Produk Budaya yang berbasis Lingkungan

Kemarin sambil jaga saya iseng browsing-browsing batik untuk project saya yang lain. Halaman demi halaman ditelusuri baru saya kemudian ngeh kenapa ada batik yang mahal banget, mahal aja dan murah. Terlepas dari proses pembuatannya yang secara ‘tulis’, ‘cap’ dan ‘print’, ternyata proses pewarnaannya juga dapat mempengaruhi kualitas dan harga jualnya. Selama ini mungkin kita tidak terlalu memperhatikan bagaimana cara para pengrajin batik itu mewarnai kainnya agar dapat memiliki warna-warna yang sering kita lihat itu. Fokus utama kita ketika membeli batik adalah jenis pembatikannya.

Batik merupakan kerajinan khas Indonesia yang sudah diakui dunia. Seni kerajinan batik adalah teknik melukis di atas kain yang menggunakan malam sebagai tintanya dan canting atau cetakan yang terbuat dari tembaga sebagai alat lukisnya dengan motif-motif tertentu yang memiliki kekhasan. Teknik ini dikenal sebagai wax resist dyeing.

Kita sudah mulai mengerti, “belilah batik tulis, atau paling tidak cap” karena dengan begitu kita membantu kehidupan dan mata pencaharian para pengrajin batik tersebut. Yang jarang kita ketahui adalah bagaimana cara pewarnaan batik.

Kalau batik tulis tentulah harganya paling mahal, karena dikerjakan secara manual dan membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Sedangkan batik print dibuat dengan mesin modern dan hanya mengadopsi motif batik yang sudah ada versi tulis dan capnya tentu saja akan dijual dengan harga yang jauh lebih murah, karena yang mengerjakan proses batiknya adalah mesin.

Menurut sumber diperolehnya zat warna digolongkan menjadi 2 yaitu: pertama, Zat Pewarna Alam, yaitu zat warna yang berasal dari bahan-bahan alam pada umumnya dari hasil ekstrak tumbuhan atau hewan. Kedua, Zat Pewarna Sintesis, yaitu Zat warna buatan atau sintesis dibuat dengan reaksi kimia dengan bahan dasar batu bara atau minyak bumi yang merupakan hasil senyawa turunan hidrokarbon aromatik seperti benzena, naftalena dan antrasena.

Pada jaman dahulu proses pewarnaan batik menggunakan zat warna alam. Namun, seiring kemajuan teknologi dengan ditemukannya zat warna sintetis untuk tekstil maka semakin sedikitlah orang-orang yang menggunakan zat warna alam.

Meskipun zat warna sintetis lebih mudah diperoleh, stok warna terjamin, jenis warna beragam, dan penggunaannya lebih praktis, tetapi penggunaan zat warna alam yang merupakan kekayaan budaya warisan nenek moyang kita. Kain batik yang menggunakan zat warna alam memiliki nilai jual yang lebih tinggi karena memiliki nilai seni yang unik, warna yang dihasilkan lebih khas dan ramah lingkungan sehingga berkesan etnik dan eksklusif.

Batik yang diwarnai menggunakan pewarna kimiawi sesungguhnya akan sangat mencemari lingkungan. Pewarna yang sudah tidak lagi konsentrat (mineral berharga yang dipisahkan dari bijih setelah melalui pengolahan tertentu) yang dibuang oleh para pengrajin akan menjadi limbah yang mencemari lingkungan sekitar, terutama air. Hal ini tentunya berbeda jika para pengrajin batik menggunakan pewarna yang terbuat dari tumbuh-tumbuhan. Pewarna yang terbuat dari tumbuhan bisa dipakai sampai habis karena pewarna alami memiliki konsentrat warna yang stabil. Sisa limbah hasil rebusannya bisa digunakan kembali sebagai pupuk kompos.

#100persenMentalAlam mungkin adalah ungkapan yang tepat. Zat warna alam untuk kain umumnya diperoleh dari hasil ekstrak berbagai bagian tumbuhan yang ada disekitar kita seperti akar, kayu, daun, biji ataupun bunganya. Pengrajin-pengrajin batik sebetulnya telah banyak mengenal tumbuhan-tumbuhan yang dapat mewarnai bahan tekstil beberapa diantaranya adalah: daun pohon nila (indofera), kulit pohon soga tingi (Ceriops candolleana arn), kayu tegeran (Cudraina javanensis), kunyit (Curcuma longa), Tanaman Teh (Camelia sinensis), akar mengkudu (Morinda citrifolia), kulit soga jambal (Pelthophorum ferruginum), kesumba (Bixa orelana), daun jambu biji (Psidium guajava), Indigo (Indigofera tinctorial), Secang (Caesalpinia sappan L.) Bawang Merah (Allium ascalonicum L.) dan masih banyak lagi.

Selain itu untuk lebih melengkapi #100persenMentalAlam kita, bahan-bahan tekstil yang dapat diwarnai oleh zat warna alam adalah bahan-bahan yang berasal dari serat alam juga, seperti sutera, wol dan katun. Bahan-bahan dari serat sintetis seperti polyester, nilon dan lainnya tidak memiliki daya tarik terhadap zat warna alam sehingga bahan-bahan ini sulit terwarnai dengan zat warna alam. Dan bahan dari sutera yang memiliki afinitas paling bagus terhadap zat warna alam dibandingkan dengan bahan dari kapas. Tapi apapun itu intinya kain dari bahan alam lah yang paling cocok untuk diwarnai dengan zat pewarna yang berasal dari alam juga.

So, sekarang udah tahu donk faktor apa saja yang bisa kita pertimbangkan ketika kita ingin membeli sehelai kain batik? Selain support pengrajin lokal, kita juga harus support pengrajin yang #100persenMentalAlam.

 —–

Sumber foto: peterloud.co.uk, pusatgrosirsolo.com, pkpp.ristek.go.id

9 comments

Leave a Reply

CommentLuv badge