#DearL, Kamu Percaya?

Dear L,

Alhamdulillah, rumahku tidak banjir di derasnya volume air hujan dua hari belakangan ini. Gimana kosanmu, masih mati listrik?

Aku membaca surat balasanmu sambil khawatir hujan turun semakin deras dan Jakarta akan semakin lumpuh. Sebagaimana sekolahku yang tiba-tiba hari ini diliburkan, padahal kemarin tidak. Kalau situasi seperti ini terus, bila tidak terlalu perlu keluar rumah, sebaiknya tidak usah, tapi jangan lupa memenuhi (kalau tidak ingin dibilang menumpuk) segala keperluan dasar untuk bertahan hidup. Bila masih ada tenaga yang berlebih dan hati yang lapang, membantu lingkungan sekitar yang kebanjiran sepertinya merupakan tindakan yang  cukup bijak, tapi jangan lupa memperhatikan kondisi diri sendiri juga sebelum membantu orang lain. Or at least saling share tips, suasana bajir atau lalu lintas di kanal sosial media juga membantu banget. Oh, jangan lupa juga menampung air bersih dan mengisi segala baterai gadget, karena dalam situasi ini gadget membantu banget sebagai alat komunikasi. (emang sebelumnya gak penting dit?). Untung pas kemarin kita janjian Banjir belum merajai jalanan ibukota dan mengubahnya jadi sungai seperti dua hari ini ya.

Well, sudah berapa lama kamu tinggal dan bekerja di Jakarta, 5 tahun? Gimana rasanya ketika menghadapi situasi seperti ini? Temanku pernah berkata, “Jakarta is like our mom, teach us how to survive.” Sepertinya kali ini ibu kota sedang mengajarkan lagi kita (anak-anaknya) cara untuk bertahan hidup. Kalau dihitung sudah beberapa kali aku mengalami banjir Jakarta seperti ini, ya iyalah Dit kamu seumur hidup lahir dan besar di kota yang egois ini, Mungkin ini juga seharusnya jadi motivasi yang memicu diriku untuk bisa keluar dari zona nyaman ini dan belajar hidup sendiri di kota lain yang bukan kota tempatku dilahirkan dan dibesarkan. Tapi.. Aku masih mempertimbangkan ke kota mana akan kubiarkan kakiku melangkah…

Kamu percaya cinta pada pandangan pertama? (bahasa kerennya Love at the First Sight gitu).

According to wikipedia, Love at first sight is a common trope in Western literature, in which a person, character, or speaker feels romantic attraction for a stranger on the first sight of them. Described by poets and critics from the Greek world on, it has become one of the most powerful tropes in Western fiction.

Greek

In the classical world, the phenomenon of “love at first sight” was understood within the context of a more general conception of passionate love, a kind of madness or, as the Greeks put it, theia mania (“madness from the gods”). This love passion was described through an elaborate metaphoric and mythological psychological schema involving “love’s arrows” or “love darts,” the source of which was often given as the mythological Eros or Cupid, sometimes by other mythological deities (such as Rumor). At times, the source of the arrows was said to be the image of the beautiful love object itself. If these arrows arrived at the lover’s eyes, they would then travel to and ‘pierce’ his or her heart, overwhelming them with desire and longing (love sickness).

Psychological conceptions

Research has shown two bases for love at first sight. The first is that the attractiveness of a person can be very quickly determined, with the average time in one study being 0.13 seconds. The second is that the first few minutes of a relationship have shown to be predictive of the relationship’s future success, more so than what two people have in common or whether they like each other

Yeah, I do believe. Kamu udah sering banget pastinya mendengar “curhat” ku soal yang satu ini ya.. Entahlah, buatku jatuh cinta itu kalau gak love at the first sight, yo mesti witing tresno jalaran soko kulino. So, either sama sahabat sendiri, atau sekalian sama stranger. Tau banget-banget soal orang itu, atau mending gak usah tau aja sama sekali. Beberapa orang menganggap, gak ada lah itu jatuh cinta pada pandangan pertama, yang kemungkinan terjadi adalah naksir pada pandangan pertama. Karena konon naksir sama cinta itu beda. Entahlah.. Tapi menurut psychological, bahwa pertemuan pertama memang berpengaruh kok terhadap ketertarikan dan kelangsungan hubungan kedepannya.

Buatku cinta itu take it or leave it. Ketika sudah memutuskan untuk mencintai seseorang (sesuatu), aku berusaha untuk menerima dia apa adanya, karena kalau benar-benar mencari orang yang sesuai dengan bayanganmu, kawin aja sama kloninganmu. Dan satu yang pasti, lower your expectation, because expectation kills. Don’t judge, apalagi karena pasti belum kenal toh, namanya juga stranger.

L, sudah jatuh cinta belum sama Jakarta? atau malah jadi benci karena bencana banjir yang terjadi akhir-akhir ini? Kalau jatuh cinta sama salah satu gadis Jakarta sudah belum? #eh. Anyway, I already pick three city, nanti kamu bantu pilihin yaaa… Dua diantara tiga kota itu pernah membuatku jatuh cinta pada pandangan pertama (sama kotanya ya, bukan sama penduduk kotanya). :lol:

Sincerely,

D.

8 comments

  1. Ajeng Lembayung says:

    Hubunganku sama Jakarta itu benci tapi rindu. Sebel banget ngeliat Jakarta makin sumpek, pengen banget ninggalin tempat ini untuk pergi sementara waktu. Tapi begitu kesempatannya dateng, entah kenapa aku masih aja bertahan di Jakarta. :|

  2. christin says:

    aku gak suka jakarta, dan gak pernah suka. beberapa kali dapat kesempatan tinggal di jakarta kok ya gagal, sampai yang terakhir kemarin aku cuma bertahan dua minggu :D

    btw, aku gak pernah percaya cinta pada pandangan pertama. tertarik, iya tapi bukan cinta. karena cinta itu tidak jatuh, tetapi tumbuh…
    christin recently posted..the hobbit: an unexpected journey

  3. Dani says:

    suka deh sama DearL series ini Dit. Gatahu awalannya di mana sih. :’D

    Semakin ke sini kok semakin tak percaya love at the first sight. Lebih percaya sama tresno witing jalaran soko kulino. Hehehe

Leave a Reply

CommentLuv badge