Rejeki Itu Terletak dalam Restu Mama

Saya mahasiswa kedokteran gigi angkatan 2002, iya tau itu sudah 8 tahun saya kuliah dan masih belum lulus juga. Lulus S1 dalam waktu 7 semester, dengan IPK 3 kurang sedikit sekali. Tentu ke-2 orang tua saya bangga, dan mereka berharap saya bisa menyelesaikan jenjang pendidikan berikutnya, yaitu kepaniteraan klinik juga dalam waktu sesingkat-singkatnyanya. Saya sendiri tentu juga mengharapkan hal yang sama. Apalagi saya sempat mendapatkan beasiswa dari Listerine di tahun pertama kepaniteraan klinik saya. Tetapi seperti yang kita ketahui bersama kadang kenyataan tidak selalu berjalan seperti yang kita inginkan.

Setelah 3 tahun di kepaniteraan, saya mulai mempertanyakan banyak hal, seperti apa arti hidup ini, salahkan pilihan dan keputusan yang pernah saya ambil dan lain sebagainya. Karena satu dan beberapa hal, saat itu saya merasakan tekanan dalam hidup. Saya merasa gamang dan bimbang, apakah memang saya ditakdirkan jadi dokter gigi? Apalagi melihat beberapa teman dekat saya sudah sukses menyelesaikan kepaniteran dan jadi dokter gigi. Padahal namanya juga kehidupan, yang rodanya selalu berputar, harusnya saya tidak terlalu mengambil hati. Saya seharusnya tetap berjuang menyelesaikan apa yang telah saya mulai. Tapi disanalah jiwa pemberontak saya meronta. Selama 4 semester kemudian saya tidak pernah masuk kampus buat menyelesaikan kepaniteraan saya. Saat itu saya mencoba terjun kedunia lain yang sebelumnya tidak saya geluti.

Selain beralasan karena bosan, saya juga ingin mencoba mencari uang sendiri dengan bekerja diluar kedokteran gigi. Ditambah lagi keadaan agak sedikit kacau dan Papa sayapun sudah pensiun, semakin memantapkan saya untuk tidak melanjutkan kepaniteraan karena tidak ingin menyusahkan orang tua. Terhanyut dalam hal-hal lain yang saya jalani, menjadi dokter gigi perlahan sudah saya hapus dari ingatan saya. Sudah melupakan sama sekali passion saya dulu, cita-cita saya dulu yang ingin jadi spesialis Prostodonti, impian saya punya klinik dan cafe yang disampingnya berdiri butik hasil rancangan saya sendiri, sudah saya kubur diingatan terdalam saya.

Untuk beberapa orang-orang yang kenal baik sama saya, pasti tau sifat saya yang keras kepala. Bila saya sudah berkata A, sampai matipun akan tetap A. Karena saya tipe orang yang teguh pada pendirian ataupun pendapat pribadi, sekalipun itu bertentangan atau berbeda dengan pendapat mayoritas masyarakat lainnya.  Selain itu saya juga terkenal vocal dalam mengungkapkan apa yang saya rasakan, walau itu terkadang menyakiti diri saya sendiri terlebih orang lain.

Ada masanya hampir setiap hari saya berantem sama Mama, yang tentunya masih menginginkan saya menjadi seorang dokter gigi. Mama selalu berkata bahwa sebagai satu-satunya anaknya, dia ingin melihat saya menjadi dokter gigi. Permintaannya cuma satu itu saja, dan dia terus mempertanyakan kenapa saya tega tidak meluluskan permintaannya tersebut. Walau akhir-akhir ini, Mama sudah lebih lunak dan mengalah dengan tidak terlalu memaksa saya lagi, sejenak saya bahagia karena berfikir Mama mengikhlaskan saya untuk memilih jalan saya sendiri. Terlebih ketika Dita memutuskan untuk meninggalkan semua masa lalu dibelakang, maka seharusnya itulah yang terjadi.

