NO BORDER, Photo Exhibition & Film Screening

Medecins Sans Frontier (MSF) atau yang lebih dikenal dengan sebutan Doctors Without Borders/DokterLintas Batas, sejak tanggal 8 Desember hingga 18 Desember 2016 besok ini, mengadakan pameran foto dan pemutaran film untuk memperkenalkan isu kemanusiaan dan kesehatan global, serta peran MSF dalam memberikan pelayanan medis di berbagai negara di dunia.

Tema yang di tampilkan oleh MSF dalam pameran tahun ini adalah “No Borders”, untuk mengangkat semangat kemanusiaan yang tidak memandang ras, agama, maupun politik. Pameran ini juga sekaligus menyuarakan betapa pentingnya melindungi keselamatan para pekerja kemanusiaan dan rumah sakit di tengah-tengah konflik.

Berikut tiga tema yang diangkat di photo exhibition ini:

1. Battling Neglected Diseases (kisah para tenaga medis MSF, pasien, dan dinas kesehatan melawan wabah penyakit)

Wabah penyakit bisa terjadi di lingkungan yang stabil, namun cepat berkembang di situasi darurat di mana terdapat pengungsi dalam jumlah besar, dan tinggal berdesakan dengan kondisi sanitasi yang buruk. Wabah kolera, cacar air, dan meningitis dapat menyebar dengan sangat cepat.

Virus Ebola yang menyebar pada tahun 2014 telah menimbulkan kepanikan di Afrika Barat. Malaria adalah penyakit endemis di lebih dari 100 negara. Sementara itu, jutaan orang di dunia kini hidup dengan HIV/AIDS dan tuberculosis (TBC).

MSF mendukung layanan dan fasilitas kesehatan setempat atau mendirikan fasilitas baru jika dibutuhkan. MSF merawat pasien dan menjalankan program penyuluhan di lingkungan sekitar. MSF juga menjalankan program vaksinasi massal dan konseling psikologis untuk melengkapi layanan medis bagi penyakit tertentu, misalnya TBC resisten obat (drug-resistant TB). Para dokter MSF tidak bekerja sendirian, mereka dibantu tim medis dan non-medis seperti tenaga logistik, keuangan, dan lainnya.

Pengunjung bisa melihat langsung jubah Ebola yang digunakan tenaga kesehatan MSF di bangsal perawatan ebola di Liberia, Sierra Leone, Guinea (Afrika Barat).

2. Because Tomorrow Needs Her
(layanan kesehatan perempuan sejak remaja, hamil, dan melahirkan)

Setap harinya, 800 perempuan di seluruh dunia meninggal akibat kasus kehamilan yang sulit, sebagian besar terjadi di negara berkembang di mana layanan kehamilan yang berkualitas tidak selalu tersedia. Remaja kerap luput dari pendidikan kesehatan reproduksi dan ini menin
gkatkan risiko kesehatan mereka di masa mendatang.

Di wilayah konflik, kehamilan yang sebenarnya bisa ditangani dengan aman dapat menyebabkan kematian, misalnya saat hamil terpaksa mengungsi. Melahirkan di tengah kondisi darurat bukan hanya sulit, tapi juga berbahaya. Perkosaan pun menjadi salah satu senjata perang untuk memberikan ancaman psikologis pada masyarakat.

Tim medis MSF menyaksikan langkah nyata perempuan untuk bertahan hidup, melahirkan, dan melindungi anak serta anggota keluarga mereka di tengah berbagai situasi sulit, contohnya dengan berjalan kaki puluhan kilometer untuk mendapat perawatan HIV bagi bayinya. Perempuan jelas bukan korban yang pasif.

Perempuan dan gadis remaja di seluruh dunia berhak atas perlindungan, layanan kehamilan, dan layanan kesehatan reproduksi. Dan yang paling penting, mereka berhak untuk menceritakan kisah mereka. Kisah-kisah berikut ini dituturkan dengan lantang oleh para pasien perempuan yang kami damping.

