Sayang.. pacarmu itu kakakmu!

secret“Papa kan udah pernah bilang kalau kamu gak boleh deket-deket dia lagi!”

“emangnya kenapa sih pa? Dhika kan baik!” Teriak Astrid.

“nilai-nilainya selalu bagus, wajahnya juga tidak jelek, dia selalu mengantar Astrid pulang. Dia peduli dan sayang sama Astrid”

“Dia selalu ada buat Astrid! gag kayak papa!” Astrid berlari ke kamar lalu membanting pintu.

“Selalu! kamu selalu lari kalau papa lagi ngomong!”

Terdengar teriakan dari dalam kamar “Astri bosen, denger papa ngomong jelek mulu tentang Dhika! Astrid pusiiiiiinggg!!!!”

“Tapi yang papa bilang itu kan bener.”

“Bodo!”

Astrid menangis didalam kamar, tidak mengerti mengapa papanya akhir-akhir ini selalu marah soal Pacarnya itu. padahal sebelumnya papa sangat baik pada Dhika, ntah kenapa sejak sebulan belakangan sikap papa berubah 180 derajat. Papa yang tadinya juga sayang sama Dhika, sekarang menjadi sangat benci seakan-akan Dhika merupakan kutu yang harus diinjek sampai mati.

Astrid sungguh tidak mengerti, dan merasa tidak ada kekeliruan yang telah diperbuat sang pacar terhadap ayahanda. Tapi sikap papa justru semakin keras.

Akhirnya dengan rasa sebal masih menggondok, astri bangun dan mencuci muka, sambil membayangkan kembali pertemuan pertamanya dengan Dhika.

Saat itu Astrid masih anak baru dikampusnya… Karena Astrid tidak banyak mengenal teman-teman kuliahnya, dia jadi terbiasa menghabiskan waktu istirahat di perpustakaan, disanalah ia berkenalan dengan Adhika. Senior 2 tingkat diatasnya. Orangnya ramah, supel, baik, pinter pula. Beberapa mata kuliah yang agak sulit dirasakan Astrid, dapat dengan mudah diajarkan oleh Dhika. Dhika selalu menyempat kan diri untuk belajar bersama, mengantarkan Astrid pulang dengan sepeda motor bututnya. Dan mamapun langsung suka dengannya, begitu jugalah papa pada awalnya.

Bisa dibilang kami berdua sangat mirip satu sama lain, baik sifat, maupun ‘kata orang’ wajah kami berdua. ketika itu kupikir, “Ah itu mungkin artinya kami emang jodoh”.

Kami berdua terlalu sehati, kalau Astrid merasa susah, tau-tau Dhika nelepon bilang kalau perasaannya gag enak. Baru kali ini Astrid ngerasa aada orang yang bener-bener bisa ngertiin dirinya.

Tapi sejak sebulan yang lalu, sikap papa ke Dhika berubah total. Tidak tahu karena apa, papa mulai mengungkit-ungkit masalah orang tua Dhika.

Ya, Dhika pernah bilang kalau ia dibesarkan hanya oleh Ibunya, dan menurut ibunya, Ayahnya meninggal ketika ia masih dalam kandungan. Tapi entah kenapa sekarang ayah bilang kalau latar belakang keluarga Dhika bermasalah. Yang katanya gag punya bapak lah, yang katanya ibunya wanita nakal lah. Padahal sepengetahuan Astrid ibu nya Dhika adalah wanita yang bersahaja.

Ada, aja alasen papa untuk memisahkan kami. Dimulai dari membelikan mobil, dan menggajikan supir untuk mengantar jemput, menyewa mata-mata biar kami tidak bisa bertemu, dan lain sebagai nya. Sungguh aneh!

—————————————————————————

Sebulan yang lalu. di suatu pusat perbelanjaan

—————————————————————————

Papanya Astrid sedang berbelanja, dan tau-tau dia merasa seperti melihat orang yang dulu sangat dia kenal. Pelan-pelan dia dekati, dan hendak menyentuh bahu perempuan setengah baya itu, ketika tiba-tiba wanita itu membalik badanya sehingga mereka berdua saling berhadapan.

