Pengalaman Kerja “Pertama”

Walau sudah lewat lama banget, saya mau menceritakan sedikit pengalaman saya ketika magang di bulan Agustus-November 2013 lalu. Salah satu syarat kelulusan dari sekolah fashion yang saya ikuti adalah melakukan magang di perusahaan atau fashion designer yang kita pilih sendiri. Nah kisah soal pengalaman ketika magangnya akan saya ceritakan di postingan tersendiri. Sebenernya ini bukan cerita pengalaman ketika magangnya, karena sambil magang saya mulai merintis usaha saya sendiri. Saya beri nama Dita.Firdiana, taglinenya By Budget Made-to-Measure.

About a year ago, after graduated from Trisakti University and became a dentist. I realized my passion on designing things, so I decided to pursuing my fashion in fashion by learning Pattern Drafting and Fashion Design in ESMOD. I really want to expand my skills where my creativity, ideas and genuine enthusiasm would allow to progress and learn more. It took a year to finish the school.

Now, I eager to make some good clothes. I love fashion, especially clothes and shoes. But somehow, I stop buying unneeded things from a year ago too.. Well, long story cut short, now what I do instead of buying clothes, I rather to make my own clothes, or mix and match what I already have. And I also already started taking custom-made requests from my family and friends.

CONTACT & FOLLOW US
Instagram: @fairyteeth
Twitter: @fairyteeth with hashtag #ditafirdiana
E-mail: dita.firdiana@gmail.com
Phone: +6287887613273

Because we do not have a workshop yet, then we can received a call to come to your house or your office.. ;)

Don’t hesitate to contact me, then I will send you our price list.

Pemesan pertama, tentu saja teman-teman terdekat saya sendiri. Sebagaimana orang yang baru merintis usaha, dan selain itu, untuk sekedar uji disain, biasanya saya bikin baju buat saya pakai sendiri :lol: Oh, harga yang saya berikan sangat affordable loh.. *kedip-kedip cantik* Gimana cara memesannya bisa sila tengok ke website http://dita.firdiana.com, atau ke FB Page-nya di sini. *belum apa-apa udah promosi, padahal cerita aja belum.. *sigh*

Oke, berikut adalah beberapa pengalaman berharga yang saya dapat ketika memulai usaha ini…

Ketika terjadi sesuatu diluar perkiraan, hal pertama yang dilakukan adalah: take a deep breath, keep calm, and start negotiating… 

It really works.. Instead of ngamuk, marah-marah, maki-maki, kalau kita tetap tenang, pihak lawan/sebrang justru akan lebih respect. Marah, emosi, ngamuk, maki-maki itu gampang banget.. Kayak napas, tapi justru hasilnya bisa jadi bumerang buat kita. Kalau kita tetap tenang, dan bisa negosiasiin opsi2 buat mereka lakuin, mereka malah merasa terbantu, dan malah nolongin nyelesain masalah. Walau sebenernya pihak mereka yang salah, dan pihak kita yang dirugikan. Tapi semakin kita marah2 mereka akan ogah2an dalam memberi solusi. Ahamdulillah banget “masalah” waktu itu terselesaikan..

Eh, masalahnya apaan sih Dit? Kok ujug-ujug langsung ngasih solusi..

Jadi gini, saya belum punya pengrajin (baca: penjahit) tetap, alias belum punya workshop. Nah, sistem kerja yang saya anut adalah memakai penjahit freelance (penjahitnya hanya datang ketika ada pesenan), sebagaimana obrolan saya dengan Mario di #FinClic for Business waktu itu. Eh tapi kalian yang mau mesen baju jangan khawatir kalau bajunya gak bakal saya jahit loh.. Walau pegawainya masih “cabutan”, pekerjaan saya tetap profesional.

take-a-breathBaru mulai usaha, eh ada lah tukang jahit yang ngebawa pulang kain klien ke kampung halamannya di Sukabumi. Kl saat itu mau marah2, lempar2 barang, maki2 penjahit lainnya (yg masih teman si penjahit berulah) sih bisa aja. Tapi saat itu aku lebih milih buat ngomong baik2 sambil tetap senyum, kemudian mengeluarkan serangkaian opsi2 yang bisa mereka pilih. Tujuan akhir dari serangkain opsi yang diberikan itu supaya baju klien bisa sampai di tanganku malam itu juga. Dan akhirnya sukses, walau nunggu lama, capek, emosi tp aku yakin banget kalau marah ga bs menyelesaikan masalah. Marah-marah ke penjahitnya gak bakalan bisa bikin kain/bajunya terbang sendiri dari Sukabumi sampai ke pangkuanku malam itu.

Opsi: Jemput langsung bajunya ke Sukabumi; Pak penjahit langsung berangkat ke Jakarta saat itu juga; Ngirim orang lain buat jemput ke Sukabumi.

Ternyata tanpa perlu memerintah/memaksa, ada seorang rekannya yang ngerasa gak enak hati sama saya, berinisiatif untuk nolong ambilin ke Sukabumi detik itu juga naik motor. Menurutku kalau mereka sempat dimarahin, malah akan jadi demotivasi buat mereka, yang bisa berakibat mereka ngejahatin aku balik. Lucunya, sejak kejadian itu mereka malah lebih respect ke aku, rekan-rekannya malah lebih marah ke si penjahit yang berulah. Mereka meng-encourage aku agar marah sama si pelaku, tapi aku milih untuk ngomingin baik-baik tapi dengan nada tegas. Walau ada kejadian itu, aku tetap menggunakan tenaga mereka untuk outsource, soalnya hasil kerjanya rapih & bagus. Tidak adil kalau aku “memecat” mereka hanya karena satu kejadian itu. Anggap saja itu sebagai SP1 & agar tidak terulang lagi.

Saat itu aku milih ga curhat kesiapapun karena ga yakin kalau yang dicurhatin bisa ngasih solusi, takut malah akunya tambah terdemotivasi.

Masalah baru yang timbul setelah masalah tadi selesai adalah nyari “vendor” baru yang sesuai sama mau kita… :) Buatku sih yang penting tepat janji, hasilnya baik dan rapih, dan di deliver sesuai rentang waktu yang dikasih. Pulang kampung tanpa kabar, dan bawa “barang” orang tentunya gak termasuk dalam perjanjian kan? Customer mah mana peduli proses pembuatan yang terjadi behind the scene, taunya beres aja. Dan kita yang harus bisa deliver itu ke client.. Jangan ikut lepas tanggung jawab, mentang2 proses di belakang ada batu sandungan.. :) Kalau kita yang jadi klien nya juga gak mau tau kan ada aral melintang apa di belakang prosesnya, pokoknya tau mesen, ambil, bayar.. Jadi kita sebagai orang yg bertanggung jawab, harus muter otak. Karena pekerja bukanlah orang yang bisa langsung disalah-salahin aja (walau emang salah). Kasih opsi-opsi gimana cara mereka mendeliver hasil yang maksimal, pada akhirnya mereka malah ngerasa gak enak dan bantu menyelesaikan masalah. Padahal yo masalahnya ya mereka sendiri yang buat.. *sekian curhat newbie*.

Emang bener ya, mau di planning sebaik apapun, segala batu sandungan baru kelihatan pas udah dijalanin.. :mrgreen: Yang penting jangan gampang menyerah saja. Pengalaman emang gak bisa dibeli pake uang. Sekolah setinggi apapun, tapi kalau gak terjun langsung tetap gak akan tau lapangan..

Kalian punya masukan gak seandainya saya mengalami hal yang serupa ini lagi?

———————

gambar batu diambil dari sini.

2 comments

Leave a Reply

CommentLuv badge