Move On dengan Berbisnis Fashion bersama Luna Maya

Hari Selasa 25 Oktober 2016 lalu, detikFinance kembali menggelar acara d’Preneur, acara dengan hashtag #dpreneurFashion tersebut menghadirkan dua pengusaha mode, Luna Maya pemilik Luna Habit dan Yasa Singgih selaku pendiri Men’s Republic.

Selain sebagai seorang aktris, saat ini Luna juga merupakan pelaku fashionpreneur yang sukses. Luna fokus ke busana ready to wear, dan penjualan produknya dilakukan melalui toko online. Sedangkan Yasa adalah pengusaha mode yang sudah merintis bisnis sejak remaja. Jatuh bangun di dunia usaha sudah banyak ia rasakan. Berawal dari jual kaos secara online, kini Yasa sudah punya merek sendiri yang menjual berbagai produk seperti celana dalam, jaket hingga sandal.

Karena ingin kecipratan ilmu sukses mereka, maka saya datang menghadiri acara tersebut. Ppsstt.. Postingan ini akan terbagi 2 untuk mengantisipasi panjangnya tulisan. bagian pertama akan membahas tips-trik dari Luna Maya, dan postingan berikutnya cerita dari Yasa. Selain itu, karena materi yang mereka sampaikan bisa dibilang sedikit bertolak belakang, jadi alangkah baiknya kalau saya pisah saja agar lebih nyaman dibaca.

Terjun ke Dunia Bisnis karena Gaya-Gayaan

Luna Maya pertama terjun ke dunia bisnis tahun 2007. Awalnya ingin punya bisnis tapi gak tau gimana caranya. Lalu pada tahun 2007 ketemu partner bikin brand LM for Hardware, di kasihlah saham kosong 30%. Yang saat itu  tahu dia (Luna) suka fashion, suka lihat baju bagus, suka megang bahan enak. Tapi gak punya “modal” lain. Salah satu modalnya LunMay  saat itu “ah follower gw banyak ini, masa gak ada yang mau beli produk gw?”

Walau sudah pernah bikin usaha dengan temannya, namun pengetahuan akan bisnis fashion yang dimiliki Luna Maya masih bisa dibilang minim, Luna kembali memberanikan diri memulai bisnis fashion sendiri berbekalkan  bantuan supplier dan tukang jahit. Akhirnya di bulan April 2015, Luna membuka outlet Luna Habit pertamanya. Di awal membuka outletnya, Luna juga banyak belajar akan hal baru.

Lalu akhirnya Luna Habit di launch tanggal 20 April 2015. “Sampai 1,5 tahun jalan Luna Habit saya amat sangat bangga sama diri sendiri tadinya nggak ngerti apa-apa, sekarang jadi tahu dan mau ngurusin sendiri. 1,5 tahun ini berasa kuliah bisnis, kuliah marketing dan learning by doing,” kata Luna. Awalnya Luna terlalu percaya diri ketika memulai Luna Habit, ternyata sepanjang perjalanan itu banyak banget hal baru dan seru  yang bisa dipelajari.

Setelah 1,5 tahun berjalan Luna semakin fokus dalam menjalankan dan mengembangkan bisnis fashionnya yang bernama Luna Habit. Salah satu alasan Luna memulai bisnis fashion adalah sebagai pendapatan tambahan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya selain pendapatannya dari ng-acting. “Namanya juga artis, apalagi banyak saingan pendatang baru, muda-muda, banting harga lagi, jadinya kita kegeser deh.” Seloroh Luna.

Modal 50 Juta Rupiah Raih Omzet 300 Juta Rupiah perBulan

Ternyata hanya dengan modal awal 50 juta rupiah, omzet Luna Habit sekarang perbulan sekitar 300 juta rupiah belum termasuk biaya kantor, gaji. Modal Rp 50 juta tersebut digunakan untuk biaya operasional dan memproduksi 20 SKU (jenis) desain pakaian, masing-masing SKU 100 pieces. Kemudian tentunya ada penambahan (inject) karena ada biaya kantor, dll. Sayangnya saat memulai usaha, Luna melakukan beberapa kesalahan. Seperti dari sisi produksi, Luna langsung memproduksi 2000 pcs, padahal Luna Habit adalah brand baru yang belum dikenal masyarakat. “Terlalu agresif,” ujar Luna.

