Kemana mereka pergi??

saat ku menyusuri jalanan nan becek di pasar tersebut, ada sesuatu yang berbeda dari yang biasa tertangkap oleh sudut mataku. Mayestik. ya itu pasar yang kerap kali ku kunjungi. dalam seminggu paling sedikit sekali aku datang. seluruh pelosok sudah khatam dijelajahi. bila lagi banyak keperluan bisa sampai 3 kali seminggu aku datang kesana. dari membeli segala kebutuhan dapur pengisi kulkas. sampai peralatan mandi, make-up sampai baju jadi dan kerudung, tak lupa juga segala perintilan buat bahan jahitan yang kadang suka mendadak aku kerjakan.

seminggu belakangan ini, suasana pasar agak sedikit terasa berbeda. yang biasanya ramai, riuh sesak. sekarang sepi melenggang. ku tengok kanan kiri, sepi terasa. bahkan dengung lalat pun tak terdengar. pasar seperti kota mati. banyak los-los yang tutup tersekat oleh kayu-kayu penutupnya. padahal matahari belum lagi bergeser dari atas kepala. jam masih menunjukan waktu yang sangat siang. sungguh tak biasa.

biasanya jam 4 sore saja, manusia tampak masih menyemut. sibuk memilih dan memilah, menimbang dan mengantongi. tapi kini tidak. pasar tampak sesepi kuburan. kemanakah gerangan. para lautan manusia yang terbiasa menyerbu pasar dan membawa pulang aneka daging, sayur, buah, ikan dan lainnya. kemanakah para pedagang, yang biasanya sibuk menyapa dan membujuk kita untuk datang dan mampir di kios nya. aneh sungguh aneh.

kemarin minggu ketika aku datang dengan ibu ku, dan menemukan pasar sepi, kami berfikir kalau

“oh kok udah pada tutup? karena hari minggu kali ya?”.

tapi ketika senin kami kembali dan menemukan pasar tetap dalam keadaan yang sama, kami terpekur. ada apakah gerangan? mengapa bisa terjadi hal seperti ini? apa para manusia konsumtif itu sedang pada puasa atau on diet? tentu tidak bukan. apa karena kini masih termasuk dalam suasana habis lebaran? tentu tidak juga. lalu apa yang sesungguh nya terjadi?

selidik demi selidik. tanya sana sini, masih tak bisa membendung rasa penasaran ini. sayang sekali hendikem mini saya tertinggal dirumah, sehingga tidak bisa ngesyut wajah sayu para pedagang disitu.

tukang sayur berbelanja hanya setengah dari hari2 biasanya dan masih tersisa, padahal para sayur itu akan layu dan busuk esok hari jika tersisa. tukang tahu yang sehari-harinya memasok 100-200 buah, sekarang hanya menyediakan 20 buah, itupun tidak habis. bahkan sampai penjual makanan jadi, buat pelepas dahaga dan lapar para penjaja dagangan, maupun pemebeli mengurangi jauh omset nya, karena sedikitnya manusia yang datang ke sana. tukang ayam bakar langganan ibu ku. tutup sejak 3 hari yang lalu, konon katanya jatuh bangkrut karena tidak ada yang makan ditempatnya. begitu juga dengan beberapa pedagang lain nya.

lalu sesungguhnya apakah yang terjadi?? apakah daya beli masyarakat sedang menurun, atau terlalu banyak hypermarket, supermarket yang kian menjamur di ibukota membuat orang enggan belanja ke pasar tradisional? heran sungguh heran.

sampai malam ini pun aku masih teringat-ingat bagaimana pemandangan dipasar tadi siang. kalau keadaan itu berlangsung lama, bagaimana nasib mereka? yang sehari-harinya berusaha memenuhi kebutuhan rumah tangga dan perekonomiannya melalui berdagang sayur dan lainnya? lalu bagaimana juga nasib pelanggan setia seperti aku dan ibu ku, yang selalu mencari kebutuhan dapur di pasar tradisional?