Bagi saya, sekali berkata tidak, saya akan selalu berkata tidak. Sekali saya memutuskan sesuatu saya tidak akan menjilat ludah saya sendiri. Sampai pada suatu titik dimana Papa meminta saya untuk melakukan sesuatu untuknya, yang bagi saya itu berarti saya harus pindah ke Batam (yang waktu itu sempat membuat heboh itu loh), dan menjadi penerusnya menjalankan perusahaan keluarga. Saya sedari dulu sudah sadar sepenuhnya, bahwa menjadi anak satu-satunya itu berarti harus siap menanggung resiko apapun juga. Saya tidak punya saudara laki-laki yang bisa meneruskan usaha keluarga. Toh selama ini juga kurang “laki” apa saya? Sudah lama, saya meminta agar papa meminang saya untuk jadi pewaris perusahaannya tapi Papa selalu menolak, dengan alasan saya perempuan, bahwa pabrik/usahanya bukan sesuatu yang layak dipegang seorang perempuan. So, keputusan tersebut tentu saja like a dream come true. saya sangat bersemangat menanti kepindahan saya ke Batam, apalagi Mama tampak mensupport saya.

Hingga pada suatu hari mendekati rencana kepindahan, Mama mengungkit kembali keinginannya melihat saya disumpah jadi dokter gigi. Mama tiba-tiba tidak merestui saya ke Batam kalau tidak menamatkan dokter gigi dulu. Kami kembali bertengkar dan berdebat, dan saya tentu saja masih kokoh pada pendirian saya. Saya malah lebih memilih kalau kampus menDrop Out saya saja, agar pilihan hidup saya lebih mudah. Toh saya sudah tidak menjalani kepaniteraan selama 4 semester tanpa mengambil cuti resmi.

Saat itu sahabat-sahabat saya bahkan telah berani terang-terangan meminta agar saya melelang segala alat kedokteran gigi saya yang lumayan lengkap sebagian hasil hadiah beasiswa dari Listerine. Para sahabat saya tidak segan melakukan itu karena mereka tahu bahwa saya lebih bahagia dengan hidup saya sekarang.

Tetapi, entah apa yang merasuki saya. Everywhere I go, I see the sign. Entah tanda apa itu, tapi yang jelas tanda itu membuat saya befikir. Apakah keputusan saya selama ini sudah benar? Apakah yang saya lakukan ini yang paling tepat bagi masa depan saya? Apakah yang saya lakukan ini dapat membahagiakan orang tua saya? Terus terang saya memang sudah bekerja. Disini dan disana, freelance dan partimer di berbagai tempat dan bidang, yang kadang membuat tercengang orang yang bertanya, karena tidak ada nyambungnya sama latar pendidikan saya sama sekali. So, saya senang karena tidak harus meminta uang lagi sama orang tua saya. Lalu kenapa saya sekarang menjadi bimbang? Sampai akhirnya, disalah satu sholat, saya tersungkur dan menangis. Apalah artinya saya? Apalah hebatnya saya? Kalau membuat Mama bahagia saja saya tidak bisa. Selama hati Mama tidak bahagia, hidup saya pun tidak akan bahagia bukan? Mama setiap hari sholat tahajud, katanya demi melembutkan hati Dita agar memenuhi keinginannya. Masa iya saya tega?

Sampai pada suatu titik, Saya merasa malu sama beasiswa yang pernah saya terima. Saya malu sama alat-alat kedokteran gigi milik saya dirumah yang hampir lengkap sepenuhnya, yang saya cicil pelan-pelan dari titik darah dan keringat sendiri semenjak semester awal kepaniteraan klinik. Saya malu sama karya ilmiah saya yang tercetak di Asia Pacific Dental Congress Journal, apa kata orang kalau suatu saat mereka mengetahui bahwa sang penulis karya ilmiah tersebut menyerah ditengah jalan dan tidak melanjutkan profesi dokter giginya?

Akhirnya saya memutuskan buat sholat tahajud dan istikharah. Bagi saya yang sholatnya aja masih bolong-bolong, sholat tahajud merupakan suatu anomali. Dalam sholat itu, saya meminta tolong beri petunjuk. Bila saya memang masih ditakdirkan buat jadi dokter gigi, bila memang itu jalan hidup saya, tolong beri tanda dan petunjuk. Dan mudahkan jalan saya buat meneruskan kepaniteraan klinik tersebut. Bila memang bukan takdir saya buat jadi dokter gigi tolong berikan tanda yang jelas, semisal di DO langsung atau apalah.

