“Sign” or just your Ego?

Kalau berdoa, kan selain minta di kabulkan, kita biasanya minta diberi petunjuk sama Allah SWT.. Tapi manusia kan pada dasarnya hanya melihat yang ingin dia lihat, mendengar apa yang ingin dia dengar dan merasa apa yang ingin dirasa.. So, gimana kita bisa yakin bahwa yang kita lihat/rasa/dengar itu petunjuk atau sekedar ego kita? :)

Begitulah kira-kira secuplik pertanyaan yang muncul dipikiran Dita sore beberapa hari yang lalu. Lalu sekedar iseng melempar pertanyaan itu ke twitter dan facebook, tak dinyana, dijawab oleh @kapkap. Begini jawaban Kapkap:

You just… Knew. Ga ada papan yang bertuliskan: “EH, INI PETUNJUKNYA LHO!” atau tiba-tiba dari langit jatoh buku tulisannya “WALKTHROUGH”. Kita itu ya entah gimana tau. Di dalam hati dan kepala, kali ini kompakan, dua-duanya bilang, “ini dia nih.”

Lupa pernah baca di mana, tapi pernah ada tulisan kalo, “a man with a faith, somehow, is the strongest man.” Soalnya kalo urusan keyakinan ini, kita ya cuma bisa yakin. Kalo nantinya ada bukti yang memporakporandakan keyakinan kita, ya jiwa raga dan pikiran harus siap. 

Dan soal petunjuk ini berkaitan banget sama keyakinan. Nanya ke diri sendiri sih, “lu yakin ga?” “Ini beneran atau cuma sekedar iklan numpang lewat?” Kasarnya, keyakinan ini mirip judi. Dan kadang kita harus ngambil yang namanya a leap of faith/lompatan keyakinan. Macem adegan di pilem Indiana Jones & The Holy Grail waktu dese mau jalan nyeberangin jurang itu  Pokoknya lillahita’ala nyerahin semuanya ke Allah. Selamet atau ga, ya moga selamet. Kalopun nggak, moga di neraka ga lama-lama *sotoy*

Tapi mungkin ada sedikit hint soal petunjuk ini. Soal sabar atau nggak  Kadang kita suka berdoa terus minta supaya dikasih petunjuk. Berdoa dan berusahaaaa terus. Lama-lama sampe nanya ke Allah, “Allah, aku udah sabar nunggu petunjuk nih. Kapan Engkau ngasih petunjuk?” Kalo masih nanya kaya gitu, gw rasa, belum bisa dibilang bersabar. Sabar itu… Egimana ya. Akhirnya bener-bener ngelepasin, ga mempertanyakan, ga mikirin lagi, ga riweuh lagi. Murni ngelepasin (dan beda tipis dengan lupa XD) tapi nanti ujung-ujungnya *tuing* eh dapet 

Dan juga kita dikasih satu hint: Shalat istikharah XD Ya abis itu ya bersabar deh 

BTW, maap jadi panjang ^^;

Well, Jawaban panjang lebar dari Kapkap sebenernya sudah menjawab separuh lebih dari pertanyaan itu, walau bukan itu sih inti dari pertanyaan Dita… Kapkap menjawab benar sekali, kalau saja pertanyaan Dita adalah tentang jodoh. Seberapa yakin kita bahwa dialah orang yang tepat yang akan mendampingi hidup kita sampai akhir hayat.

Kalau mau di telaah, sebenernya at some point jawaban di atas juga bisa di aplikasikan ke hal lain selain jodoh, seperti ” a leap of faith/lompatan keyakinan”. Beranikah kita mengambil “leap of faith” & lompat ke dalam jurang lillahita’ala hanya demi mengambil resiko yang kita ga tau ujungnya gimana? Istilah kata, mau jadian sama orang, gak kenal sama orangnya, bersediakah kita meluangkan waktu untuk saling mengenal, walau ada resiko gak cocok atau terkejut atas sifat-sifat, perangai, atau bahkan ke pola pikir yang berbeda? Atau mau buka usaha, bersediakah kita berusaha yang terbaik walau belum tentu kenal medannya, mau nanti jadi bisnis gede, atau malah bangkrut kan kita gak bisa menebak semuanya dari awal. ya Bismillah aja mari di mulai.

Lalu, seberapa besar usaha yang kamu kerahkan sebelum akhirnya memutuskan untuk menyerah? Seberapa besar SABAR itu bisa dibilang sabar? Someone said, kalau sabar gak ada batasnya. NAHLOH. Gimana dengan orang yang berkata “Sudah habis kesabaranku.” (?) Terus terang, Dita sendiri juga termasuk orang yang sumbu sabarnya pendek, tapi buat orang-orang terdekat, Dita selalu berusaha untuk lebih sabar, untuk lebih berusaha ngertiin mereka.

Tapi memang benar, kalau jawaban kadang datang ketika kita sudah benar-benar melepaskan, gak mempertanyakan, gak memikirkan dan gak riweh lagi sama hal yg dipertanyakan.. But,  how can we really know?

