Hak Asasi atau?

Entah kesurupan apa saya sore ini, bisa juga karena masih sakit sehingga saya merasa otak ini juga mengalami sedikit gangguan. Berawal dari obrolan absurd bersama seorang teman di twitter soal hukum adat, agama dan suku (dari film yang HOT jadi perbincangan itu loh), kemudian saya merambat ke masalah lain, yang kemudian melahirkan twit dibawah ini.

Twit tersebut mendapat beberapa tanggapan, ada yang setuju atau yang membantah, dan ada yang meng-RT. Tujuan saya mengeluarkan twit tersebut bukanlah mencari sensasi atau sekedar iseng, kebetulan saja hal tersebut terlintas di pikiran. Bisa jadi karena dalam keluarga saya yang walaupun mayoritas muslim, tapi juga tidak sedikit yang memeluk agama yang berbeda. Dan ada juga yang dalam satu keluarga anggotanya menganut dua agama yang berbeda. Temanku ada yang bahkan sekeluarga anggotanya menganut tiga agama yang berbeda.

Lantas bila itu terjadi, siapa yang bisa dipersalahkan? Apakah si orang tua yang “tidak dapat memberikan pendidikan agama yang kuat” kepada anak-anakanya? Ataukah si anak karena murtad dan tidak mengindahkan petunjuk serta ajaran orang tuanya?

Menurut saya itu balik lagi ke pertanyaan yang jadi judul postingan ini. Agama itu katanya Hak Asasi Manusia? Berarti seharusnya tidak dipaksa “sematkan” di pundak si anak hanya gara-gara dia terlahir dari orang tua yang beragama tertentu donk? Kalau namanya Hak, berarti sebenernya si anak berhak untuk mempelajari dan menentukan sendiri agama yang ingin dia yakini? Atau prasangka saya selama ini salah?

religionAgama itu sendiri berasal dari bahasa Sansekerta, (a= tidak, gama= kacau.) Tapi kenapa akhir-akhir ini agama malah biang timbulnya berbagai kekacauan di muka bumi ini? Ketika penganut suatu agama menganggap agamanya lah yang paling benar, dan tak jarang agama malah jadi alasan untuk suatu kaum pergi berperang/jihad or what so ever.

Beberapa teman mengatakan, “Bahwa mungkin dia terlalu konservatif karena menginkan anaknya memeluk agama yang sama dengannya.” Dan ada yang mengajukan pertanyaan apakah aku bisa legowo bila itu terjadi pada anakku kelak?

Kalau saya (setelah melalui beberapa tahap pencarian, peng-agnostik-an, kembali ke islam, kembali pergi, kembali lagi ke islam) berpendapat bahwa bila saya punya anak nanti, mending mereka memeluk suatu agama tertentu dan mengamalkan semua ajaran agama tersebut serta menjauhi semua larangannya, karena pada dasarnya semua agama baik.. Kalau soal benar, hanya Allah yang tahu.. Oh, well, sebagai orang Islam, tentu saja buatku agamaku yang paling benar.

Kenapa begitu Dit? Karena, dibanding anak-anakku seagama denganku, tapi sholat aja males (misalnya) atau suka berbuat munkar(?) atau sok2 atheis maupun agnostik, mendingan mereka menganut suatu agama tertentu yang paling baik dan benar menurut nalar mereka, dan membiarkan mereka menjalankan ajaran agama yang mereka yakini dengan sepenuh hati, daripada mereka seagama denganku, tapi beribadah dengan setengah hati. *Sepertinya saya akan diazab di neraka karena memiliki pemikiran seperti ini, tapi Wallahu A’lam Bishawab, Kita Hanya Manusia, Tempatnya Salah Khilaf dan Lupa dan Hanya ALLAH SWT yang maha Mengetahui.*

Kalau dalam suatu keluarga yang beda agama tuh biasanya ada yang mengajarkan anak-anaknya dengan kedua agama yang dianut oleh kedua orang tuanya sebelum mereka akil baliq, lalu membiarkannya milih ketika mereka sudah lebih dewasa. Walau tidak sedikit juga yang “membantu” memilihkan anak-anaknya agama apa yang akan dianut si anak, kadang ada “perjanjian” terlebih dahulu dari si orang tua soal itu dari jauh-jauh hari.

