#DearL, Don’t Let Me

Dear L,

Balasan surat ini kutulis dini hari. Bukan karena aku tidak bisa tertidur, melainkan karena aku harus menunggui petugas PLN memperbaiki saklar listrik dirumah. Hujan besar memang tidak merendam rumahku, tapi tampaknya ia ingin membagi sedikit rasa penderitaan yang serentak dirasakan penghuni Jakarta. Eh, kalau bencana banjir Jakarta ini udah kelar, nonton Les Miserables yuk…

Hei, kudengar hari ini Ipul ngungsi ke kosanmu karena mati listrik juga ya? Lalu sudah berbuat keriaan apa saja kalian semalaman dan meninggalkan aku sendiri dalam kegelapan disini. Huh!

L, jangan keburu kangen dulu ah… Aku kan belum pergi. Eh, bukan kangen sama aku ya? #bhihik

It’s not easy you know, decided to move on from this city. Don’t make my start crying again. Meninggalkan kota kelahiran emang tidak pernah mudah kan, oh, tentu saja kamu tau bagaimana rasanya. Anyway, kalau kangen kan tinggal bilang, I’m just a tweet away… Mensyen aja, nanti aku langsung berlari, pesen tiket, berangkat deh pulang ke Jakarta. Karena Jakarta selamanya akan jadi “rumah” buatku. *Padahal mau pindah kemananya aja belum tau, gaya lo Dit*

Masih inget percakapan Grace Faraday dan Jimmy Wooters di Gengster Squad yang kita tonton malam itu?

Sgt. Jerry Wooters: Don’t go.
Grace Faraday: Don’t let me.

The truth is, I’ll never go, kalau emang ada sesuatu yang begitu penting menahanku disini. Tapi sampai sekarang, aku belum menemukan alasan kenapa aku harus tinggal. :)

L, kamu tau gak, kalimat diatas begitu dalam menusuk perasaanku malam itu. Semacam menoreh kembali luka yang belum menutup sempurna. Aku terus menanyakan kepada diriku sendiri, apakah ketika seseorang pergi dari hidup kita (kita?) hal apa yang sebenarnya harus dilakukan? Apakah harus menahan kepergiannya? atau membiarkannya pergi begitu saja?

Saat itu aku berprinsip, buat apa menahan orang yang tak ingin tinggal, coz it takes two to tango, rite?

Tapi kemudian aku berpikir, kalau aku yang akan pergi, apakah aku ingin dibiarkan saja pergi, atau justru ingin ditahan. Dan sampai sekarang aku belum berhasil menemukan jawabannya. It was all too blurry, with memory, with tears that never ends, and everythings in between. Tapi biar bagaimanapun, tentu menyenangkan bila kehadiranku diinginkan seseorang, dan kepergianku ditahan oleh orang lain (terutama orang yang disayang) kan(?) Walau bagaimanapun pahit dan menyakitkannya. At least itu menunjukkan bahwa ada yang membutuhkan kehadiranku.

“They say, if you love someone, set them free.”

Kalau ia masih milikmu, maka ia akan terbang kembali ke pangkuanmu…

Anyhow, Aku tetap menyimpan perasaan menyesal telah membiarkannya pergi, diinginkan ataupun tidak diinginkan, ditahan maupun tidak aku tahan.

Kamu gimana L? Ada yang bilang kalau pria tidak suka ditahan, dan lebih baik dibiarkan saja terbang bebas.

Sincerely,

D.

4 comments

  1. christin says:

    sulit juga ya kalau gak menemukan alasan yang cukup kuat untuk tetap tinggal… kayak apa yang kualami beberapa saat lalu. kira2 percakapannya begini:
    “aku boleh pergi gak, sekolah lagi sebentar.”
    “boleh. aku pasti nunggu kamu di sini.”
    “tapi kalau aku pergi nanti sepertinya aku gak akan kembali… gimana?”
    “then stay, please, just stay. don’t go.”

  2. Dani says:

    Kalau memang tidak ada alasan yang menahan kepergian sepertinya setelah menemukan kota baru akan kecil rasa rindu terhapa kota lama

Leave a Reply

CommentLuv badge