Harapan mereka, juga kami, agar Anda ikut menjadi saksi kisah perjuangan mereka, dan ikut berkontribusi untuk memperbaiki tingkat kesehatan perempuan.

Di ruang sudut pameran, pengunjung bisa membaca diary seorang perempuan yang hamil dan melahirkan di tengah pengungsian.

3. Krisis Pengungsi

Dunia sedang menyaksikan eksodus terbesar setelah Perang Dunia II. Konflik di Suriah telah memasuki tahun ke-5, rentetan bom dan serangan membabi-buta telah memaksa lebih dari 5 juta penduduk mengungsi ke negara tetangga. Di Irak, teror brutal ‘IS’ tidak memberi pilihan selain pergi menyelamatkan diri. Konflik di Libya, Afganistan, Mesir, Eritrea hanya sebagian contoh yang melahirkan krisis pengungsi saat ini.

MSF bekerja di negara-negara ini dan menyaksikan bahaya yang telah menjadi realita sehari-hari. Di balik statistik dan headline tentang perang dan tragedi kemanusiaan, ada seorang ayah yang hanya ingin menyelamatkan nyawa anaknya, ada gadis belia yang ingin mengejar mimpinya, dan ada juga anak yang tidak pernah bermimpi tumbuh besar di kamp pengungsi.

Materi pameran yang sangat spesial di bagian ini adalah pelampung yang dipamerkan merupakan pelampung asli yang telah digunakan pengungsi menyeberangi Laut Tengah menuju Yunani.

Beberapa foto jurnalis yang karyanya ditampilkan adalah: Francesco Zizola, Paula Bronstein, Yuri Kozyrev, Gael Turine.

Tiga film yang akan diputar tahun ini di acara “NO BORDERS”, film-film ini menghadirkan kenyataan yang dialami oleh pasien, pekerja medis, dan masyarakat di berbagai belahan dunia.

Living in Emergency

Jumat, 9 Desember, 19:00
Sabtu, 17 Desember 19:30 (+ bincang-bincang bersama field workers MSF)

Sutradara/Director : Mark Hopkins
Bahasa/Language : Inggris dengan teks Bahasa Indonesia/English with Indonesian subtitle
Durasi/Duration : 90 menit/90 minutes

Dokumenter ini mengikuti empat dokter MSF yang bekerja di Liberia dan Republik Demokratik Kongo dalam kondisi kerja yang terkadang cukup ekstrem. Sebuah gambaran nyata tentang para pekerja MSF di misi kemanusiaan.

Fire in the Blood

Sabtu, 10 Desember, 11:00
Minggu, 18 Desember, 11:00 (+bincang-bincang bersama Koalisi Obat Murah )

Sutradara/Director : Dylan Mohan Gray
Bahasa/Language : Inggris dengan teks Bahasa Indonesia/English with Indonesian subtitle
Durasi/Duration : 87 menit/87 menit

Film dokumenter ini mengangkat kisah nyata perjuangan sekelompok orang yang menentang monopoli obat-obatan, hingga akhirnya obat HIV generik bisa tersedia di Afrika Selatan dan negara berkembang lainnya di dunia.

The Invisibles

Sabtu, 10 Desember 19:30
Jumat, 16 Desember 19:00

Sutradara : Wim Wenders, Mariano Barroso, Isabel Coixet, Javier Corcuera, Fernando León de Aranoa
Bahasa : Swahili, Spanyol, Inggris dengan teks Bahasa Indonesia
Durasi : 95 menit

Javier Bardem, aktor pemenang Academy Award, mempertemukan Wim Wenders dan empat sutradara lain untuk menggarap lima film pendek tentang krisis yang terabaikan di beberapa negara di dunia.

Film-film nya sepertinya menarik banget untuk di saksikan ya. Apalagi misi MSF sejalan bangets sama #DokterUntukSemua. eh yang bener, Dokter Untuk Semua sih yang terinspirasi sama MSF. Yuk kita datang melihat Photo Exhibition and Film Screening-nya Medecins Sans Frontier di Grand Indonesia.

2 comments

Leave a Reply to cK Cancel reply

CommentLuv badge