#DearL, Believing

Dear L,

Entah mengapa, akhir-akhir ini aku merasa hidupku jadi semakin berat. Tawa yang biasanya mudah lepas bebas ketika kita berkumpul bersama atau sekedar mentertawakan hal bodoh di baris-baris obrolan kita melalui mesenger. Bahkan hanya sekedar bergosip demi melupakan masalah yang ada di sekitar kita barang sejenak, sekarang tak lagi dapat membuatku tersenyum.

Iya aku tahu, bahwa sebagai sahabat kamu, kalian sudah dan terus berusaha menyemangati, yah kita saling menyemangati selama ini bukan(?) Tapi tampaknya hal tersebut tidak dapat mengurangi keresahan yang aku rasakan.

Beberapa bulan terakhir tampak seperti berlari di mataku. Hanya sekelebat kejadian penting saja yang dapat kuingat, tentu kamu juga tau itu apa. Dan akupun tau kamu juga mengalami kejadian yang mirip denganku. Tapi berbeda denganku, kamu cenderung menutup dan diam ketimbang cerewet dan menyerocos sepertiku.

Sudah bosankah kamu mendengarkan segala celotehanku, yang selalu bercerita tentang aku-aku-aku? Percaya deh, kalau akupun sebenarnya bisa menjadi pendengar yang baik. Paling tidak aku selalu berusaha untuk jadi teman yang selalu bisa menemani ketika dibutuhkan.

Ingat tidak? Kita pernah duduk diam asyik dengan kesibukan kita masing-masing di sebuah mall hingga mall tersebut tutup demi… Demi apa ya? Coba tolong ingatkan aku lagi. Saking asyiknya kita tidak sadar bawah disekiling kita sudah gelap, semua lampu dan listrik escalator maupun lift sudah dimatikan. Dan kita tertawa mencari jalan keluar.

Film yang malam itu kita tonton secara tidak langsung menohok perasaanku, entah, apa kamu juga merasakannya?

Believing in yourself and valuing fun over fear sounds like easy.

But at some point, I stop believing in myself. Tapi sebagai teman, kamu terus mengingatkan bahwa hidup tidak berakhir setelah patah hati. Bangkit dan kumpulkan patahan yang tersisa dan susun kembali menjadi utuh. Iya semua itu tidak mungkin terjadi dalam waktu singkat, tapi kamu percaya bahwa aku pasti bisa, karena kamu saja bisa. Eh, benar atau salah tebakan ku ini?

Anyway, jangan lupa.. Kita punya janji nonton esok hari, disertai janji-janji tawa bodoh yang tak terucap, air mata yang mungkin jatuh ketika film bisa dijadikan kambing hitam, dan obrolan-obrolan mengenai orang lain yang lebih suka kita lakukan dibanding berbicara tentang diri sendiri. Karena dengannya, sejenak kita dapat melupakan masalah yang sedang kita alami.

Hidup memang tidak pernah mudah. Kalimat itulah yang sedang berusaha aku tanamkan di kepalaku. But for now on, aku hanya ingin menikmati diriku apa adanya dulu. Ketika semua beban numpang di pundakku, aku bahagia mengetahui bahwa masih ada orang percaya bahwa badai pasti berlalu.

Sincerely,

D.

9 comments

  1. aad says:

    “hidup tidak berakhir setelah patah hati. Bangkit dan kumpulkan patahan yang tersisa dan susun kembali menjadi utuh.” <—— ini bagian paling keren!

  2. Yudhi says:

    valuing fun over fear is kinda hard sometimes… but never stop to believe in Yourself…
    If You don’t believe in Yourself, how another people would believe You? And that will make even more difficult for You to recover.

Leave a Reply

CommentLuv badge