Mentoring Bootcamp #1000StartupDigital Day 1

Hai, ketemu lagi kita di rangkaian acara Gerakan 1000 Startup Digital yang panjang dan berliku ini. Setelah sebelumnya tim saya Roo! mendapatkan peringkat 2 di acara Hacksprint pada bulan Oktober lalu, tanggal 11-13 November ini, Roo! kembali masuk ke tahapan selanjutnya, yaitu Bootcamp. Di tahap ini, hanya tersisa 17 kelompok dari 56 kelompok yang ada di tahapan Hacksprint, super sekali ya jumlah tim yang tereliminasi. Nah, di Bootcamp ini kami diberi materi yang padat sekali, dan juga sesi mentoring yang bertubi-tubi selama 3 hari.

Hari pertama, temanya adalah Product dan Business Model. Sebelum masuk ke sesi mentoring, 2 Mentor memberikan materi yang terkait dengan tema harian, mentor pertama adalah Alamanda Shantika (Chief Activist, FemaleDev) membawakan materi Start Up Playbook,  dan Bang Jay Andreas Senjaya (CEO iGrow) dengan materi Lean Usability Testing.

Postingan kali ini belum akan membahas materi yang diberikan oleh kedua mentor diatas, melainkan akan menceritakan bekal apa yang saya bawa pulang setelah sesi mentoring dengan 3 orang mentor (yang sudah dipilihkan oleh panita sesuai dengan kebutuhan startup kami). Roo! mendapatkan sesi mentoring dari mas Rama Mamuaya (CEO Daily Social), Bang Jay Andreas Senjaya (CEO iGrow), Indrasto Budisantoso (CEO Jojonomic).

Berikut rangkuman dari sesi mentoring hari pertama:

Rama Mamuaya (CEO Daily Social)

Survey market minimal 500 orang, cari secara pasti target market kalian siapa. Collect data yang banyak. Beri pertanyaan terbuka, tanya ke target market tersebut (young parent) “What the biggest pain in the ass” yang mereka rasakan?? Pilih 3 yang paling dominan.

Jangan buat app yang terlalu banyak fitur ketika baru launching karena akan membuat bingung orang yang nyoba. Cari bisnis model yang masuk akal. Jangan gabungin antara apps media (artikel), apps notifikasi, apps e-commerce, apps subscribtion. Pilih SATU!

Cari apa yang biasa dimanfaatkan oleh media konvensional, coba manfaatkan hal serupa di online (apps). Jangan lupa untuk mewaspadai dan mempelajari saingan.

Orang-orang saat ini TIDAK kekurangan info, tapi kelebihan dan overwhelming sama info yang beredar. Bisnis model mengikuti problem yang kita solve, karena orang akan senang hati bayar kalau kita bisa menghilangkan “pain in the ass” nya mereka.

Adreas Senjaya (CEO iGrow)

Peletakan menu yang terlalu banyak akan tidak efektif fan kemungkinan orang salah pencet banyak banget. Jangan sampe orang harus mikir lebih dari 3 detik untuk memutuskan mau mencet tombol yang mana.

Fitur yang belum ada jangan di bikinkan menu dan di tulis Coming Soon, karena bisa menimbulkan impresi negatif (semacem memberi janji palsu). Perbaiki UI dan UX. Sesimpel mungkin biar user gak bingung.

Kalau mau memberikan halaman artikel, tentukan mau artikel biasa saja, atau personalized dengan submenu artikel perkategori.

Bisnis model bisa melalui rekomendasi produk melalui link affiliate dan bekerja sama dengan commerce yang sudah ada di pasaran, tapi untuk sampai ke tahap itu, traction dan retention apps nya sudah harus tinggi. Agar retensi dan traksi kuat harus diapain? Gamification, tips of the day, agar orang buka apps ini tiap hari. Positioning harus fokus dan kuat, agar jadi top of mind-nya masyarakat.

Telemedicine belum akan populer dalam 5-10 tahun lagi (orang gak akan mau bayar untuk konsultasi online dengan dokter).

Indrasto Budisantoso (CEO Jojonomic)

Kapan mau launching?? Kalau bisa secepatnya (MINGGU DEPAN), jangan di godok kelamaan karena apps kalian B2C. Kenapa? Karena setelah launch kalian akan langsung mengetahui dalam hitungan minggu apps kalian ok atau gagal. Tiap ada tahapan yang gagal langsung masuk ke tahap dev lagi, lakukan terus berulang. Karena lebih mending kalian update apps kalian weekly dibanding nunggu matang dengan segala fitur baru di lempar ke pasar.

Kebanyakan fitur sama jeleknya dengan kekurangan fitur. Jangan sampe over promise tapi under delivery. User itu orang paling pemalas sedunia, gimana caranya kalian bisa bikin user stay di apps kalian, gak cuma sekedar install dan sign up saja.

Seperti kata bang Jay, user yang mikir lebih dari 3 detik untuk mencet tombol yang mana cenderung akan kabur dari apps kita.

Yang menentukan apps sukses atau gagal adalah pasar / user setelah di launch, makanya buruan launch. Launch dengan SATU fitur utama dulu. Seiring berjalannya waktu tambah fitur yang dibutuhkan dan kurangi fitur yang jarang di gunakan user. Kenapa? Keep it short keep it sharp!!

Dua-tiga bulan pertama lakukan pendekatan manual dengan calon user (promo ke posyandu, puskes, klinik-klinik) lakukan tanpa budget. Budget marketing baru bisa di keluarkan setelah mendapatkan 100-200 user pertama dan menghitung LTV (lifetime value, berapa rupiah yang akan di keluarkan 1 user untuk/di apps kita) baru kita bisa mengeluarkan budget iklan tidak lebih besar dari angka LTV user tersebut.

Jangan denial kalau misalnya pasar/user gak suka sama apps kalian, langsung masuk tahap dev kembali dan relaunch terus menerus, bisa sekedar memperbaiki, atau pivot.

Mas Asto memberi contoh Jojonomic pivot di 3 minggu pertama launching dari apps personal financial B2C, jadi apps untuk reimbursement B2B.

Nah, semoga ketiga sesi mentoring yang saya paparkan diatas berguna juga untuk teman-teman yang juga sedang mengembangkan startup masing-masing. Kesimpulan yang bisa saya ambil adalah:

Launch secepatnya, biarkan pasar yang memutuskan berhasil atau gagalnya. Launch dengan satu fitur utama saja, fitur lain di tambahkan belakangan sambil mendengar feedback dari pasar. Riset yang mendalam untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Buat UI dan UX yang simple dan jangan biarkan user berpikir lebih dari 3 detik untuk menekan tombol yang mana di aplikasi startup mu tersebut. Bisnis model akan otomatis mengikuti problem yang kita solve, ketika kita bisa menghilangkan “pain in the ass” nya mereka.

Yuk kita sama-sama mencoba mengatasi masalah yang ada di sekeliling kita… :D

Leave a Reply

CommentLuv badge