“Laras?”

“Prabu?” kata wanita itu kaget, hingga menjatuhkan kantung belanjaan yang sedang dia pegang.

“Laras. Sudah 25 tahun kita tidak pernah bertemu…”

“Aku tidak pernah bisa melupakan mu. Kamu tidak berubah Laras. tetap cantik seperti Laras yang aku kenal dulu”

Wajah wanita itu memucat, dia sungguh tidak percaya, bahwa lelaki yang dulu pergi meninggalkannya begitu saja, sekarang berdiri dihadapannya.

“Kamu masih inget aku kan? Aku Prabu.”

Tentu saja Laras masih ingat. Prabu adalah satu-satunya pria dihatinya, seluruhnya telah dia persembahkan untuk lelaki itu, hidupnya, jiwanya, cintanya sampai tubuhnya. Tapi apa yang ia dapatkan kekecewaan. Lelaki itu pergi meninggalkannya untuk menikah dengan wanita lain. Dia Meninggalkannya beserta anak yang ada dalam kandungannya.

Perlahan air mata jatuh menitik dari mata tua wanita itu. tangis yang telah ditahannya selama 25 tahun keluar tak tertahankan. Dia menggeleng perlahan.

“Laras mengapa kamu menangis? tidak senang bertemu denganku?”

Wanita itu menggeleng semakin kencang, bagai mana dia bisa merasa senang atau sedih, dia sendiri bingung akan perasaan didadanya. Seharusnya dia marah, dan memaki lelaki itu. tapi suaranya tak keluar.

“Laras, aku terus mencarimu, tapi kamu seperti raib ditelan bumi. Orang tua mu tutup mulut tidak mau mangatakan kemana diri mu pergi. Aku khawatir laras…”

“Kalau kamu khawatir padaku, kenapa kamu kawin dengan wanita lain Prabu…” jawab Laras perlahan.

“Aku dipaksa kedua orang tuaku, kamu tahukan. Saat itu aku sedang butuh bantuan mereka buat memodali perusahaan yang sedang kubangun”

“itu kan buat kebahagian kita juga.”

“KITA!?!?” Wanita itu menjerit tak tertahankan. “Kamu kira aku apaan? wanita simpenan atau apa? kamu pikir aku bakal tega merebut mu dari sisi istri dan anak2 mu kelak hanya berbekal cinta monyet yang kita rasakan waktu itu? ”

“Aku juga wanita Prabu! aku tau bagaimana rasanya sakit hati bila orang yang kita cintai diambil oleh orang lain” Laras menjawab sembari menahan derasnya air mata yang mengalir.

Mereka berdua terdiam. lalu tau-tau HP si wanita berbunyi.

“Oh, kamu sudah sampai? ibu kedepan aja ya, dhika ndak usah parkir”

Deg. Jantung Papanya Astrid berhenti berdetak sepersekian detik.

“Siapa nama anakmu?”

“Dhika. Adhika Pratama”

Lha itu kok namanya sama dengan nama pacarnya Astrid, begitu perasaan Papa Astrid.

“Salam buat anak mu” lanjutnya sambil tersenyum.

Laras sudah berjalan menjauhi si lelaki. dia menoleh pelan tersenyum dan berkata, “maksudmu Anak KITA.”

Gelegaarrrr…. Bak Petir menyambar disiang hari.

Papanya Astrid pulang dalam keadaan setengah sadar, untung saat itu dia membawa supir.

Setelah akhirnya merenung dirumah, menghitung-hitung tahun yang telah berlalu, Prabu memutuskan untuik menyewa detektif untuk menyelidiki benar atau tidaknya Dhika itu anaknya dengan  Laras. Hasil yang didapat sudah tidak mengejutkan lagi. Bahwa benar Astrid dan Dhika adalah adik dan kakak.

Sejak saat itulah sikapnya berubah total, Astrid tidak boleh sampai berhubungan dengan Dhika. Mereka masih saudara. Berbagai cara dilakukan untuk memisahkan mereka berdua, tapi Prabu tidak ingin mereka tahu alasan yang sebenarnya, hingga dikarangnyalah seribu satu alasan. Tapi tidak satupun bisa masuk ke otak anak gadisnya yang lagi kasmaran itu. Dia hanya takut kalau-kalau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.

