Organic and Eco-Fashion for Us

“Heal the world. Make it better place for you and for me and the entire of human race. There are people dying. If you care enough for the living, make it better place for you and for me.” Heal the World ~ Michael Jackson

Ada yang gak tau lagu ini? Pasti tau semua ya.. Secara gak langsung lagu ini mengajak kita agar peduli dengan lingkungan sekitar. Untuk menjaga keutuhan dan keberlangsungan bumi tempat kita tinggal ini, sudah sepantasnya kan kalau setiap orang harus turut melestarikan lingkungan hidup.

Di akhir Februari lalu, salah satu pagelaran Fashion Week yang ada di Indonesia yang berfondasikan keafiran dan kayaan lokal (Local Movement) serta kepedulian lingkungan hidup (Green Movement) di tahun keempatnya kembali dengan mengusung konsep Sustainable Fashion atau Eco-Fashion sebagai bentuk kepedulian akan lingkungan hidup melalui kampanye “Fashionable People, Sustainable Planet”. Selain itu mereka juga mengadakan “Green Talkshow” guna mengajak masyarakat untuk #100persenMentalAlam dengan tidak hanya memperhatikan fashion sebagai gaya hidup tetapi juga peduli akan lingkungan.

Tujuan dari Green Talkshow menekankan bahwa industri fashion dapat selaras dengan upaya penyelamatan lingkungan hidup. Pembicara-pembicara yang dihadirkan pada Green Talkshow merupakan pelaku aktif di isu lingkungan hidup. Mereka adalah Fashion Loves Earth yang akan berbicara mengenai “Desain dan Gaya Hidup Fashion Ramah Lingkungan”, Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik yang akan berbagi solusi terkait “Modis Tanpa Kantong Plastik”, dan Gropesh tentang “Pengelolaan Limbah Yang Berkelanjutan”.

Sementara itu, dihadirkan pula pembicara tamu, yaitu Nadine Zamira Sjarief, yang merupakan Miss Indonesia Earth 2009 dan Direktur Eksekutif LeafPlus, akan menyampaikan gaya hidup yang dilakukan secara nyata dan konsisten dalam kehidupan sehari-hari. Akan hadir pula Arya Ondrio, HiLo Green Ambassador 2013, yang berperan menjadi moderator pada Green Talkshow.

“Kampanye Green Movement pada Indonesia Fashion Week diharapkan bisa menjadi contoh bagi para pelaku fashion untuk lebih peduli lagi terhadap lingkungan hidup. Salah satu contohnya adalah mulai menggunakan tas belanja pakai ulang setiap kali berbelanja,” ungkap Rahyang Nusantara, selaku Koordinator Harian Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik.

Menyambung postingan sebelumnya bahwa selain kita harus mendukung pengrajin lokal tapi kita juga sebaiknya pengrajin yang #100persenMentalAlam, apakah kamu termasuk orang yang peduli trend fashion ataupun tidak, tanpa disadari setiap hari mau gak mau kita harus menggunakan produk fashion (masa ke kantor, ke kampus atau kesekolah gak pake baju??). Nah sadar gak, kalau pakaian yang kita kenakan, apapun bentuk dan modelnya adalah hasil dari indutri tekstil dunia.

Nylon, polyester, katun, wool, sutra, kapas, bahkan pewarna kain. Semua adalah hasil dari industri tekstil, industri yang berkontribusi besar membuat bumi ini semakin penuh dengan polusi. Sebagian dari kita mungkin belum tau atau belum pernah mendengar tentang organic fashion dan atau eco–fashion. Umumnya masyarakat awam bahkan tidak terlalu peduli apa arti “eco” dan “organic”. Padahal kita harus tahu bahwa organic dan eco-fashion di negara-negara maju telah menjadi sesuatu yang sangat penting.

Setuju ataupun gak setuju, siapa yang bisa membantah bahwa fungsi dan dampak dari evolusi fashion industri dalam kehidupan masyarakat kini sangatlah besar. Misalnya, bahan nilon dan polyester. Tahu gak bahwa keduanya terbuat dari bahan petrokimia yang rentan menyebabkan global warming. Keduanya pun sulit untuk didaur ulang. Untuk memproduksi nylon, nitro oksida dihasilkan sebagai bagian dari prosesnya. Nitro oksida merupakan salah satu gas yang berbahaya dalam greenhouse effect yang kekuatannya 310 kali lebih kuat daripada karbon dioksida.

Kilas balik ke postingan saya sebelum ini “Bahwa bahan-bahan tekstil yang dapat diwarnai oleh zat warna alam adalah bahan-bahan yang berasal dari serat alam juga,” kain katun yang terlihat paling natural pun, sebenarnya, justru lebih tidak ramah lingkungan dibandingkan dengan kain sintetis yang sudah saya sebutkan diatas. Kapas merupakan salah satu tumbuhan di dunia yang paling tidak ramah lingkungan. Kenapa? Tanaman kapas secara rutin disemprot dengan campuran pestisida dan bahan kimia lainnya yang jauh lebih berat dan berbahaya daripada yang digunakan untuk tumbuhan pangan yang kita makan sehari-hari.