Nah, kita kembali ke awal ya.. Pertanyaan sebenarnya adalah:

Ketika kita (Kita? Lo aja kali Dit!) begitu egoisnya dalam menanggapi hal-hal yang ada di sekeliling kita, bagaimana kita bisa yakin akan sesuatu yang terjadi atau pertanda yang numpang lewat di depan mata kita (bisa jodoh, bisa tentang pekerjaan, bisa tentang segala macem deh) itu adalah jawaban atas doa kita selama ini, kalau kita cenderung melihat dan merasa apa yang ingin kita rasa. Manusia itu adalah mahluk yang pintar dalam mengkait-kaitkan sesuatu yang belum tentu ada hubungannya. Seberapa yakin kamu (aku, kita) akan jawaban dari semua pertanyaan itu benar terjawab atau hanya omong kosong dari pemuasan ego belaka?

Apalagi untuk orang-orang tertentu yang kadang kalau nanya gak butuh jawaban, tapi butuhnya pembenaran. :)

9 comments

  1. Chic says:

    hanjrit dalem! *peluk Dita*

    rasanya aku pernah mengajukan pertanyaan yang sama kapan tau, kira-kira gini : Do you know what makes life confusing? It’s when you can’t determine if things are signs for you to give up or simply a test to see if you can hold on longer.

    Sekarang sih daku memilih giving up sekaligus bertahan. Eeeeeng gimana ya ngejelasinnya… :lol: Pokoknya apapun itu, harusnya pilihan itu membuat kita lebih kuat. Mau itu beneran jawabannya, atau cuma sekedar pemuasan ego belaka. Intinya, it should makes us stronger. Bukan malah membunuh kita pelan-pelan. :P
    Chic recently posted..Siem Reap Journey : Between Culture and Night Life

  2. dykapede says:

    Dita sendiri juga termasuk orang yang sumbu sabarnya pendek, tapi buat orang-orang terdekat, Dita selalu berusaha untuk lebih sabar, untuk lebih berusaha ngertiin mereka. <– digarisbawahi

    Kalau aku Dyka maashobirin mba dith. Yang memang untuk ini itu selalu melihat cermin dan berkata lakukan sekarang atau tidak sama sekali.
    Pernah beberapa tahun yang lalu diduakan oleh besarnya rasa sayang untuknya. #nyesek, tapi Tuhan melihatku dan memberiku seorang peri dari proses kebesaran hatiku. Hehehe *kenapa aku jadi cerita disini* :-)
    dykapede recently posted..UMP 2,2 juta, dan kamu masih Gini Gitu dan Gitu Gitu Saja

  3. oelpha says:

    daku sempet ketemu orang yang bikin merasa “he’s the answer for my prayers”, tapi ketika trus berusaha lebih yakin dengan sholat istikhoroh, ternyata jawabannya tidak demikian. kemudian bingung setengah mati. kemudian memilih untuk percaya dengan jawaban (yang saya yakini direct) dari Tuhan. sekarang memilih untuk go with the flow. sambil tetap percaya, ketika memang bertemu orangnya, Tuhan akan beritahu. i’d just knew.
    oelpha recently posted..Tentang Life Of Pi

  4. Rere @atemalem says:

    buat jodoh, cuma sekilas aku rasain kayak petunjuk, “Noh, dia tuh orangnya”
    Sisanya, bertaun-taun adalah perjuangan dan pembenaran untuk perjuangan itu
    Sekarang, kalau ada apa-apa, jadi nurut ke belakang, “sayang ahh yang kemaren udah dilewatin”

    entah jalan yang diambil ini bener atau gak, aku usahakan ini benar (lagi-lagi pembenaran).
    Rere @atemalem recently posted..Tentang Mantan yang Pamit Kawin

  5. Pitra says:

    Pertanyaannya berat.. meski gw juga selalu berpikir yang sama..
    Kadang naluri juga bermain menentukan jawaban sih. Sekarang tinggal gimana ngasah naluri itu. Ada beberapa hal yg mungkin kita bisa cepat menentukan jawaban, karena naluri kita sudah diasah untuk itu. Misal: ah pekerjaan ini gak akan ada hasilnya, pengalaman dulu pernah coba serupa nggak menyenangkan.
    Namun untuk beberapa hal yang naluri kita jarang diasah, pasti susah mengambil keputusan. Termasuk misalnya dalam menentukan “ini jodoh gw atau bukan ya?” Kalo udah pengalaman tentu lebih mudah. Hihihii sayangnya khusus untuk hal itu kita nggak bisa punya pengalaman banyak yaa :P
    Paling hanya bisa berdoa dan berharap kalau apa yang kita pilih itu benar. Atau minimal layak untuk diperjuangkan.. :P
    Pitra recently posted..Kehidupan Kota Chengdu

  6. Indah Juli says:

    Hihihi, benar Dita, kadang kita nanya nggak perlu minta jawaban karena kita sudah tau jawabannya akan seperti apa.
    Soal jodoh, ini berdasarkan pengalamanku ya, susah-susah gampang. Pacaran lama nggak nikah2. Nggak pacaran, cuma temanan tau2 diajakin nikah. Aku nikah setelah 2 adikku menikah lebih dulu. Yakin saja, Tuhan menyediakan jodoh kita tapi jalannya panjang dan berliku menuju persatuan:)

Leave a Reply

CommentLuv badge