#DearL, Keeping Memories Alive

Dear L,

Sekarang aku bingung mau membalas apa, tadi sudah kutulis balasan suratmu panjang lebar kemudian mati listri dan draftnya tidak tersimpan. *ngeles aja terus Dit*. Aku coba tulis ulang ya…

Setelah membaca suratmu kemarin, aku lantas berfikir bahwa ternyata barang-barangmu banyak juga ya yang masih ada di aku. Celana panjang coklat yang waktu itu aku pinjam untuk keperluan syuting temanku, dimana aku mendadak didaulat jadi make up artis dan fashion stylist-nya, serta kamera DSLR Nikon mu yang sudah hampir genap setahun nginep di kamarku, untung gak aku jadiin bahan kelonan. #eh

Kalau menuruku lebih mending kamu beli kamera daripada beli sepeda. Karena Car Free Day sekarang macetnya ampun-ampunan. Bukan macet oleh kendaraan bermotor, tapi oleh lautan manusia, sepeda dan abang-abang jualan. Sedangkan sepengetahuan aku, akhir-akhir ini kan kamu udah mulai sering traveling, jadi mending beli kamera aja. Tapi mungkin belinya yang lebih ringan dan kecilan kali ya, apakah kamera prosumer atau mirror-less, atau apalah itu istilahnya, aku juga kurang mengerti. Nanti kalau jadi beli kamera bareng ya, sepertinya aku juga akan membeli kamera.

Setelah aku pertimbangkan, ternyata aku memang butuh memiliki kamera sendiri dan bukan minjem secara terus-menerus. Yah walaupun aku sempat punya “cita-cita” pengen punya photographer pribadi, tapi mau nunggu sampai kapan? Padahal kameranya butuhnya sekarang. Ada satu kejadian lucu yang akhirnya membuat aku benar-benar ingin membeli kamera beberapa waktu yang lalu. Saat itu aku memfoto Ajeng untuk tugas sekolahku, ternyata aku baru sadar, kalau dia bisa lebih berpose lepas dan santai, dibanding ketika yang mengambil foto adalah seorang lelaki (Ajeng sebelumnya pernah di foto oleh cowok untuk tugas yang lalu), hal tersebutlah yang memotivasi aku untuk bertekad membeli kamera. *brb pecahin celengan babi*

L, buatku, kamera itu salah satu hal penting yang harus dibawa ketika traveling, kenapa? Karena foto adalah salah satu cara kita untuk “keeping memories alive”. Manusia bisa lupa, salah satu melihat kembali kenangan adalah melalui foto-foto dan journal perjalanan eh, ngeblog juga salah satu menjaga cerita itu tetap hidup lho. Dan dengan foto-foto kita bisa membuat iri teman kita yang belum pernah berpergian kesana bukan? :lol: *abaikan kalimat barusan* Sayangnya, aku kalau traveling biasanya selalu piyambakan, sehingga foto-foto perjalananku hampir dipastikan tidak ada diriku didalamnya. Tapi tak apalah, melalui foto-foto itu aku juga sudah memiliki banyak memori untuk aku lihat lagi suatu hari nanti.

Salah satu cara lain aku dalam menikmati kenangan adalah membuat scrapbook. Buatku melihat scrapbook di kemudian hari lebih menyentuh dibanding melihat ribuan foto yang tersimpan di hard disk laptop atau bahkan di memori smartphone. Padahal foto yang ada di selembar scrapbook biasanya hanya satu hingga lima buah foto, tapi foto-foto itu sudah lengkap bercerita. Kalau kamu gimana L, suka mencetak foto-foto kenanganmu atau melihatnya sesekali di depan laptop bila rindu akan moment tersebut?

Ah, aku jadi keinget kalau masih punya janji membuatkanmu scrapbook sebagai hadiah ulang tahunmu yang lalu. Kalau kita ketemuan lagi, jangan lupa bawakan aku foto-fotomu ya… :D

Sincerely,

D.

3 comments

Leave a Reply

CommentLuv badge