Bahan-bahan kimia yang digunakan selama proses pembuatan bahan baku pakaian ini, akan terus ada dan akan terus berdampak pada penggunanya. Jadi wajar donk, karena banyaknya dampak buruk yang ditimbulkan, Industri Fashion dan seluruh orang yang terlibat di dalamnya harus mulai menghijaukan industrinya. Agar segala aspek kehidupan menjadi lebih baik, lingkungan menjadi lebih nyaman, dan trade fair bagi semua, mulailah mengubah dunia melalui organic and eco-fashion.

“The fashion industry tends to attract people with serious personality defects. They just want to be rich and famous. But at some point you have to decide: Are you going to mindlessly go the easy way or are you going to go the ethical way?” ~ Katharine Hamnett, English Fashion Designer, Recipient of British Designer Of The Year Award who’s Committed to ethically and environmentally sustainable fashions.

Lalu apa bedanya Organic Fashion dengan Eco-Fashion?

Organic fashion: Pakaian yang di produksi dengan meminimalkan penggunaan bahan kimia dan meminimalkan dampak kerusakan pada lingkungan. Termasuk minimalisasi bahan kimia yang digunakan pada setiap langkah pemrosesan, mulai dari proses penanaman, bahan baku, pengupasan, pemintalan, sampai hingga ke finishing menjadi produk jadi berupa pakaian, tas, sepatu dan lainnya.

Dulu hanya sedikit desainer yang tertarik untuk membuat busana yang ramah lingkungan, baik dari bahan yang digunakan sampai ke proses pengerjaannya. Sekarang banyak desainer kelas dunia beramai-ramai menciptakan busana berkonsep organic fashion tersebut, antara lain Stella McCartney, Versace, dan Diesel. Beberapa designer dan brand Luar seperti Giorgio Armani dan Adidas juga telah menggunakan bahan organik seperti rami dan bamboo untuk produk mereka.

Eco-fashion: Pakaian dan produk fashion yang telah di produksi menggunakan produk – produk ramah lingkungan. Produk eco-fashion dapat menggunakan bahan dari pakaian lama yang di recycle atau bahkan menggunakan material recycle lainnya yang diproduksi dari botol plastik, kaleng soda, dan lainnya. Eco-fashion tidak selalu harus dibuat menggunakan serat organik.

Sebenarnya fashion yang paling ramah lingkungan adalah produk-produk recycle dari pakaian vintage. Karena dengan menggunakan kembali barang-barang yang nilai pakainya sudah habis, kita menambahkan kembali nilai pakaian tersebut secara keseluruhan. Banyak label fashion dunia yang telah menggunakan kain-kain vintage, mengubah tekstil lama menjadi funky dan orisinil. Hasilnya adalah penampilan yang modis tanpa menyengsarakan planet ini, tanpa kerusakan alam.

Di Indonesia sendiri, sebagaimana yang saya lihat di bazaar Fashion Week lalu itu, banyak sekali jenis bahan alami yang #100persenMentalAlam yang bisa di eksplor untuk produk fashion, seperti kulit kerang, tulang, bambu untuk kancing, serta aksesori lainnya. Daun pisang, rotan, hingga eceng gondok bahkan kulit ikan saya bisa dimanfaatkan untuk produk tas dan sepatu.

Di Indonesia sendiri sudah banyak disainer lokal yang bergerak di eco-fashion, seperti Anne Avantie, dalam pagelaran busananya yang bertajuk “Pasar Klewer Riwayatmoe Kini” mengolah batik sisa kebakaran Pasar Klewer bulan Desember 2014 lalu.

“The most important thing to remember is that you can wear all the greatest clothes and all the greatest shoes, but you’ve got to have a good spirit on the inside. That’s what’s really going to make you look like you’re ready to rock the world.” ~ Alicia Keys

Are you (we) ready?

Sumber foto: organicclothing.blogs.com, treehugger.com, flaincleaners.com, heloeco.com, organicfacts.net

2 comments

  1. Ariani says:

    Terimakasih sudah sharing. Mau nambahin beberapa tips belanja lebih etis dan bijak (diambil dari artikel ini http://j.mp/1VNaq50 ):

    – Berpikir lima kali sebelum membeli.
    – Tanyakan kepada diri sendiri: Berapa lama baju ini akan ada di lemari sebelum Anda membuangnya? Pastikan lebih dari tiga tahun.
    – Berinvestasilah pada kualitas. Baju dengan material bagus akan lebih tahan lama.
    – Pilih model yang tak terpengaruh tren.
    – Pertanyakan harga yang terlalu murah.
    – Tanyakan hal-hal terkait produksi.

    Salam.

Leave a Reply

CommentLuv badge