#DearL, Buka Lembaran Hati yang Baru

Dear L,

Gimana hari Senin mu? Kudengar kamu diklat ya mulai hari ini hingga tujuh minggu ke depan. Semoga materinya menyenangkan dan tidak membuatmu tertidur. Belajar lagi, apapun bentuk dan namanya, selalu menyenangkan buatku, entah kalau bagimu. Hari ini aku sibuk sekali di sekolah, sehingga aku baru pulang jam segini. Tapi seru, karena tadi kami memasuki materi pecah pola atasan (baju). Tadinya aku hampir akan menulis, ingin membuatkanmu baju, lalu aku teringat, pola yang sedang kupelajari adalah pola baju wanita. Hahaha…

Di sekolah, ternyata yang ulang tahun di tanggal 10 Februari kemarin bukan aku saja, tapi berdua dengan Valentina temanku. Jadinya kami patungan berdua mentraktir teman-teman sekelas. Seru sekali tadi, kami makan PHD sampe begah dan kenyang banget. Gimana gak kekenyangan, pizza ukuran jumbo 4 loyang di makan hanya sekitar 15 orang… *burp*

Continue reading →

#DearL, Hunting Foto Yuk

Dear L,

Hari ini surat ku pendek aja ya.. Kan kita sudah menghabiskan waktu selama sehari ini seharian bersama. Sampai aku udah kehabisan kata-kata mau berbagi cerita apalagi. Hari ini seru sekali ya, kita mencari kamera menjelajahi pasar baru, berjuang menerjang kios-kios pinggir jalan naik mobil udah kayak adegan di film action gitu, nyebelinnya mas-mas itu narik uang masa buat bantuin kita lewat, padahal itu kan jalan umum ya seharusnya. Anyway, sayang kamera yang kamu mau warnanya gak ada. Kapan kameramu mau aku balikin, nanti kita hunting foto bareng.. Apa besok aja pas Imlek? Eh tapi biasanya kalau imlek hujan ya…

Eh, aku jadi ingat.. Memang socmed yang mempertemukan kita ya. Masuk milis yang sama, saling follow di twitter, temenan di FB, and so on.. Menjawab pertanyaanmu, aku gak mungkin menghapus seluruh akun sosial mediaku, karena buatku fungsi sesungguhnya adalah untuk berbagi.. Kalau menurut slogan Akber nih ya.. Berbagi bikin Happy. So.. Kenapa musti khawatir untuk berbagi kebahagiaan.. Iya tho?

L, makasih ya udah nemenin aku beli kamera, kalau nanti kamu mau beli kamera dan ingin ditemani jangan lupa ajak aja aku lagi.

Sincerely,

D.

#DearL, Don’t Judge Me!

Dear L,

Aku membaca suratmu sambil tersenyum kecil. Aku tipe orang yang sangat terbuka, ketika aku menyukai seseorang (bahkan belum cinta ya..) aku akan dengan senang hati menyimpan foto-foto atau bahkan videonya di galeri foto handphone ku, kalau di wallpaper tentunya disiapkan untuk diisi oleh orang yang sangat dekat di hati. Tidak harus selalu pacar, bisa keluarga, sahabat, atau bahkan teman sekolah. Tapi kalau pas punya pacar, udah pasti walpaper dan bahkan background whatsapp ku pun, memajang wajahnya… <3 Maaf saat ini fotomu tidak terpampang di wallpaper iPhoneku, kecuali kamu ingin jadi someone specialku…

Ah karena kamu menyinggung soal share di social media, aku jadi teringat betapa social media sedikit banyak mempengaruhi kehidupan kita. Bagaimana social media mempengaruhi pola pikir seseorang dalam menilai orang lain. Aku sebagai seseorang yang hubungannya pernah beberapa kali gagal karena socmed, akhir-akhir ini sering merasa ingin diam saja. Gak ada hasrat untuk cuap-cuap terlalu sering lagi. Aku suka merasa serba salah. Socmed itu kan hanya media, tidak berarti sesuatu yang kita tuliskan itu lantas menggambarkan pribadi kita. Lalu kalau dibilang gitu, nanti di cap bohong, atau pencitraan.. Pencitraan itu sendiri kan gak harus selalu berkonotasi negatif! Aku jadi males.