Berbagai kejadian setelah itu menunjukan kalau saya memang harus membahagiakan Mama dengan menjadi dokter gigi. Ketika saya kembali menginjakkan kaki dikampus yang telah hampir 2 tahun saya tinggalkan, saya terus diberikan kemudahan oleh Allah SWT. Saat ini saya memang belum jadi dokter gigi, tapi paling tidak saya sudah kembali ke jalan yang benar, kembali meneruskan kepaniteraan saya yang sudah saya tinggalkan. Segala sesuatu seperti dimudahkan, bukan hanya masalah kampus. Banyak hal lucu lain yang terjadi setelah itu, baik dalam kehidupan sehari-hari ataupun dalam pekerjaan. Pas banget sebelum saya kembali aktif di kepaniteraan klinik, kontrak kerja saya di kantor lama habis. Lucunya, setelah saya berusaha memenuhi keinginan Mama, banyak tawaran pekerjaan masuk. Bahkan jauh lebih banyak dari ketika saya fokus bekerja dibidang tersebut. Sekilas saya heran, angin apa yang bertiup? Kok tau-tau saya bisa mendapatkan pekerjaan bertubi-tubi, padahal sebelumnya tidak seperti itu.

Belakangan baru saya sadar, kalau rejeki itu terletak dalam restu mama. Semenjak saya memutuskan untuk meneruskan kepaniteraan seperti keinginan mama, pintu rejeki terbuka lebar untuk Dita. Saat ini saya bahagia, karena bisa membahagiakan mama seperti keinginan mama selama ini, juga dari sisi saya tidak kehilangan sumber keuangan yang selama ini saya pikir bakal hilang bila saya melanjutkan kepaniteraan klinik.

Sekarang saya bahagia dengan pilihan saya yaitu memilih meluluskan keinginan terbesar mama saya. Semoga Dita bisa lekas menjadi dokter gigi beneran (Juni ini insyaallah), dan setelah itu, Dita akan memberikan periksa dan konsultasi gigi gratis untuk kalian semua teman-teman saya, tapi kalau ada tindakan bayar yaaa… Secara udah gemes juga kalau ngeliatin gigi kalian yang kadang ada banyak masalahnya,  gemes karena saat ini belum legal buat menangani secara langsung, padahal tangan udah gatel :p

So… next time we’ll met at Dental Clinic 2.0 rite? ;)

Btw, anyway busway, Dita Sarjana loh, sejak 2006 lalu… Yang belum itu Profesi Dokter Gigi nya, soalnya banyak yang masih mempertanyakan status ke sarjanaan saya bagi yang gak paham tentang kuliah kedokteran sama kedokteran gigi. Jadi sekarang gelar nya baru SKG., belum jadi drg. Kalau kedokteran umum itu SKed. dulu baru jadi dr.

———————————-

Oh, well sebenarnya postingan ini Dita buat untuk diikutsertakan dalam majalah Cita CintaWriting Contest bulan Januari lalu, tapi sama seperti nasib postingan Dentist 2.0 yg terkurung dalam batasan jumlah kata, DAN yang ini jauh melebihi 300 kata yang diwajibkan, akhirnya saya batalkan dan diputuskan untuk ditulis di blog saja :lol:

41 comments

  1. guru rusydi says:

    ternyata kita satu angkatan ya. saya lulusan sma taun 2002. kuliah saya gak muluk2, easy going aja, tetep dengan idealisme, tetap dengan aktivitas, akhirnya berlabuh di profesi yang saya harapkan. menjadi guru SD. yang penting tetep semanget kawan. live is strugle, kata bule

  2. mursid says:

    suerr tulisan ini menyenangkan buat dibaca..
    semangat ya Kak.. semoga ntar jadi dokter yang baik hati dan tidak sombong..halah..
    hehehew..