Tapi kalau dia harus berkata jujur, dia takut kalau Istrinya nanti bisa sakit. saat ini Istrinya mengidap penyakit jantung. Daia takut kalau kesahatan istrinya akan terganggu, bila ia berkata jujur.

“Ah sepertinya aku harus jujur juga dengan mereka.” Kata Papanya Astrid.

“Aku tidak mau kalau sampai berdosa, bila tidak mengatakan hal yang sesungguhnya. Dan Aku harus terima semua dampak yang bakal terjadi, karena Astrid pasti bakal marah besar, dan Istriku juga bakal mendapat serangan jantung”

Perlahan, Prabu memanggil istrinya untuk bersama-sama berbicara dengan Astrid yang sedang mengurung diri dikamar.

“Mah, ada yang mau papa bicarakan, dan itu juga berkaitan dengan kenapa papa melarang Astrid berhubungan dengan Dhika.” Katanya perlahan sambil menggandeng tangan sang istri. Perlahan mereka berjalan kearah kamar Astrid.

Diketoknya kamar itu, “Astrid. Keluar sebentar… ada yang papa mau bicarakan ke kalian berdua…”

————————–

Sebenernya tadi bukan mau nulis ini, tapi ceritanya berubah ditengah jalan :lol:

ganbar sangat tidak nyambung, tapi berhubung kelihatannya bagus, maka saya pakai…

kesimpulannya, menyambung sedikit tulisan dita sebelomnya disini tentang pilihan menikah atau jadi single mum, semua sebab akan ada akibatnya. berani berbuat berani bertanggung jawab.

disini diceritakan bahwa sang lelaki tidak menyadari kalau dia memiliki anak dengan wanita lain selain istrinya. tapi dalam kehidupan nyata tidak selalu begitu. Yang namanya Rahasia Besar seperti hal ini menurut saya tidak boleh ditutup-tutupi. sebab bila kelak, ternyata anak kita jatuh cinta pada saudara sedarahnya, dan orang tua ikut bertanggung jawab atas dosa yang akan terjadi.

Labih baik jujur kepada pasangan, apalagi bila itu menyangkut keturunan. Banyak kan kita denger cerita, orang menikah incest tapi tidak mengetahui hal tersebut dan baru diketahui setelah nasi jadi bubur.

Nah dari pada terlambat dan menjadi dosa, alangkah lebih baik nya jujur diawal, walau pasti pake acara marah2an, ambek2an  dsb, toh kalau benar cinta, masa lalu akanlah tetap masa lalu.

So for the Girl, if you pregnant, tell the boys, masalah dia mau tanggung jawab atau tidak urusan belakangan, yang penting dia tau, kalo dia punya anak denganmu, sehingga kelak anak kalian tidak akan incest.

for all the player outside there… just remember this carefully… hati2 menyebar benih, karena justru biasanya kelak yg saudara sedarah itu sangat gampang jatuh cinta (analoginya mereka sedarah gitu, jadi sudah pasti penyesuaian akan menjadi setengah dari yang bener2 gag ada hubungannya sama sekali)…

eh tulisan ini tidak terlalu menyeramkan khan?? :|

*iya saya tau ini postingan lama saya di ngerumpi*

17 comments

  1. jensen yermi says:

    Kalo di fiksi sih sering ketemu kasus ini, tapi apa di dunia nyata kejadian gini juga banyak terjadi? :???:

    for all the player outside there… [...] hati2 menyebar benih

    Hee~ kalo cowoknya gak peduli tuk play save sex ya ceweknya dong yang mesti peduli. Ngapalin period atau always on the pill kek. Kalo dua2nya cueq kan ya pasti ceweknya yang paling susah kalo terjadi kehamilan. :mrgreen:

  2. febycuit says:

    dit , ada gag filem yang bisa di bilang dia lebih milih teman ketimbang ceweknya , apa apa teman yang diduluanin ..
    kasih tau dong , yahh ?

Leave a Reply

CommentLuv badge