Untungnya dengan promosi gencar di media sosial, produk fashion yang ditawarkan laris di pasaran. Nah, gak belajar dari kesalahan sebelumnya Luna semakin agresif dan langsung memproduksi season ke-2 8.000 pcs. Seharusnya kalau mau upsize produksi maksimal dua kali lipat, ternyata hasilnya tidak selaku season pertama dulu. “Akhirnya banyak stok yang tersisa. Nah itu mikirin lagi gimana cara menjualnya. Itu memang kuliah lagi. Padahal enam bulan pertama itu sudah nggak inject lagi,” ungkap Luna.

Setelah itu akhirnya Luna belajar dari kesalahan. Ia mencoba untuk menata Luna Habit lebih baik lagi dari segala sisi, baik sisi desain, produksi, pemasaran hingga penjualan serta catatan keuangan perusahaan. Tak heran omzetnya sekarang bisa mencapai Rp 300 juta per bulan.

“Kalau bisnis tahu dulu mau ngapain, saya punya cita-cita gini, dimulailah saya punya kemeja, saya punya something about kemeja, jadi harus di dasari apa yang kita suka, jadi kenali dulu apa yang dimauin, punya bussiness plan, berapa kapasitas kita, kalau ada demand-nya banyak itu lebih bagus. Jadi belajar dari masalah saya ya, jangan langsung buat banyak produksi 2000 tapi misalnya brand belum terkenal,” ujar Luna.

Luna Tips: Menyiasati Tren Fashion

Sebagaimana yang sama-sama kita ketahui, bisnis fashion adalah bisnis musiman, karena tren fashion cepat sekali berganti mengikuti zaman dan pergerakannya sangat cepat. Jadi, menurut owner Luna Habit, Luna Maya, berbisnis fashion harus cepat mengikuti tren yang ada dan bisa meramal atau membaca pola desain tren yang akan datang.

“Kalau di fashion, terutama baju seperti yang saya jalani, tren fashion dunia biasanya sama semuanya, mau dari desainer kelas A sampai retail company, tren summer apa, fall winter apa, banyak kok perusahaan yang jual forecast (ramalan) fashion tren, kalau punya tim disainer pasti biasanya mereka sudah punya akses ke sana.” Luna menjelaskan.

Perusahaan jasa forcast tersebut memiliki fitur lengkap mulai dari tren mode, warna, bahannya, dan lain-lain. Cuma biasanya biaya mereka MUAHAAALL buangeett. Tapi menurut Luna sebenarnya ada cara mudah menebak tren tersebut memalui cara memantau media sosial dan tren fashion dunia. “Saya tinggal lihat saja Pinterest, Instagram, gimana trennya,” ujar Luna.

Luna memberi contoh ketika beberapa merk fashion dunia mengeluarkan model atasan off sholder, Luna Habit harus cepat-cepat menyediakan model desain tersebut. Sedangkan untuk fashion daily yang basic items akan selalu ada seperti kemeja, tinggal di ganti-ganti aja warna dari bulan ke bulan. Akan tetapi, selain harus cepat mengikuti tren mode, juga harus bisa menilai kapasitas produksi dan jumlah yang terserap konsumen, kalau tidak nanti kebanyakan produksi lagi seperti kesalahan season-season sebelumnya.

Luna Habit adalah fast fashion, jadi kalau kami produksi 10.000 potong, saya harus memikirkan bagaimana caranya memasarkan yang 10.000 pcs ini. Dulu pernah kejadian ada dead stock, kapasitasnya misal 10.000 tapi yang terjual 2.000. Sedangkan kita nggak bisa jualan ini terus karena trennya sudah mulai ditinggalin, artinya orang mau dapat yang lebih terkini, fashion itu agak sedikit tricky kecuali kamu jualan satu jenis barang saja karena orang maunya fashionable.

