Financial Planning for Business by @QM_Financial

Logo_sajaKemarin, tanggal 13 November 2013, Saya ikutan Financial Clinic Series nya QM Financial demi menambah wawasan dalam membina usaha kecil yang sedang saya rintis (tentang ini akan ada postingan tersendiri). Masih inget banget daftar #FinClicSeries ini sejak sebelum bulan puasa karena di mention Muty di twitter.

Acara berlangsung selama 3 jam dari jam 18:00 hingga 21:00, sebenernya masih bisa lebih kalau mau nanya-nanya sama para Financial Plannernya QM, tapi saya memutuskan pulang saja, soalnya belum punya cukup banyak contoh kasus buat ditanyakan. Basa-basinya gak usah panjang-panjang ya, Financial Clinic kali ini di isi oleh Benny Raharjo SE , MM, AEPP, CFP® membahas tentang dasar-dasar Financial  Planning for Business.

BY81N-3CEAA-Q0I

Ada beberapa Entrepreneurship Fact, menurut orang Eropa entrepreneur biasanya berasal dari golongan menengah, golongan yang paling cerewet. :lol: Konon hanya 25% usaha baru di Amerika yang bisa bertahan sampai 15 tahun lebih (Forbes, 2013). Agar bisa jadi Entreprenuer yang bertahan lebih dari 15 tahun harus memiliki 2 kriteria: tangguh dan kaya ide. Salah satu penyebab kegagalan bisnis adalah buruknya pelaporan keuangan (The New York Times). Nah biasanya usaha-usaha baru sering gagal karena uang usaha tercampur sama uang pribadi, so sebaiknya PISAHKAN rekening. Menurut QM, 78,26% klien mereka yang berwirausaha memiliki saving ratio yang rendah, kurang dari 10% dari penghasilan bulanannya.

Kenapa sih kita butuh Financial for Business?

Cash: Memastikan kas selalu tersedia untuk keberlangsungan usaha,

Capital: Menentukan besar modal yang diperlukan,

Funding: Menentukan jenis dan jumlah pinjaman yang akan digunakan,

Profit: Memastikan usaha yang dimiliki menguntungkan,
Menentukan penggunaan keuntungan usaha:

  • Investasi untuk perkembangan bisnis, atau
  • Dibagikan kepada pemilik modal sebagai bagi hasil.

Nah, ada 3 Laporan keuangan dalam FinPlan for Business

1. Neraca (Balance Sheet): Memperlihatkan posisi keuangan perusahaan pada satu titik waktu.
Gunanya: Membandingkan antara aset yang dimiliki dan bagaimana cara mendapatkan aset tersebut.

2. Laporan Laba-Rugi: Berupa ringkasan pendapatan dan pengeluaran usaha selama periode tertentu.
Gunanya: Melihat untung atau rugi suatu usaha.

3. Laporan Arus Kas (Cashflow Statement) dan Cash Budget: Menunjukkan jumlah uang masuk dan uang keluar dalam suatu usaha selama jangka waktu tertentu. 
Gunanya: Memastikan usaha yang dimiliki layak secara finansial.

Mas Benny mengatakan untuk diawal ada baiknya kalau kita mencatat semua uang yang masuk dan keluar. Selain itu beliau juga mencontohkan kalau Neraca itu seperti sebuah foto keadaan keuangan per tanggal tertentu (contoh 31 Desember). Sedangkan Laporan Laba-Rugi seperti video keadaan keuangan perusahaan dalam satu periode (contoh 1 Januari – 31 Desember).

Neraca

(Penggunaan Dana)                   (Sumber Dana)

Aset/Kekayaan            =            Hutang + Modal

Apa saja yang termasuk Aset? Barang persediaan, mobil, sewa gedung, uang kas di bank. Neraca harus selalu seimbang antara sumber dana dam penggunaan dana.

