in Relationship with..

sebulan lagi puasa ternyata membawa seorang teman lama kembali. setelah sekian lama tidak berjumpa, seorang sobat karib menyapaku. menanyakan kabarku, sibuk apa sekarang, dll. setelah cukup berbasa basi, tau2 dia bertanya,

“dit, masih inget kata-kataku waktu itu ndak?”

terus terang saya ragu apa saya masih ingat apa ndak, secara kami selalu memperbincangkan dan memperdebatkan segala hal.

“yang mana yaaa?”

“aahh.. tuhkan baru ditinggal sebentar aja udah lupa.”

“lha mana aku inget banyak banget wejanganmu dulu” kata saya sambil cemberut, padahal sang sobat toh juga ndak akan bisa melihat saya.

“dita.. sholatnya masih teratur?”

terhenyak, terdiam. sepertinya saya sudah mulai mengerti kemana arah percakapan ini akan berlangsung.

sebelum percakapan kami bertambah jauh, pikiran saya melayang ke masa lalu.

—————————————————————–

saya memang dibesarkan di lingkungan keluarga islami, sekolah di sekolah islam selama 14 tahun (dari TK sampai SMA) tapi itu bukan berarti membuat seluruh tingkah laku saya menjadi islami juga. ya tapi syukur alhamdulillah semua itu masih bisa mencegah saya dari perbuatan-perbuatan yang merusak diri sendiri, dan menjadi tonggak keyakinan saya akan konsep Tuhan. Saya seorang Muslim, dan saya bangga jadi muslim walau sholatnya kadang masih bolong-bolong. saya sejak kecil dicekokin pelajaran agama dan saya percaya kok, bukannya mungkar mangkir. cuman masih ada satu hal yang menjadi ganjalan bagi saya. yaitu Ibadah, terutama sholat.

ya ya ya… saya sholat 5 waktu, walau kadang ada yg bolong juga sih :D nah penyebabnya bolong-bolong di karenakan saya melaksanakannya karena merasa itu wajib. bukan karena kesadaran. di sekolah saya dulu, segala sholat, mengaji, puasa dan segala amalan-amalan lain di wajibkan dan di beri nilai. bagi saya yang selalu melaksanakannya karena dinilai, mulai kehilangan arti dan makna semenjak saya meninggalkan bangku sekolah dan masuk kuliah. serasa sebelomnya di penjara dengan segala aturan dan kungkungan, saya merasa BEBAS… saya beribadah tidak lagi karena nilai… jadi suka-suka saya donk… toh soal dosa sama pahala, neraka sama surga itu kan urusan pribadi masing-masing dengan Tuhan.

saya merasa aneh, bila diingatkan oleh mama, sudah sholat apa belom…

“plis deh ma, emangnya saya anak TK apa? kok ya sholat masih ditanya”

nah godaan terbesar datang disitu… kadang dengan alasan kepada diri sendiri seperti banyak kerjaan, lama dijalan, pelan-pelan saya meninggalkan rukun islam yang satu itu. lagian ya, selama ini saya menjadikannya seakan-akan seperti beban besar, kalau ada aja alasan yang bisa dipakai agar saya bisa mungkir, saya mungkir juga…

ya  ya ya… saya tahu itu dosa. dan berhubung saya itu dari kecil selalu di ajari oleh mama saya hukum sebab akibat, mengapa begini mengapa begitu, saya sungguh merasa terkungkung oleh ajaran agama di sekolah saya itu. kerena menurut saya, mereka (para guru) bukannya mengajari, tapi lebih ke arah indoktrinasi. saya paling ndak bisa di doktrin. semakin keras, semakin keras pula saya melawan.

luchunya, hanya sholat yang benar2 saya [hindari], jenis ibadah yang lain masih saya lakukan. dan itu menjadi sangat jomplang bila dibandingkan dengan ketika saya masih bersekolah. jangankan sholat 5 waktu, segala sholat sunat juga saya jalani.

berhubung saya benar-benar belom bisa memaknai arti sholat itu sendiri dan kadang merasa sombong bahwa saya bisa (mencapai apapun yang sudah saya capai selama ini) dengan ataupun tanpa sholat toh hasilnya sama saja. jadi kenapa saya harus sholat. karena wajib. oh iyaaa… karena wajib. sholat itu rukun islam ke-2. sholat itu tiang agama, dan lain sebagainya…

jujur saya dalam hati merasa capek sholat. hingga akhirnya saya bertemu dengan sobat saya itu.

duluuu… dia pernah bertanya,

“dita… kamu sholat untuk apa?”

“ntah aku juga ndak tau. yang aku tau, sholat itu wajib.” jawabku sekenanya.

“bukan itu yang aku tanya. tapi kamu sholat sesungguhnya untuk apa?”

“ndak tau.” jawabku jujur.

dia hanya bisa tersenyum mendengar jawabanku.

“ini nih yang katanya sekolah 14 tahun di *******” dia tertawa kecil.

“huss… jangan bawa-bawa sekolah. kalo cuman teori aku bisa jawab, tapi aku tau bukan itu yang kamu maksud.” jawabku

“kamu tau ndak dita…” kalau Allah STW SWT tuh sayang banget sama dita.”

aku terdiam mendengar kata-katanya itu. lalu mengangguk “tau…”

“pernah gak dita merenung, apa saja yang sudah Dia berikan untuk dita?”