  3. Ikarie Monitha says:

    Bismillah, Smg dmudahkan dalam menjalankan apa yg terbaik buat Dita dr Allah. Amin. Insya Allah, doa dan restu orang tua akan didengar Allah.

  4. Pandu says:

    Betul sekali, perjuangan kepaniteraan klinik itu sangat berat..
    Masuk FKG saja sudah susah, keluarnya jauh lebih susah..
    Tulisan mba’ Dita benar2 menginspirasi saya, kedepannya kita harus senantiasa mencari ridho dari orang tua..

  5. Pingback: Who Am I?
  6. pratama says:

    saya mau berbagi cerita dengan kalian semua, saya
    adalah mahasiswa kedokteran UI. Dulu waktu saya lulus sma dan mendaftar
    fakultas kedokteran sebanyak 3 kali berturut-turut, melalui jalur SNMPTN dan
    alur kerja sama. Namun sama sekali saya tidak bisa lulus. Dan itu membuat saya
    berkecil hati atau kecewa.

    Dengan semangat dan dukungan orang terdekat saya akhirnya
    saya mendaftar untuk yang ketiga kalinya melalui jalur SNMPTN dan alur kerja
    sama, dan tidak lulus lagi. Hingga akhirnya saya sempat berkecil hati, sampai
    aku mengira akan kehilangan arah tujuan untuk masa depan saya.

    Dari sinilah saya selalu mencari informasi dari beberapa
    teman dan sahabat saya untuk memberikan masukan serta arahah agar aku bisa
    kuliah di fakultas kedokteran. Akhirnya saya diberikan Salah satu teman dari
    teman saya memberikan Saya NOMOR HP untuk saya Hubungi, hingga saya langsung
    menghubungi No HP tersebut, aku menelepon No HP itu sebanyak 2 kali baru bisa
    terjawab, akhirnya saya berbicara dan menyampaikan keluhan saya selama ini.

    Dia merespon pembicaraan saya dan saya diberi petunjuk Untuk
    mengikuti 1 kali tes lagi, tapi bukan melalui jalur SNMPTN dan alur kerjasama.
    Penyampainyannya begini kalau memang adik mau saya bantu dengan janji
    kelulusan, maka saya akan bantu, tapi dengan 1 catatan adik harus menuruti apa
    yang akan nantinya saya arahkan, DAN SAYA JAWAB IYA SAYA SIAP, akhirnya dia
    menyuruh saya UNTUK MENGIKUTI JALUR KERJASAMA. Dan Saya jawab bukankah melalui
    jalur itu harus membayar terlalu banyak, katanya YA benar yang adik bilang,
    bahkan bisa sampai membayar ratusan juta. Tetapi adik tidak usah khawatir, saya
    bisa meluluskan adik dengan pembayaran hanya sebesar Rp. 20.000.000, saya
    menjawab bukankah biaya itu sangat sedikit, untuk jalur nonsubsidi, Ya adik
    memang benar apa yang adik bilang,

    Dan saya jawab kalau biaya segitu pastinya saya sangat mau.
    Singkat cerita, hingga akhirnya berkat dia saya dinyatakan LULUS fakultas
    kedokteran UI yang saya idamkan. Dan itu menjadi rasa syukur yang amat mendalam
    bagi saya.

    Dan darisinilah saya mengetahui kalau orang yang membantu
    saya hingga LULUS, adalah PEJABAT DIKTI DARI PUSAT, Direktorat Pembelajaran dan
    Kemahasiswaan Ditjen Pendidikan Tinggi yang membidangi bagian kemahasiswaan.

    Dia Adalah Kepala Subdirektorat Kemahasiswaan DIKTI.

    Bpk Dr. Widyo Winarso

    Ini No Hp-nya 0857-5619-0157.

    Anda mau seperti saya yang bisa kuliah di fakultas
    kedokteran, langsung saja m’hubungi No hp Bpk Dr. Widyo Winarso, Semoga beliau
    bisa membantu kelulusan anda seperti beliau meluluskan saya dengan hanya
    mengeluarkan biaya sebesar 20 juta saja. Di daerah manapun kamu mau kuliah.

    Semoga bermanfaat.

Leave a Reply

CommentLuv badge