Laporan Laba-Rugi

Pendapatan – Biaya = Laba/Rugi

Lalu apa hubungan antara Neraca sama Laporan Laba/Rugi? Sumber dana yang ada digunakan untuk mendapatkan aset, Aset dijual  menjadi pendapatan yang nantinya setelah diketahui laba/rugi nya, akan diputar ulang sebagai modal. Bila seluruh keuntungan selalu diambil oleh pemilik maka usaha tidak akan pernah bisa berkembang. Yang penting itu bukan berapa banyak untungnya, tapi berapa yang tersisa agar bisa jadi modal buat diputer lagi sehingga usaha gak stagnan dan bisa berkembang. Mending punya keuntungan kecil, tapi tiap hari jalan terus.. Dibanding untung gede, tapi penjualan 2 bulan sekali.

Terus, gimana cara mengelola arus kas biar gak mandek? because CASH IS KING! *diralat sama mba Ligwina* CASH IS EVERYTHING!

Pengelolaan Arus Kas Masuk

  • Uang kas dari aktivitas operasional
    • menjaga konsumen yang menguntungkan tetap senang
    • mempercepat penagihan
  • Uang kas dari aktivitas investasi
    • menyewakan kapasitas dan ruang yang berlebih
    • menjual aset yang tidak terpakai
  • Uang kas dari aktivitas pembiayaan
    • mempercepat perputaran barang

Menjaga arus kas masuk itu penting, punya banyak untung tapi berupa hutang semua ya susah, karena bagi usaha, uang itu ibarat darah dalam tubuh. Tanpa uang usaha kita susah jalannya, dan penting sekali buat muterin uang yang ada, jadi kalau banyak hutang diluar TAGIH! Managemen persediaan itu juga penting, kalau barang nimbun berarti kita harus punya tempat lebih besar buat stok saja. So, buat yang usaha pakaian, kalau stok numpuk, mending di obral daripada menuh-menuhin gudang! Saran: Jangan terlalu banyak nyetok barang, dan punya proyeksi perkiraan berapa permintaan kedepannya.

Pengelolaan Arus Kas Keluar

  • Menunda uang keluar
    • mereview ulang seluruh pengeluaran
    • memperpanjang termin pembayaran
  • Menghemat uang keluar
    • organisasi yang ramping
    • efisiensi aktifitas usaha

Intermezzo: Kalau kita jadi karyawan, mendekati tanggal 25 seneng banget karena mau gajian. Sedang kalau kita jadi pengusaha, mendekati tanggal 25 udah ketar-ketir banget kira-kira bisa bayar gaji karyawan atau ndak. Oh, selain itu kita kerja kalau gak ada plan, ya cuma bakal dapet capeknya aja. Pengusaha harus punya plan, mau punya apa, berapa tahun lagi? Lalu kejar ke sana! Kalo ga punya tujuan, mau usaha mulu sampe kapan??

Dalam bisnis yang terpenting adalah bagaimana cara memperbesar aset, dan mencari pendapatan sebanyak-banyaknya hanyalah salah satu cara untuk memperbesar aset. Kalo lihat SEMUA pengusaha sukses, tidak ada yang tiba-tiba besar, tiba-tiba sukses. Semua mulai kecil, pernah gagal, tapi gak stop usaha.

Hal yang perlu diperhatikan pengusaha (mirip financial planning buat pribadi):

Dana Darurat (12x biaya bulanan) agar bisa survive bila selama sekian bulan itu gak ada order/pemasukan sama sekali.
Proteksi (Asuransi) Aset-aset yang berharga ada baiknya di asuransikan.
Pencatatan Keuangan, memisahkan antara pribadi dan usaha.

Kalau kamu gak ngerti keuangan, cari partner yang ngerti… NAH TUH #lowker :)) Gak ada satu orangpun yang ngerti semuanya, itu gunanya partner buat berbagi tugas.

