiri. Bukan sekedar website tapi e-commerce. Mereka ingin customer Voyej bisa langsung belanja disitu. Kenapa? Karena tidak ingin pelanggan merasa ribet harus chat dulu melalui aplikasi chat, atau DMan di social media, dll. Calon pembeli bisa langsung lihat foto produknya, harganya dan langsung melakukan transaksi di web tersebut.

Lalu apakah artinya Lucas n friends tidak menggunakan social media sebagai media “jualan” Voyej?

Voyej memiliki akun-akun social media untuk mendukung kelancaran penjualan mereka. Tidak dapat dipungkiri sebagai sarana marketing, tentunya sebuah brand harus bisa mengikuti kemana customer mereka pergi dan bermain, seperti twitter dan Instagram. Semua foto yang mau di post Voyej di IG adalah tematik, dan di kurasi banget supaya ngaruh ke sales (penjualan).

Pembicara selanjutnya adalah Fikri dari Bukalapak, tentunya masih ngobrolin Technopreneur. Menurut Fikri, Bisnis online menjadi salah satu jawaban bagi anak muda yang mau mandiri. Berdasarkan data, di tahun 2015 tren belanja online meningkat pesat.

#JeniusWay Technopreneur, yesterday at #BrightspotXJeniusLive. Fikri, Lucas and Diana talk about being a technopreneur.

A photo posted by drg. Dita Firdiana (@fairyteeth) on

Ingin usaha gak punya modal besar? Salah satu caranya adalah dengan bergabung dengan market place seperti Bukalapak. Apalagi di bukalapak memiliki divisi komunitas di 53 kota di Indonesia, yang akan mengakomidir kebutuhan para pelapak. Salah satunya dengan cara saling sharing tips and trick. Di Bukalapak, sesama pelapak tidak hanya berkompetisi dalam penjualan, tapi juga saling support sesama pelapak.

Nah pembicara terakhir adalah pembicara yang paling di tunggu-tunggu, tak lain dan tak bukan adalah Diana Rikasari. Berawal dari blogger menjadi seorang technopreneur sukses.

Diana sangat suka menulis dan suka banget fashion yang pastinya tak lepas dari dunia digital.

“Everything on digital seems easier”, menurut Diana Rikasari.

Kenapa memilih menjadi seorang technopreneur? Karena ternyata Diana sudah berdagang dari SMP, mulai dari menjual bingkai foto buatan sendiri, stiker, tali HP, dll. Dari dulu suka bikin sesuatu dan pada akhirnya di jualin. Akhirnya setelah 4 tahun ngeblog sejak 2007, Diana mencoba untuk kembali berdagang. Dengan bikin website e-commerce untuk sepatu UP! (@iwearUP) dan pastinya masih dan konsisten hingga saat ini.

UP!

Menurut Diana, kalau mau berdagang paling mudah dan murah lewat internet. Bisa melalui Instagram yang lagi ngetren banget, atau melalui market place, sedangkan kalau punya modal sedikit bisa bikin website. Apalagi saat ini provider untuk membuat website/e-commerce banyak banget, tinggal langganan bulanan atau tahunan. Diana merasa lebih mudah untuk berjualan ketika pertama kali memulai  dulu karena sudah punya follower di Blog dan Intagram sehingga ketika launching lebih mudah memperkenalkannya.

Nah setelah ketiga pembicara kita selesai sharing, saatnya masuk ke sesi tanya jawab. Sesi ini biasanya justru bagian yang paling seru, dan benar saja pertanyaannya seru-seru dan beberapa relate banget sama permasalahanku (gaya banget punya banyak masalahku). Gak bisa dipungkiri, sebagai pemilik brand fashion online (yang masih seiprit kiprahnya) tentu pengen nanya atau dengerin pertanyaan dari sesama technopreneur newbie.

Salah satu pertanyaan menanyakan problema yang sering di hadapi pembeli, sebagai brand fashion bagaimana mengatasi banyaknya pertanyaan di benak customer. Apakah size nya pas, warnanya sesuai dengan foto/gambar, kualitasnya, dll? Solusi dari Diana adalah dengan adanya fitur costumer service (CS) yang ngerti banget sama produk yang di jual, dan bisa memberikan konsultasi dan saran sebelum custumer akhirnya memutuskan membeli produk tersebut.