Nah, kenapa hal tersebut gak bisa berlaku untuk keluarga lain yang seagama.. Anaknya diajarkan saja semua agama.. Lalu ketika waktunya tiba, biarkan anak-anak kita nanti memilih agama apa yang ingin dia peluk. Kalau menurutmu agamamu paling benar, have a faith, bahwa semoga saja anakmu juga memilih agama yang sama denganmu! :)

Untuk mendapat kata sepakat atau sekedar bisa idealis emang susah kok, apalagi kalau harus mendengar semua ucapan orang lain. Karena setiap mata akan melihat persoalan dengan cara yang berbeda… :) Kalau udah gini, gak ada yang salah dan bener, hanya perbedaan paham dan pola pikir aja.

coexist

Can We All Just Live in Peace and COEXIST..?

# sedikit tambahan:

Sok-sokan atheis/agnostik itu ketika seseorang memilih agnostik atau atheis hanya karena tidak ingin terkungkung dalam peraturan suatu agama tertentu. Bukan karena benar-benar memahami artinya.

Anyway, satu agama aja ketika sudah kita pilih, seumur hidup kita habiskan untuk mempelajarinya pun gak akan habis kok. *lalu inti tulisanmu ini apa Dit?*

5 comments

  1. Chiw says:

    Aku penasaran dengan term “sok sokan atheis/agnostik” itu yang seperti apa.

    Menurutku pribadi, bahkan memilih untuk tidak beragama itu juga hak, nggak harus memilih salah satu yg dikira paling benar.

    Lets agree to disagree :)

    • fairyteeth says:

      Oh itu aku setuju kok.. lagian diatas udah aku bilang kalau beda mata akan memandang persoalan dengan cara yang berbeda pulak.

      Aku setuju kalau memilih untuk tidak beragama itu juga hak. Dan aku membebaskan kalau orang lain ingin memilih untuk tidak memilih suatu agama apapun. Pemikiranku cuma sederhana, aku hanya ingin setiap orang bebas memilih keyakinan (atau tidak memilih sama sekali) yang dia ingin yakini.

      sok-sokan atheis/agnostik itu ketika si orang tersebut memilih agnostik atau atheis hanya karena tidak ingin terkungkung dalam peraturan suatu agama tertentu. Kalau orang tersebut benar-benar memahami apa arti dan makna atheis dan agnostik itu maka tentu saja dia boleh dan berhak memeluk/meyakini hal itu. Dan lagi, agama yang aku sebut di atas bukan hanya 5 agama yang ada di Indonesia.. semua ajaran agama yang ada di muka bumi ini, termasuk misalnya agama yang menuhankan ilmu pengetahuan, dan lain-lain… :)

      It’s your choice…

      Sekali lagi, mungkin benar, kalau orang tua mungkin agak sedikit konservatif.. tapi aku konservatif dengan caraku.. bagiku nanti mungkin better kalau anak2ku menganut agama yang mungkin berbeda, daripada dia tidak mempercayai agama apapun :)

  2. Dani says:

    Karena gw muslim dan takut ama adzab gw sih pengen ngajarin anak agama yang gw anut dari kecil sebaik mungkin, tapi perkara kalo gede nanti dia mau milih agama mana ya silahkan aja. dan apapun agamanya mestinya sih bukan jadi alasan buat berperang ya Dit.

  3. MUHAMMAD (bukan nabi ya) says:

    Tulisanmu sangat bagus Dita. Wawasanmu sangat luas. Yg aku bingung, kalo cuma allah yg tahu mana agama yang benar, kok kamu bisa bilang agamamu adalah YANG PALING BENAR? Berarti kamu dan allaah sama2 tahu dong:). hehehe

  4. fairyteeth says:

    Kenapa aku bisa bilang agamaku paling bener, karena ego ku sebagai manusia yg memeluk/meyakini sesuatu.. Dan itu kayaknya berlaku atas agama/keyakinan apapun yg pada ketika nulis postingan ini aku anut.. Bukan masalah apa nama agamanya kan :)) gak mungkin kita udah milih sesuatu lantas bilang, “Ah setelah kupikir2 agamamu/tuhanmu lebih benar.”

    Lagian sebagai umat islam, kita percaya bahwa islam yang paling benar kan karena dikasih tau di al-quran, “Aku sempurnakan untukmu agamamu”.

    Bukan berarti lantas aku jadi Tuhan (berdasarkan analogi mas diatas)
    fairyteeth recently posted..Status dan Pengakuan

Leave a Reply

CommentLuv badge