“ndak pernah” jawabku dengan suara yang semakin pelan.

“coba dita pikir. betapa cintanya Dia sama dita. dita selalu bilang kalau dita itu ‘lucky‘ kan? pernah berfikir ndak, semua keberuntungan itu datangnya dari mana/siapa?”

——– saya terdiam tak bisa menjawab.

“semua kemudahan yang selalu dita dapat dalam setiap kesempatan itu siapa yang memberikan?”

“dita… sholat itu paling utama. walau dita lakukan semua ibadah yang lain, mau puasa senin kamis, mau puasa tiap hari, mau ngasih makan anak yatim setiap hari pun, kalau dita tidak sholat dita tetap masuk neraka.”

“dita percaya surga sama neraka kan?”

saya mengangguk

lalu dia tersenyum. “mau masuk neraka?”

saya menggeleng pelan

dia tersenyum lagi. lalu berkata, “dita mau tau, gimana caranya sholat tanpa merasa terbebani?”

“mau….”

“gini yaa… dita kalau berkomunikasi sama pacar gimana?”

“maunya deket-deket terus kan… kalau bisa ketemu terus…”

“sms setiap inget, kalo kangen nelepon. iya ndak??”

“ada apa-apa rasanya mau cerita langsung, trus pengen tau kegiatannya ngapain aja, dia inget sama kamu apa ndak… gitu kan?”tanyanya bertubi-tubi…

“he eh” jawabku singakat.

“nah cara itu bisa diterapkan dalam sholat”

mataku membesar mendengarnya…

“dita… mungkin perumpamaan ini agak aneh terdengar. tapi untuk mudahnya kita anggap saya Allah sebagai kekasih kita.”

“ketika kita sholat, kita ceritakan segala keluh kesah kita, kita bercerita tentang kejadian menyenangkan yang kita alami tentu saja dengan tidak lupa mengucap syukur”

“kalau kita pengen sms atau telepon pacar, kita anggap aja itu dengan sholat tepat waktu ketika Adzan telah berkumadang… buru-buru kita wudhu dan absen ke Allah”

“untuk pacar, apa sih yang ndak kita lakukan. ingat ndak, apa yang sudah Allah karuniai pada dita? dita ndak mau membalas itu semua?”

tak terasa sedari tadi air mata sudah jatuh bergulir dimataku.

“sholat jangan dijadikan beban… tapi dinikmati…”

“5 waktu yang diberikan pada kita untuk ‘ngapel’ harus dimanfaatkan sebesar-besarnya.”

“ketika subuh kita bangun tidur, disaat pikiran kita masih jernih, kita sholat… meminta agar hari itu dimudahkan untuk kita”

“dhuhur, ketika matahari bersinar terik, panas dan kita capai-capainya bekerja/belajar kita bisa beristirahat dan berkeluh kesah kepada Yang Maha Penyayang… dijamin Dia senantiasa medengar keluhan dan kasih sayang dari hambanya”

“begitu juga waktu2 sholat yang lain”

aku sudah tergugu disampingnya… otakku berusaha mencerna semua yang dia katakan.

“jadi mulai sekarang, dita mau rajin sholat 5 waktu?”

saya menganggung semangat…

“nah gitu donk… ingat ya… anggap saja Allah itu kekasih kita… apalagi sebentar lagi kita udah mau puasa, masa puasanya full, sholatnya masih bolong-bolong?”

“iyaa…dita janji…”

——————————————————————-

sejak saat itu, saya selalu menerapkan kata-kata sahabat saya tersebut… walau kadang sebagai manusia yang tidak sempurna dan bisa lupa… tapi kalau ada suatu hal, saya suka kembali teringat kata-kata sobat saya tersebut..

dan malam ini lagi-lagi saya kembali teringat akan hal itu…

terima kasih Tuhan, atas segala karunia yang telah engkau berikan untuk saya… semoga saya terus bisa menerapkan hal ini apalagi bulan Ramadhan semakin dekat, dan semoga sholat Tarawih dita bisa full dan ndak bolong-bolong… amiin…

# dedicated to: seorang ‘kakak’ yang baru-baru ini lagi-lagi membuat saya teringat akan nasihat lama dimasa lalu dari seorang sobat yang sudah berbaik hati menyadarkan ku dulu.

In Relationship with GOD…?? why not!

—————————————————–

tulisan ini disertakan dalam lomba blog dijaminmurah.com.

39 comments

  1. antown says:

    what this is?*mbah surip mode on
    ini tulisan indah bgt sih dit. enak dibaca dan perlu. kata2 yang kau rangkai mengalir dan mudah dipahami. penuh makna yang dalam. semoga kita selalu tawaddu’
    .-= antown´s last blog ..Q Hrs Dtg k Acr FGD Itu =-.

  2. masova says:

    Kalo Abah saya bilang; melakukan sesuatu jangan karena pengin masuk surga –atau jangan karena takut neraka. Melainkan hanya karena mengharap ridho-Nya.
    Kenapa? Karena solat, ibadah, dan semua kebaikan yg dilakukan itu gak menjamin kita bakal masuk surga..

    *aduh, blum solat Isya’*
    .-= masova´s last blog ..#22 : Min al-Aidin wa al-Faidzin =-.

Comments are closed.