dokter gigi lalu…??

Hari ini genap 25 tahun usia ku, dengan keadaan berbaring di tempat tidur karena sakit, dita memikirkan kembali 25 tahun hidup yang telah dita jalani ini. Apa saja yang telah aku lakukan untuk kedua orang tuaku, bahkan apa yang telah dita perbuat untuk Indonesia negri tumpah darah ku ini, nothing, nihil… malu rasanya udah umur segini masih bergantung kepada kedua orang tua, belum bisa mandiri dan memberikan sesuatu yang berguna kepada Indonesia tercinta.

Tapi dita tetap berpikiran positif saja, karena dita sedang menjalani masa klinik (semacam ko-as bagi anak kedokteran gigi), jadi dita anggep aja, sebagai masa-masa persiapan untuk menyongsong masa depan yang luas didepan sana nanti. apa lagi, kedokteran dan kedokteran gigi ada PTT walaupun sekarang sudah tidak wajib.

Sedikit flashback ke belakang (ya iyalah masa kedepan). Alasan kenapa dita dulu milih jurusan kedokteran gigi adalah untuk pengabdian masyarakat. Orang-orang yang denger pasti langsung mencibir atau mencomooh tidak percaya. Biarlah orang berkata apa. Dita tadinya ingin mengambil jurusan kedokteran umum, cuman karena inget kalo dokter umum itu wajib jaga malem (soalnya ada papanya temen dita yang spesialis tapi tetep harus jaga malem), jadi dita milih jadi dokter gigi saja, soalnya dita gampang sakit. kalo ikutan jaga malem nanti sakit terus domz… Nah kenapa milih yang ada kata-kata dokternya, sebab dokter itu bisa menyembuhkan penyakit atau yang paling tepat adalah meringankan beban penderitaan orang. dokter adalah suatu profesi mulia.

Selain itu, setelah mendengar cerita mama tentang seorang dokter legendaris (Prof. DR. dr. Sujudi), ketika itu mama dan papa baru saja menikah, masih kere lah ceritanya, mama sakit dan berobat ke beliau. sampai disana mama tidak diaruskan membayar biaya berobat malah dikasih ongkos buat pulang, ketika di dalam, ditanya “ibu baru nikah ya?” (maklum tampang-tampangnya masih kere). ternyata bukan hanya ke dua orang tua dita saja yang ditanya macem itu, Beliau bahkan memberikan beras dan uang juga kepada orang lain yang berobat. Ternyata ada kode-nya, mana yg harus dikasi beras, mana yang harus di beri sangu uang, mana yang harus diberi macem2… susternya di depan yang bisa baca kodenya…

Saat mendengar cerita mama itulah dita memantapkan hati bahwa dita nanti kalo udah besar harus jadi dokter yang hebat (ya iyalah hebat udah dokter, doktor, profesor pula) juga baik dan dermawan seperti beliau.

nah bila sekarang pertanyaan tersebut diajukan ulang, masihkah dita ingin menjadi dokter yang seperti itu??

jawabnya tentu saja iyah… walau konteksnya mungkin sekarang agak berbeda, sekarang dita punya pola pemikiran lain tentang hal tersebut.

Tahu donk berapa ongkos yang dikeluarkan setiap kali anda berobat ke dokter gigi, yang pasti lebih mahal dari pada ke dokter umum kan? nah yang dita mau bahas bukan berapa ongkos berobat ke dokter gigi, melainkan apa yang bisa dita perbuat kelak, atau kalo ada yang setuju dan mau ikutan sama ide dita ini syukur alhamdulillah banget. Begini ide dita tersebut, (ide ini terilhami oleh adanya mobil keliling yang ada dikampus dita), kalo misalnya praktek kita laris manis, selain membayar pajak, kita sebagai orang islam kan juga wajib bayar zakat, kenapa ndak kita sisihkan saja zakat kita itu dalam bentuk memberikan pengobatan gigi gratis kepada masyarakat yang tidak mampu berobat ke dokter gigi. Nominal uangnya dibelikan ke bahan2, lalu jasa kita mengobati di gratiskan saja, hal tersebut bisa dilakukan sebumobkellan sekali, atau terserah enaknya saja, se terkumpul uangnya saja. lebih baik lagi kalo bisa dilakukan bersama-sama, sehingga bisa membeli atau mencari sponsor sebuah mobil yang dapat digunakan untuk mengobati pasien sambil keliling dari satu gang ke gang lainnya. saat ini dita bicara jakarta saja dulu, sebab di jakarta saja masih banyak banget orang-orang yang tidak care terhadap kesehatan gigi dan mulutnya. Kesehatan gigi dan mulut itu penting loh… jangan salah, menurut penelitian kerusakan dini gigi anak dapat mengurangi kepintaran, mengurangi konsentrasi dalam menyerap pelajaran, serta mempengaruhi pertumbuhan, jadi jangan disepelekan begitu saja. Masa dokter2 gigi mau kalah, kan udah banyak tuh SIM keliling, Bank keliling, perpustakaan keliling, dan mobil-mobil keliling lainnya. Sekalian juga sambil mengantri diperiksa dan diobati, calon pasien yang lain bisa disuguhi film-film tentang penyuluhan masalah kesehatan gigi dan mulut biar tidak bosen dan pengetahuan mereka juga bertambah.

kayaknya idenya sederhana banget yah,  cuman ya begitulah dita, dita hanya menuangkan ide yang sesuai dengan profesi yang dita tekuni, dengan harapan bisa membantu mengurangi masyarakat-masyarakat yang sakit gigi dan takut pergi ke dokter gigi sekaligus membantu mencerdaskan anak bangsa (dalilnya ada diatas, hehe)…

segini dulu deh merenungnya… kepala udah kembali pening… dita kembali ke pulau bantal dulu yah… kali aja nemu ide briliant lain… hehehe…

28 comments

Comments are closed.