Kopi Keliling #6

Beberapa waktu terakhir ini, Dita suka pergi ketempat-tempat yang dapat merangsang kreativitas melalui visual bersama teman-teman, karena menurutku, karya seni itu lebih menyenangkan bila dinikmati bersama orang-orang terdekat yang juga mencintai seni. Salah satu event terakhir yang Dita lihat bersama Ranume, Chika Djati dan Wina adalah Kopi Keliling 6, yang sampai saat ini juga masih berlangsung di  1/15 Coffee, Jl. Gandaria I /63, Jakarta Selatan, hingga 30 Desember 2012.

Kopling6

Buat yang belum tau apa itu Kopi Keliling, adalah acara yang menghadirkan para visual artist muda berbakat untuk menampilkan karya-karya mereka melalui acara yang diadakan berkala tapi berpindah-pindah lokasi tiap kalinya. Nah di setiap acaranya, selain hanya memajang karya-karyanya, Kopi Keliling juga berusaha untuk menciptakan interaksi antara penonton – karya para visual artist – visual artist nya.

Kopi Keliling 6 Kemarin menghadirkan seniman-seniman muda dengan talenta yang luar biasa dari Jakarta, Bandung, Semarang, dan Yogyakarta. Para seniman muda itu adalah Ario Kiswinar Teguh, Astrid Prasetianti, Azis Wicaksono, Cempaka Surakusumah, Dewiyanti Yusup, Elfandiary, GalihPratama, Mayumi Haryoto, Rega Ayundya Putri, Resatio Adi Putra, Wickana Laksmi Dewi, Yerikho Naektua. 

Selain itu, juga ada Komunitas Pencinta Kertas (KPK), Art & Creative Talkshow, Mini Art Market, Coffee “Molecular Gastronomy” Workshop oleh Ronald Prasanto, peluncuran novel grafis karya Sigit Pradityo, games, quiz (anyway, Dita menang salah satu quiz twitpic mendapat voucher 1/15 coffee sebesar Rp. 50.000 dan kaos bergambarkan Kopi Keliling #6), dan ditutup dengan music performance dari House of Tree.

Selain itu, untuk pertama kalinya hadir  Bioskop Keliling (sebuah pemutaran film yang mengkhususkan diri bagi filmmaker muda) yang menayangkan empat film pendek karya-karya terbaru dari Adhyatmika (Punchline!), Andra Fembrianto (Gamelan Noise), Jerry Hadiprojo (Portal Service), dan Radian “Jawa” Kanugroho (Lupakan). Sebelum tiba waktunya menayangkan keempat film tersebut, tim Bioskop Keliling menayangkan beberapa film pendek dari luar negri yang menurutku bertemakan Satir, Dita sempat menanyakan ke twitternya @BIOSKOPling dan mendapatkan judul dari beberapa film tersebut (nanti mengenai Bioskop Keliling akan dibahas di postingan berikutnya).

Ketika Dita sampai di lokasi, acara sudah berlangsung lebih dari separuh, tapi untunglah pemutaran Bioskop Keliling yang terletak di lantai dua cafe tersebut belum dimulai (salah satu tujuan Dita pergi ke #Kopling6 ini karena pengen nonton). Dan sementara itu dari lantai bawah, terdengar Talkshow Kreatif bersama para Seniman yang karyanya di pamerkan di acara ini baru saja akan dimulai. Maka sambil menikmati karya seni, sayup-sayup terdengar suara dan penjelasan dari para senimannya.. Superb yaa.. :mrgreen:

Buat yang gak bisa datang ke Kopi Keliling 6, berikut foto karya seni yang di perlihatkan.

The Perfect Drug

The Perfect Drug, by: Rega Ayundya Putri
Media: Fiberglass on Digital Collage *My favorite*

Rainbow Cups

Rainbow Cups, by: Ario Kiswinar Teguh
Media: Paper Sculpture, Ukuran: Variabel.

Kita semua punya pilihan untuk apapun, dan kita punya kebebasan untuk memilih yang mana saja. Pilihan yang bermacam-macam itu diwakilkan ke dalam banyak mug berwarna-warni. Kita punya pilihan untuk menjadi siapa saja dan kita berhak mengisi hidup yang kita pilih dengan apa saja yang kita inginkan. karena pada akhirnya, keragaman inilah yang membuat hidup kita lebih berwarna.

