#DearL, Musik itu Universal

Dear L,

Kedatangan suratmu kemarin membuatku antusias karena dibarengi oleh buku pesananku. Aku turut senang karena kamu mulai membaca buku lagi. Akupun sedang berjuang untuk meluangkan waktu disela-sela padatnya aktifitas agar bisa melahap barang 5 lembar setiap hari, dan tetap saja susah. Tak terhitung banyaknya buku-buku yang sudah dibuka dari plastiknya namun belum sempat dibaca hingga tuntas. Hei, aku tak sepertimu yang membiarkan buku tetap dalam segelnya ketika belum sempat membaca, buatku buku baru harus dibuka dulu, dilihat-lihat sekilas, lalu dikembalikan ke rak buku. Tapi aku harap buku merah kemarin akan menjadi titik balik dimana aku bisa menamatkan membaca sebuah buku. Januari sudah hampir habis, dan belum sebuah bukupun di tahun ini selesai kubaca. Pfftt..

Kamu tahu tidak, saking senang dan bergairahnya, bahwa sebelum aku memiliki buku tersebut, aku sudah membelikan sebuah pasangan untuknya. Buku piano berjudul “Complete Fairy Tales for Solo Piano”. Dengan harapan aku bisa memainkan lagu-lagu didalamnya, direkam, lalu menjadi temanku dalam mengunyah isi buku Brothers Grimm tersebut. Aku juga sepertimu, ketika kecil pernah belajar piano, bahkan bukan untuk waktu yang singkat. Tujuh tahun mempelajari piano klasik tidak menjadikan aku seseorang yang pandai bermain piano dan mencintai musik. Iya aku suka musik, tapi hanya sebatas menikmati, bukan mencintai sangat. Buatku bila menyukai sebuah lagu, tidak lantas berarti menjamin aku tahu siapa penyanyi atau judulnya. Karena bagiku, musik itu universal. :)

Aku tidak tahu apa yang sedang merasukiku, tapi beberapa waktu belakangan, aku kembali mulai menyentuh upright piano yang selama ini hening diselimuti debu tebal di ruang tengah rumahku. Membuka-buka kembali beberapa buku piano, mengingat-ingat bagaimana cara membaca partitur tersebut, dan setelah kucoba ternyata semua itu menyenangkan.

Lagu terakhir yang benar-benar belum bisa hilang dari kepalaku adalah lagu Carnival nya the Cardigans. Kamu pasti tahu lagu itu mengingatkanku pada siapa. Berbicara soal lagu kenangan, banyak sekali lagu yang mengingatkanku akan seseorang. Apakah itu bisa disebut juga sebagai lagu kenangan? Hampir semua orang yang pernah singgah dalam hidupku (termasuk sahabat dan teman-teman terdekat) memiliki “soundtrack”. Setiap aku mendengar lagu tertentu, maka otomatis aku akan langsung teringat kepadanya. Jadi bila kamu bertanya apa lagu kenanganku, jawabannya akan sangat panjang, dan menjadikan surat ini baru akan habis kamu baca esok hari. :lol:

Selain itu, aku mempunyai banyak kompilasi lagu-lagu yang khusus di dengar dalam keadaan tertentu, seperti setlist khusus untuk mandi, mencuci, belajar, menulis atau bahkan membaca. Jadi ingat dulu aku pernah menulis tentang ini. Bagaimana aku membaca Buku Brisingr yang tebal itu hanya ditemani lagu Viva la Vida nya Muse yang diputar terus menerus tanpa henti, hanya karena menurutku lirik dan iramanya cocok menggambarkan situasi cerita yang sedang aku baca.

Musik dan buku sepertinya tidak dapat dipisahkan ya, setidaknya bagiku. Aku senang membaca buku ditemani lagu-lagu yang ‘tepat’, semacam memberikan semangat dan rangsangan di otak dan mempermudahku untuk mengimajinasikan apa yang kubaca. *kamu baca buku apa tho Dit, sampai harus diimajinasikan segala* :mrgreen: Tapi katanya ada juga jenis orang yang kalau sedang membaca, entah jenis bacaan yang menghibur seperti novel, komik, majalah atau buku-buku berat bahkan belajar, justru harus dalam keadaan tenang dan hening baru dia bisa berkonsentrasi. Kalau aku sih gak bisa membayangkan dunia tanpa musik.

Kamu termasuk jenis yang mana? Membaca ditemani lagu, atau membaca dalam keheningan?

Sincerely,

D.

2 comments

Leave a Reply

CommentLuv badge