Pentingnya Teknologi Bagi Para Tenaga Medis Perempuan di Daerah Terpencil

Bagi dokter dan dokter gigi yang harus menjalani PTT dengan dikirim ke daerah dan daerah terpencil, komunikasi adalah hal terberat yang harus kita temui. Lokasi yang jauh dari “peradaban” yang hanya bisa dilalui oleh kapal nelayan, atau motor dan jalanan yang dilalui tentu saja tidak semulus jalanan di kota. Saya ingat cerita teman saya yang setiap hari harus turun gunung buat pergi ke klinik tempat dia prakter dan naik gunung lagi di malam harinya untuk pulang ke rumah sementaranya. Teman saya yang satu lagi bertugas di sebuah pulau di bagian utara sulawesi yang perahu ke pulau besar hanya ada 1 kali seminggu.

Semua itu tetap harus dijalani apapun suka dan dukanya. Tidak hanya lokasi, pemadaman listrik bergilir juga merupakan salah satu shock terapi bagi kita yang terbiasa disilaukan dengan terang benderang dan hingar bingar lampu kota. Dari listrik yang cuman hidup 3 hari seminggu, bergilir sama daerah tetangga, sampai listrik yg hidup tiap hari tapi cuma pada malam hari. Bayangkan seorang dokter gigi tidak bisa melakukan preparasi yang menggunakan listrik, atau tidak bisa melakukan pencabutan gigi bila matahari tidak bersinar alias mendung.

Tapi kalau bagi saya pribadi, melalui kisah yang diceritakan teman-teman saya, bagian yang paling mengganggu adalah komunikasi. Kita yang biasanya saling teleponan dengan keluarga, pacar dan sahabat, jadi mengalami putus komunikasi untuk sementara waktu. Mungkin bagi kita yang tinggal di kota besar dapat mengatakan, “ah 6 bulan kan sebentar.. Gak papa deh merana dulu”, tapi bagi mereka yang jauh dari dunia yang biasanya mereka jalani, berada di tengah negri antah berantah, 1 bulan saja rasanya sudah kayak 1 tahun. Apalagi bagi para perempuan yang sudah punya anak, dan terpaksa meninggalkan anak mereka di kota asal. Enam bulan atau satu tahun merupakan siksaan yang paling berat, karena tidak bisa menyaksikan anak mereka tumbuh kembang. Dia hanya bisa pulang paling sering 2-4 kali selama sama PTT tersebut. Belum lagi mahalnya biaya transportasi, dan tak jarang harus ditempuh dengan berbagai jenis kendaraan terlebih dahulu, baru bisa naik pesawat pulang ke kota.

Tapi itu dulu. Itu kisah yang diceritakan oleh teman-teman ku beberapa waktu yang lalu. Sekarang ini dengan semakin maju nya teknologi komunikasi kita, semakin terjangkaunya dan sinyal tidak lagi menjadi hal “langka” sehingga teman-teman yang menjalani PTT tidak lagi se “sepi” sebelumnya. Terutama para pemakai smartphone. Bila pendahulu mereka yang membawa laptop ke daerah, cuman bisa buat main game, sekarang mereka bisa browsing internet, tentunya dengan modem portable. Bila dulu telephone hanya bisa digunakan untuk sms dan nelepon walau tagihan pulsa membengkak, sekarang sudah bisa dipakai untuk chat atau BBM-an.

Dengan mudahnya mereka tersambung Internet, merekapun gak kuper dan dapat mengikuti perkembangan medis terbaru hanya dari laptop atau smartphone mereka. Dan itu tentunya juga mempermudah bila menemui kasus-kasus sulit, dokter bisa lebih mudah mencari jalan keluar (teori) dengan membaca-baca jurnal online ataupun berkonsultasi dengan senior mereka yang ada di kota besar, atau bahkan konsultasi dengan dosen mereka di kampus.

Bagi yang sudah bekeluarga dan memiliki anak, mereka bisa saling tukar foto terbaru, sehingga tetap bisa merasa dekat, atau bahkan sekarang bisa berkomunikasi tatap muka dengan videophone… All hail technology… :D Si ibu bisa mengirimkan rekaman suara nya sedang mendongengkan cerita pengantar tidur untuk si buah hati sehingga si anak tetap merasa dekat dengan ibunya, sebaliknya si ayah pun bisa mengirimkan video ataupun rekaman celotehan balita mereka buat istrinya yang lagi jauh dari ‘peradaban’.

Dengan lancarnya komunikasi, juga membantu mereka mendapatkan alat-alat yang mereka butuhkan dan tidak tersedia di tempat. Kalau dulu, mereka harus pulang dulu ke kota, baru balik membawa barang-barang tersebut, sekarang mereka bisa memesannya melalui online dan tinggal menunggu barang sampai. Atau paling tidak mereka tinggal menjemput ke daerah terdekat yang masih ada transportasinya. dengan begitu para dokter dan dokter gigi tersebut dapat menghemat ongkos penerbangan pulang pergi hanya untuk membeli obat dan alat medis.

Menjadi seorang dokter/dokter gigi wanita disatu sisi memang tentu memiliki kekurangan dari sisi besar tenaga, tapi kita juga harus lebih banyak belajar dan melek teknologi untuk membantu menutupi kelemahan kita dibagian lain. Memang benar, dokter gigi wanita memiliki kelemahan paling besar dalam pencabutan, karena tenaganya kurang besar, tapi bila rajin membaca dan belajar, ada teknik-teknik yang mempermudah pencabutan tanpa perlu mengeluarkan tenaga besar. Dan itu semua tidak kita peroleh di sekolah, tetapi melalui banyak membaca, belajar dan pengalaman.

So, teknologi tentu saja membantu bagi para tenaga medis baik laki-laki dan perempuan, tapi bagi kita para wanita, sebaiknya memanfaatkan teknologi tidak untuk eksis di dunia maya (red: social media) tapi juga untuk menambah ilmu dan pengetahuan yang siapa tau berguna dalam menghadapi kasus pasien yang kelak kita temui… Serta tetap dekat dengan keluarga tercinta yang ditinggalkannya di tempat asal… :)

Karena teknologi seperti sosial media selain untuk narsis, juga bisa menjadi sarana berkomunikasi, sosialisasi dan konsultasi sesama tenaga medis, pasien dan keluarga…

9 comments

  1. Ceritaeka says:

    Hmm jadi inget postinganmu sebelumnya Dit soal cita2mu mengintegrasikan internet dan socmed buat klinik gigi..
    Udah waktunya memberdayakan semua produk turunan teknologi termasuk socmed buat mempermudah hidup memang ^_^

  2. jensen99 says:

    Di Talaud sekarang sudah bisa internetan dengan modem portable? Di Oksibil, terakhir yang saya tahu, walopun sinyal sudah 24 jam tapi tetap saja musti ke kantor Polres tiap pagi tuk numpang charge HP karena listrik terbatas. :mrgreen:
    jensen99 recently posted..Saya dan Royal Wedding

  3. Z says:

    neng, neng… daerah terpencil mana dapet sinyal buat internet, kl pun dapet masih putus nyambung antara ada dan tiada

    Kl yg agak kota sih iya mungkin bisa, tp yg kamu gambarin harus berulang kali ganti kendaraan itu kynya blm bisa deh

Leave a Reply

CommentLuv badge