Siapa yang bilang keuangan usaha dengan keuangan pribadi gak ada kaitannya? Karena sesungguhnya dari keuangan usaha harus disisihkan sebagian untuk gaji pemilik. Nah pendapatan pribadi dari seseorang yang memiliki usaha, harus di prioritaskan untuk investasi dahulu baru buat bayar biaya-biaya. Investasinya dalam bentuk apa? Passive income. Bisa di puterin lagi buat bisnis, properti, atau “paper”. Kalau punya bisnis, godaannya: bisnis gue ya investasi gue! Padahal gak gitu juga, tetap harus invest di bidang lain. So, kesimpulannya harus dibenahi keuangan bisnis maupun keuangan pribadi.

Kata mas Benny, Bisnis itu bukan hanya untuk mencari keuntungan. Tapi untuk memberikan value added buat orang lain, gimana produk kita bisa bikin klien lebih oke, lebih happy.

Kelas memasuki sesi tanya jawab.

Lebih baik cari investor atau pinjam uang buat modal? Kalau investor tuh biasanya lebih cerewet dibanding kita minjem uang ke Bank. Cuma prosedur peminjaman uang memang lebih ribet. Investor sistem bagi hasilnya juga lebih besar. Jadi kalau mau nyari investor, cari yang bisa memahami kalau bisnis itu ada naik turunnya. Kalau investor di awal udah minta return sekian persen dari kita, mending minjem aja!! Investor itu harus mau ikut segala risk, termasuk laba dan rugi bersama. Berdasarkan kaidah fikih, “Keuntungan dibagi berdasarkan kesepakatan, dan kerugian dibagi berdasarkan porsi modal.”

Gimana cara menentukan gaji pemilik? Pertama tentuin dulu kebutuhan hidup plus investasi plus biaya-biaya, baru dapet angka gaji. Nah angka tadi jadi patokan buat ngejar usaha, agar gaji pribadinya tercapai, soalnya kan usaha harus untung juga (selain buat ngegaji pemilik).

Yang harus ditentuin pas bikin plan tahunan/bulanan itu minimum fixed cost sama target revenue. Siapa bilang Strategy harus dibuat sama orang marketing, dll. Strategy starts with FINANCE!

Contoh: (udah bagus banget kalau contohnya kayak gini mah)

Revenue 100%
variable cost 30%
—————–
Gross 70%
Fix cost 205
—————–
Nett 20%

Misalnya kita mau Nett tahun depan jadi 25% Berarti ada angka/persentase yang harus dikecilkan, atau menaikan angka revenue.

Intermezzo: Klien itu ada 4 tipe: Asik, Basic, Capek deh, Bye!

Pas mau pulang, ketemu @fxmario ngobrol-ngobrol lalu ditanya: “Udah punya pegawai belum?” saya jawab, “Belum tetap, baru yang dateng mingguan.” “Oh, berarti masuknya variable cost.” Iya juga ya, kalau pegawai tetap yang dateng tiap hari baru masuk ke fixed cost.. :)) *sebelumnya gak ngeh*. Buat yang belum tau fix cost itu apa, fixed cost itu contohnya gaji karyawan, listrik, air, sewa tempat (pokoknya yg di bayarkan/keluarkan rutin perbulan).

Katanya mba Ligwina, kalau usaha kecil (fix cost rendah, variable cost tinggi) perusahaan lebih mudah berlari karena beban kecil. Beda sama perusahaan besar (fix cost tinggi, variable cost rendah).

Nah, kelasnya selesai, kami semua berfoto bersama.

BY9S9qGCIAIBWU8

Anyway, goodie bag nya kece berat.

BY8itmUCAAATr2K

Semoga postingan ini bermanfaat ya bagi yang sudah memiliki usaha kecil ataupun bagi yang baru mau merintis seperti saya… :D

Sebenernya di dalam bukletnya kita dikasih materi Pengaturan Keuangan Secara Syariah, didalamnya ada tentang penerapan zakat, gimana cara ngebersihin pendapatan non halal, pengaturan pembagian keuntungan dan kerugian, pengaturan cash flow untuk pengembalian modal ke investor. Cuma detail isinya rahasia… *bilang aja capek ngetik Dit*

——————–

Disclaimer: semua foto diambil dari twitternya @QM_Financial

2 comments

Leave a Reply

CommentLuv badge