Maksimalkan Media Sosial untuk Jualan

Luna Maya menggunakan media sosial sebagai senjata utama pemasaran produk Luna Habit. “Facebook dan Instagram itu masih yang utama. Instagram untuk admin sekarang ada 4 orang dan akan nambah lagi, karena saya mau jualan sampai jam 10 malam,” kata Luna. Untuk menggunakan media sosialpun ada hitungan dan analisis data yang diperlukan sebagai promosi. Di dalam Facebook page biasanya kita bisa mendapatkan data siapa yang follow, umur berapa, negara mana saja dengan sangat detail.

Melalui insight tersebut Luna mendapatkan bahwa usia 18-24 dianggap paling produktif dalam belanja lewat media sosial. Usia tersebut merupakan individu yang sedang atau sudah lulus kuliah dan baru mendapatkan pekerjaan (pekerja muda). Selain itu promosi melalui media sosial juga membutuhkan biaya tambahan, contohnya pasang iklan di instagram dan facebook, tetapi sebenarnya biaya tersebut bisa diatur. “Mau Rp 50.000 dan Rp 100.000 sehari bisa diatur.”

Ketersediaan data yang akurat akan menjadi sumber kekuatan dalam menentukan kebijakan dalam berbisnis. Dengan data yang dimiliki, kita mengetahui karakter dari setiap pelanggan. Customer Indonesia itu beda-beda behaviour-nya. Tapi dengan memiliki data yang pas, apapun bisa kita kerjakan.

Tentunya Luna juga memanfaatkan lingkungan artis sebagai bagian dari promosi. Bahkan beberapa kali, Luna bekerja sama dengan beberapa majalah tanpa dibayar asalkan produknya bisa ditampilkan. Simbiosis mutualisme ya.. “Saya juga pernah ikut bazar trus kalau ada yang mau foto bareng, saya minta belanja produk saya dulu. Jadi dari yang tadi nggak tau produk saya, jadi mau beli, trus mau belanja dan mau datang lagi,” kata Luna.

Gain Costumer Trust

Bagi Luna, dalam berusaha tidak hanya soal mencari keuntungan saja. “Saya lebih banyak berseni dalam berusaha karena idealisme.” ungkap Luna. Misalnya untuk bahan pakaian. Setelah dua-tiga kali produksi, biasanya akan ada kecenderungan untuk mengurangi kualitas bahan agar bisa mendapatkan keuntungan yang lebih besar. Menurut Luna seharusnya hal tersebut tidak boleh dilakukan.

Costumer adalah raja, jadi mereka seharusnya punya experience dan trust, kemudian mereka akan nyaman dengan produk kita dan langgeng. Kualitas itu harus dinaikkan terus. “Saya pengen gain customer itu trust dulu. Jangan ambil cuan gede di awal, dikit-dikit tapi manjang (berlanjut),” paparnya. Usaha ini (Luna Habit) tidak dijalankan hanya untuk waktu yang pendek, maunya jangka panjang. Makanya harus bisa mempertahankan konsumen dan meningkatkan kualitas serta terus berinovasi.

Pernah Rugi Puluhan Juta

Luna Maya bersama merek Luna Habit sempat mengalami kerugian hingga puluhan juta saat awal Luna Habit berdiri, sampai harus inject uang tiap bulan. Tapi ia tidak mudah menyerah pada keadaan. Dengan penuh semangat dan keyakinan Luna percaya kalau usaha yang ia lakukan akan berhasil. Hal ini terbukti pada akhirnya ada investor yang mau menginvestasikan dananya untuk bisnis Luna Habit.

“Sampai akhirnya saya diselamatkan oleh investor saya. Dibelilah saham saya 10%.” cerita Luna. Saran dari Luna, jangan mudah menyerah pada keadaan, kesulitan akan selalu datang tapi perlu semangatjeli mencari sumber inspirasi yang akan selalu ada dari mana aja. “Move forward dan jangan pernah berhenti berinovasi. Selalu perhatikan sekitar. Catch the moment, catch the trend,” tutup Luna.

Nah, gimana? Sudah dapat gambaran gimana kita-kita berbisnis fashion dari Luna Maya? Saya sih jadi kembali bersemangat untuk revamp clothing line saya setelah datang ke event d’preneur ini, tentunya sambil menerapkan saran-saran dari si cantik Luna Maya. Semoga tulisan ini bermanfaat yaa… :D

One comment

Leave a Reply

CommentLuv badge