ah… dilain sisi, kita mendengar selentingan bahwa gaji mentri akan (entah jadi atau tidak) dinaikkan, mereka akan diberikan mobil mewah sebagai jatah. ah… entah bagaimana nasib bangsa ini kelak. semoga Bapak Presiden dan Wakil Presiden kita yang baru saja dilantik, beserta para mentrinya yang duduk dalam Kabinet Indonesia Bersatu jilid 2, dapat memberikan ketenangan di hati rakyatnya, seperti kami-kami ini…

amiin… semoga tidur saya bisa nyenyak dan ndak terlalu kepikiran apa yang terlihat dan terekam oleh mata saya ini. walau sepertinya tidak akan terluapakan untuk sementara waktu ini. semoga….

:)

19 comments

  1. Chic says:

    pasar tebet sih masih rame ya dit, pasar pal batu juga… hmmm pasar mayestik kenapa ya?
    saya sendiri sih kayak sayur-sayur segar dan buah-buahan lebih suka beli di pasar tradisional.. lebih murah dari beli di hypermarket dan lebih segar tentunya, asal milihnya extra sabar.

    tapi kalo kayak ayam potong, daging, dan ikan gitu… ntah kenapa di hypermarket harganya kadang lebih murah.

    mungkin sekarang orang-orang udah capek berbecek-becek ria di pasar tradisionil kali ya? atau ogah bau?
    :))
    .-= Chic´s last blog ..Threadless Tshirt Giveaway at jaypeeonline.net =-.

  2. dita.gigi says:

    sepertinya begitu mba chic… tapi kan denger2 gosip nya pasar mayestik emang mau ilang, eh ntah mau dibikin jadi kayak blok m square gitu mba,,,

    dan para pedagangnya disuruh ulang sewa dari awal, bukan nerusin sewa yang lama… kasihan

  3. iphan says:

    aku suka ke pasar tradisional (walopun sukanya mood mood an juga sih). tapi kadang, kondisinya gak memungkinkan untuk kesana (jauh dari rumah jeh). makanya aku (dan mungkin orang lain juga) lebih memilih supermarket yang lokasinya lebih terjangkau.
    .-= iphan´s last blog ..Bab Pesta Blogger 2009 =-.

  4. pinkparis says:

    Kalo dari yang pernah aku baca, katanya Pasar Mayestik sedang dalam proses peremajaan dan pembangunan kembali. Semoga saja rencana ini bisa berjalan dengan baik dan para pedagang itu bisa kembali menyewa tempat di sana (kuatir malah yg berdiri hypermart soalnya).

  5. agusnazil says:

    Saatnya bukan hanya untuk satwa langka konservasi untuk pasar pasar tradisional juga mulai diperlukan… soalnya sudah mulai langka berganti dengan pasar modern
    salam kenal yaa

  6. LT13 says:

    Iya saya dulu juga belanjanya kem mayestik…bahkan seragam buat kawinan saya empat tahun yang lalu masih saya beli disana. Miris juga rasanya kalau tahu sekarang kondisinya memprihatinkan.
    .-= LT13´s last blog ..Koleksi kaos saya itu =-.

  7. candrakirana says:

    MT (modern trade) sekarang udah mulai makan pasar GT (general trade)
    konsumen banyak beralih belanja di MT seperti carrefour, alfamart (bencong GT dan MT). selain karena lebih nyaman, pilihannya juga banyak dan harganya juga murah. pemerintah seharusnya melindungi pengusaha kecil karena sebenarnya tonggak ekonomi negara adalah pengusaha kecil. selain itu, mereka-mereka ini adalah rakyat dan adalah tugas negara untuk melindungi kesejahteraan rakyat. kalau negara ‘mengalihkan’ tugas mulia ini demi kantong pribadi, bubarin aja. kita bikin revolusi baru.
    .-= candrakirana´s last blog ..Kirana (2) =-.

Comments are closed.