Continue reading →

#DearL, Keeping Memories Alive

Dear L,

Sekarang aku bingung mau membalas apa, tadi sudah kutulis balasan suratmu panjang lebar kemudian mati listri dan draftnya tidak tersimpan. *ngeles aja terus Dit*. Aku coba tulis ulang ya…

Setelah membaca suratmu kemarin, aku lantas berfikir bahwa ternyata barang-barangmu banyak juga ya yang masih ada di aku. Celana panjang coklat yang waktu itu aku pinjam untuk keperluan syuting temanku, dimana aku mendadak didaulat jadi make up artis dan fashion stylist-nya, serta kamera DSLR Nikon mu yang sudah hampir genap setahun nginep di kamarku, untung gak aku jadiin bahan kelonan. #eh

Kalau menuruku lebih mending kamu beli kamera daripada beli sepeda. Karena Car Free Day sekarang macetnya ampun-ampunan. Bukan macet oleh kendaraan bermotor, tapi oleh lautan manusia, sepeda dan abang-abang jualan. Sedangkan sepengetahuan aku, akhir-akhir ini kan kamu udah mulai sering traveling, jadi mending beli kamera aja. Tapi mungkin belinya yang lebih ringan dan kecilan kali ya, apakah kamera prosumer atau mirror-less, atau apalah itu istilahnya, aku juga kurang mengerti. Nanti kalau jadi beli kamera bareng ya, sepertinya aku juga akan membeli kamera.

Continue reading →

#DearL, Yuk Hidup Sehat

Dear L,

Jalanan Jakarta apalagi di Malam Sabtu tidak pernah bersahabat, mungkin mereka semua berfikiran sama dengan kita, ingin lekas-lekas pulang, atau lekas menuju tempat keramaian terdekat untuk sekedar melepah lelah setelah bekerja selama 5 hari. Hal itu pulalah yang menyebabkan daku terlambat nyampe di biskop dan ketinggalan filmnya hampir setengah jalan. Aku gak sabar menantikan entah Monorel atau MRT yang katanya akan segera dilanjutkan proyeknya itu, mungkin jalanan ibu kota ini akan tidak sekejam sekarang. Kalau hendak janjian, susah sekali untuk memperkirakan waktu yang tepat untuk berangkat bila ingin tiba di tempat tujuan on-time.

Aku masih ingat, kebimbangan kita dalam memutuskan untuk memilih cemilan apa malam itu sesusai nonton, seperti Putri yang langsung tau ia hendak memesan apa, akupun begitu. Apa karena kami perempuan ya? Sehingga senang nyemil. *abaikan* Kita hampir saja makan besar, kalau saja tidak ingat sedang berdiet. Eh, katanya kamu mau diet.. Kalau diet jangan makan malem donk :p Karena persoalan menu waktu itu membuatku berfikir, akupun ingin kembali menerapkan hidup sehat, setelah belakangan ini aku merasa mekar dan gemuk seperti babi. Apalagi sehari sebelumnya, pas kelas Akber, aku sempat mendengar cerita mas Ahmad soal dietnya dia.

Continue reading →

#DearL, Bantu Aku Bangkit

Dear L,

Suratmu benar-benar memotifasiku untuk kembali membaca, tanpa sadar kakiku sudah melangkah tanpa tau arah dan masuk ke toko buku. Disana aku merasa bahagia, kamu tau kenapa? Soalnya satu-satunya kegiatanku kalau masuk ke toko buku akhir-akhir ini bukanlah untuk mencari buku-buku yang hendak ku baca sambil menghabiskan waktu luang di sore hari ditemani secangkir teh hangat, melainkan untuk membeli gunting, karton, kertas warna-warni, plastik bening, dan beragam alat untuk tugas sekolahku. Membagi sedikit waktu untuk menengok rak bukupun aku tak sempat. Kalaupun sempat, aku merasa sayang membeli buku, disaat aku gak yakin punya waktu untuk membacanya.

Tapi, suratmu merubah segalanya. Aku membeli 4 buah buku. Itu buku-buku pertama yang aku beli di tahun 2013 ini. Memang genre nya tidak seberat buku-buku bacaan Icit dan Ipul, juga tidak setebal bacaanmu. Tapi aku senang…. Sudah lama sekali jari-jariku tidak membalik-balik halaman buku selain halaman buku pelajaranku.

Continue reading →