Salah satu saran dari Diana, beberapa tipe customer mencintai brand yang di mulai dari kecintaan terhadap foundernya (the people behind). Udah gak jaman orang beli barang karena brand nya, sekarang jamannya orang beli karena cerita di belakang brand tersebut. Baik tentang foundernya maupun tentang kisah yang di angkat dari brand tersebut. Jadi customer bisa relate sama sejarah band nya dan atau kisah foundernya.

The power of branding.

Diana tiap hari pakai sepatu UP!, di foto dan di posting media social pribadi. Sebagai owner, diri sendiri harus pake dulu, jangan cuma jual aja. You have to wear what you sell. Sedangkan kata Lukas dari Voyej, Puncaknya suatu brand ketika customer bisa ngomong ke orang lain tentang barang yang dia beli, dan menjadi evangelist brand tersebut.

Masih mengenai branding, menanggapi tentang maraknya fenomena endorse, sebagai seorang tehnopreneur sekaligus Influencer, Diana merasa jadi lebih paham “cara bekerjanya” tapi walau tentu sustainable. Kalau untuk marketing, ikutin saja cara yang sedang in, paling tidak untuk meningkatkan awareness dan penjualan. Sedangkan untuk Pemilihan endorser, pilihlah yang kategorinya sesuai sama brand kamu. Hati-hati milih endorser, bukan cuma sekedar follower banyak.

Kalau mengenai proses produksi, Ada tipe technopreneur yang menyediakan Ready Stock, ada juga yang harus Pre-Order terlebih dahulu. Tiap bisnis, pace-nya tergantung kapasitas owner dan disainer dari brand tersebut. Ada yang kelurain produk baru setiap season (6 bulan sekali, atau 3 bulan sekali), ada yang tiap bulan, bisa juga tiap minggu.

Diana sendiri dengan UP! awalnya membuat 15 pasang sepatu sebagai prototype lalu di foto, di upload, kemudian buka PO. Kenapa? Karena secara investasi tidak terlalu besar dan tidak ada stok ngangur di gudang. Lalu sebagai gimmick Diana suka memberikan hadiah kejutan kepada pembeli di dalam kotak sepatunya.

Sebagai technopreneur pasti ada saatnya down, nah gimana mengatasinya? Technopreneur butuh banyak kesabaran dan kekuatan. Kalau lagi down, inget-inget lagi, dulu ketika awal mulai bisnis, visi misinya gimana. Kalau dulu bisa semangat membara dan berapi-api masa sekarang jadi memble.

Landscape business tuh terus berubah. Innovate or die!

Kalau suatu brand mau terjun ke market place jangan lupa di cek dulu target market dari market place tersebut siapa? Agar brand image terus terjaga.

Saran terakhir, sebagai technopreneur kudu wajib belanja di jualannya para technopreneur lain. Kenapa? Untuk belajar, jangan-jangan cara jualan kita udah ketinggaln jaman, kulik fitur-fitur baru, atau fitur dari brand kompetitor.

Seru banget ya sesi sharing dari 3 technopreneur muda ini. Sangat menginspirasi, untuk kembali “memanaskan” brandku yang sempat tertidur. Apalagi di jaman sekarang, segala transaksi perbankan sangat mudah sekali, thanks to Jenius. Sebagai penjual maupun pembeli merasa terfasilitasi banget. Mau transaksi online oke apalagi ada fasilitas e-card, gak usah khawatir kartu kredit di bobol hacker katena saldo nya kita yang menentukan. Nagih pembayaran ke customer juga gampang banget, tinggal pakai fitur Pay Me.

Jenius isn’t it!

Nah, mumpung masih ada satu hari, yuk besok cuss ke BrightspotxJeniusLive di Senayan City, bisa belanja dapet cashback, makan sekaligus Split Bill sama Jenius, kemungkinan di jajanin barang idamanmu dan siapa tahu beruntung dapet doorprize iPhone 7!

2 comments

Leave a Reply to lindaleenk Cancel reply

CommentLuv badge