Koffie Veilingen

Koffie Veilingen (Pelelangan Kopi), by: Resatio Adi Putra
Media: Mixed Media

Tanam paksa yang oleh orang Belanda selalu disebut Cultuurstelsel adalah kelanjutan dari Preanger Stelsel yang hanya diterapkan di tanah Pasundan. Sistem ini dimulai sekitar tahun 1720 dan beberapa unsur Preanger Stelsel terlihat kembali pada Cultuurstelsel yang dimulai pada tahun 1830. Kalangan menak (ningrat) itu dijadikan elite dan memperoleh lebih banyak peluang untuk memperbudak para petani dan memperoleh keuntungan, karena para menak ini juga memperoleh sebagian hasil tanam paksa. Hasil bumi yang dijadikan komoditas tanam paksa pada awalnya bukanlah tebu atau nila, melainkan kopi. Mengejutkan bagaimana tanaman seperti kopi pada saat itu bisa menjadikan kalangan menak menjadi serakah dan mengakibatkan rakyatnya sendiri tersiksa.

The Coffee Cantata

The Coffee Cantata

The Coffee Cantata, by: Wackana Laksmi Dewi
Media: Acrylic on Paper 2x

Konsep keseluruhan karya ini adalah mengenai coffee addiction, di mana minum kopi itu sudah menjadi suatu habit (kebiasaan). Kebiasaan itu muncul saat sebagian orang memang hobi/menyukai minum kopi dan sebagian karena mengikuti tren (gaya hidup). Dan ternyata kecanduan minum kopi ini sudah ada pada abad ke-18 di Jerman. Salah satu komposer terkenal Jerman yaitu J. D. Bach mengangkat isu sosial tersebut ke dalam sebuah pertunjukan oper komedi satir dengan komposisi musik yang diberi judul “Coffee Cantata”

Coffeetopia

Coffeetopia, by: Astrid Prasetianti
Media: Acrylic on Paper

Coffeetopia, berasal dari kata coffee dan utopia. Tema yang diangkat melalui karta ini adalah adanya kesenjangan andata situasi saat ini, yaitu munculnya tren “minum kopi” yang menyebabkan banyak bertebaran coffee shop baru dan ramai dikunjungi masyarakat, dengan kesejahteraan para petani kopi yang masih rendah dan kurang diperhatikan. Kebiasaan kita minum kopi di kafe-kafe yang tidak selaras dengan kesejahteraan para petani kopi itu sendiri yang telah bekerja keras menghasilkan kopi yang kita minum. Situasi ideal namun tidak mungkin terjadi, atau utopis.

Share Love

Share Love, by: Galih Pratama
Media: Cat Air pada Kertas

Bukan hanya laki-laki saja yang suka ngopi, tapi juga perempuan. Pertemuan dan obrolan lawan jenis di warung kopi senantiasa hangat dan mendekatkan. Dua hati dalam secangkir kopi. <3

Share Togetherness

Share Togetherness, by: Galih Pratama
Media: Cat Air pada Kertas

Setelah seharian bekerja, berkarya, dan kuliah, mari intermezzo sejenak dengan ngopi bersama kawan dalam rengkuhan dingin pegunungan, supaya rileks dan muncul ledakan kreatif dalam otak kita.

A Cup of Coffee

A Cup of Coffee, by: Azis Wicaksono
Media: Pensil pada Kertas

Seorang pakar kopi pernah mengatakan bahwa sebagian orang memilih untuk menenteng sebuah cangkir kopi dengan merek ternama, meskipun kopinya berasal dari negeri ini namun bukan kualitas terbaik. Ketika diberikan kopi dengan kualitas terbaik, mereka cenderung tidak suka karena tidak ada label tertentu yang melekan dengannya. Inilah yang disebut dengan gaya hidup. Ada orang yang bisa membedakan mana kopi berkualitas baik dan tidak. Namu, ada juga orang yang menginginkan kopi hanya sebagai teman lembur atau teman nogkrong tanpa memperhatikan kualitas kopi. Yang penting bagi mereka adalah ngopi yang enak itu nongkrong di coffee shop dan kopi giling yang dijual di warung-warung itu sama, namun ada sedikit perbedaan rasa karena cara penyajian kopi yang disajikan di coffee shop lebih beragam.

Coffee Time

Coffee Time, by: Galih Pratama
Media: Cat Air dan Pensil Warna pada Kertas

Waktunya ngopi bersama kawan, berbagi senyum dalam naungan malam dan berbagi cerita seputar pembuatan kopi.

Cintamu Tak Sekental Kopiku

Cintamu Tak Sekental Kopiku, by: Mayumi Haryoto
Media: Acrylic on Paper *Wina’s favorite*

Indonesia sudah memiliki banyak kultur kopi tradisional sebelum “coffee shop” modern menjadi tren 1 dekade terakhir. Karya ini merupakan usaha mengangkat “grassroots” kultur kopi di Indonesia.

