#DearL, Don’t Judge Me!

Dear L,

Aku membaca suratmu sambil tersenyum kecil. Aku tipe orang yang sangat terbuka, ketika aku menyukai seseorang (bahkan belum cinta ya..) aku akan dengan senang hati menyimpan foto-foto atau bahkan videonya di galeri foto handphone ku, kalau di wallpaper tentunya disiapkan untuk diisi oleh orang yang sangat dekat di hati. Tidak harus selalu pacar, bisa keluarga, sahabat, atau bahkan teman sekolah. Tapi kalau pas punya pacar, udah pasti walpaper dan bahkan background whatsapp ku pun, memajang wajahnya… <3 Maaf saat ini fotomu tidak terpampang di wallpaper iPhoneku, kecuali kamu ingin jadi someone specialku…

Ah karena kamu menyinggung soal share di social media, aku jadi teringat betapa social media sedikit banyak mempengaruhi kehidupan kita. Bagaimana social media mempengaruhi pola pikir seseorang dalam menilai orang lain. Aku sebagai seseorang yang hubungannya pernah beberapa kali gagal karena socmed, akhir-akhir ini sering merasa ingin diam saja. Gak ada hasrat untuk cuap-cuap terlalu sering lagi. Aku suka merasa serba salah. Socmed itu kan hanya media, tidak berarti sesuatu yang kita tuliskan itu lantas menggambarkan pribadi kita. Lalu kalau dibilang gitu, nanti di cap bohong, atau pencitraan.. Pencitraan itu sendiri kan gak harus selalu berkonotasi negatif! Aku jadi males.

Socmed juga membuat aktifitas stalking semakin mudah. Informasi-informasi yang sebelumnya mungkin baru bisa didapatkan setelah ngobrol berjam-jam dengan seseorang, sekarang bisa didapat hanya dalam hitungan menit atau bahkan detik. Berbekal jari dan konektifitas, kita bisa mengetahui segala sesuatu tentang orang yang ingin kita “stalk”. Bukan hanya tempat tanggal lahir, segala hal detail seperti pernah bersekolah dimana, kerja dimana, bahkan rumahnya dimana. Pernah pacaran sama siapa, dia suka apa, dan untuk sekedar mendapatkan foto-fotonya aja mudah banget! Semua disediakan di dunia maya ini.

Menurutku itu mempengaruhi cara kita memandang seseorang. Kalau misalnya twit, orang yang galau di twitter, bukan berarti kesehari-hari nya juga galau. Atau orang yang terlihat sangat manja, manis bisa saja justru sebenarnya sangat mandiri. Channel-channel itu dibuat agar kita bisa share, kadang ada sisi kita yang ingin “nyampah” atau mengeluarkan sisi yang selama ini gak bisa dikeluarkan dalam bentuk nyata di kehidupan sehari-hari, apakah lantas dia menjadi seseorang berkepribadian ganda?

Aku capek di judge sedemikian mudahnya hanya berbekal melihat-lihat track record conversationku di social media. Kalau jaim, nanti salah lagi, cablak salah juga. Apalagi ketika aku tahu ada beberapa orang yang memantau akunku. Tapi, kalau aku lantas diam dan tidak bercuap-cuap di kanal media itu lantas aku kemudian hanya hidup demi menyenangkan orang lain lagi? (sebagaimana masalah utamaku selama ini). Lalu aku di cap menjadi seseorang yang bukan dirinya sendiri.

Ah kusut! Maaf ya L, aku jadi curhat panjang lebar. Kalau kamu punya pandangan berbeda atau malah pernah punya masalah juga karena social media kah?

Sincerely,

D.

2 comments

Leave a Reply

CommentLuv badge