Expensive Taste

Expensive Taste, by: Yerikho Naektua
Media: Poster Color di atas Kertas *Ranum’s favorite*

Ada yang bilang tentang karya seni, semakin banyak indra yang merasakan maka semakin kaya karya itu. Kopi yang dihidangkan bagimu dapat kau lihat pekat hitamnya, dan dapat kau baui wanginga, dapat kau sentuh bersamaan lekuk cangkirnya, dan tentunya bisa kau kecap kenikmatan rasanya yang pahit itu. Namun, apakah bisa kau dengar kopi berbunyi? Rasanya kurang sempurna saja. Musiklah yang mampu melengkapi itu, agar kau semakin nikmat dengan kopi, dan rasa yang kau rasakan semakin mahal. Dan tidak heran bila di coffee shop akan selalu ada musik yang kau dengar. Mereka paham itu, agar semua indramu merasakannnya, dan dengan total kau menikmati kopimu.

Wake the Dream I

Wake the Dream I, by: Dewiyanti Yusup
Media: Ink on Paper

Bangun, jadikan mimpi-mimpumu kenyataan. Mulilah dengan secangkir kopi hangat.

Heartbeat

Heartbeat

Heartbeat, by: Cempaka Surakusumah
Media: Polymer Clay & Papercut

Kopi itu seperti semangat untuk memulai hari. Seperti “spirit” yang menguatkan untuk tetap hidup. Di karya ini digambarkan kata tersebut dengan jantung, karena jantung merupakan salah satu organ terpenting di dalam tubuh manusia. Setiap aliran darah yang mengalir ke jantung membuatnya berdetak dan membuat manusia tetap hidup. Sama halnya ketika manusia melewati berbagai “experience” dalam keseharian. Baik yang menyenangkan ataupun menyedihkan, kopi adalah salah satu teman melewati berbagai experience tersebut, dan memberi semangat untuk tetap merasa lebih hidup.

The Stage

The Stage, by: Elfandiary
Media: Pensil pada Kertas

Penokohan dalam sistem, tradisi, dan pencitraan.

Anyway, I love the Art Market di lantai 2. Pengen beli semua poster-poster itu tapi……kamarku masih dalam proses semi renovasi… Yang penting udah nyomot semua kartu nama mereka.. So next time aku butuh, tinggal contact XD

Art Market1

artmarket2

artmarket3

Do you believe Love at the first sight?

The Perfect DrugDiantara 16 karya diatas, favorit Dita adalah yang pertama, The Perfect Drug.

Why?

Entah kenapa sebuah cangkir kopi dengan sesosok bentuk tubuh (manusia) sedang (bahagia) berendam dalam secangkir kopi, paling menonjol diantara karya lainnya yang ada di dalam ruangan itu dan langsung menarik perhatian Dita. Bukan karena Saya emang penganut paham Cinta pada Pandangan Pertama, tapi juga karena, biasanya yang pertama kali kita lihat (menarik perhatian) kita itulah yang emang kita suka. *definisi ngawur ala Dita*

Karya tersebut bila diterjemahkan melalui pemikiran sang artis: Bagaimana ketergantungan manusia terhadap zat diluar tubuhnya, untuk menjadikan kondisi dirinya lebih baik dari apa yang tengah dia rasakan.

“Biasa didapatkan dari biji kopi, kafein tercatat sebagai satu-satunya ‘drug’ (disini memiliki pengertian: zat atau senyawa yang memiliki efek pada tubuh manusia) yang dapat dihadirkan dan dikonsumsi secara alami oleh manusia. Kafein mengandung zat stimulan yang berpengaruh terhadap susunan syaraf manusia, memberikannya kemampuan untuk menangkal kantuk dan meningkatkan rasa waspada.

That’s it! Perasaan seperti itulah yang saya rasakan bila bersamamu. Kehadiranmu memberikan efek terhadap tubuhku. Menstimulus syaraf-syaraf yang keberadaannya bahkan tak kuketahui sebelum aku berjumpa denganmu.

Because you’re my perfect drug!

——————–

Semua gambar sudah melalui olah foto dengan berbagai aplikasi yang ada di iPhone saya, dan di unggah ke akun EyeEm saya.

Untuk info lebih lanjut mengenai acara #Kopling6 ini dilahkan cek website Kopi Keliling dan follow mereka di @KopiKeliling

3 comments

Leave a Reply

CommentLuv badge