Organic and Eco-Fashion for Us

“Heal the world. Make it better place for you and for me and the entire of human race. There are people dying. If you care enough for the living, make it better place for you and for me.” Heal the World ~ Michael Jackson

Ada yang gak tau lagu ini? Pasti tau semua ya.. Secara gak langsung lagu ini mengajak kita agar peduli dengan lingkungan sekitar. Untuk menjaga keutuhan dan keberlangsungan bumi tempat kita tinggal ini, sudah sepantasnya kan kalau setiap orang harus turut melestarikan lingkungan hidup.

Di akhir Februari lalu, salah satu pagelaran Fashion Week yang ada di Indonesia yang berfondasikan keafiran dan kayaan lokal (Local Movement) serta kepedulian lingkungan hidup (Green Movement) di tahun keempatnya kembali dengan mengusung konsep Sustainable Fashion atau Eco-Fashion sebagai bentuk kepedulian akan lingkungan hidup melalui kampanye “Fashionable People, Sustainable Planet”. Selain itu mereka juga mengadakan “Green Talkshow” guna mengajak masyarakat untuk #100persenMentalAlam dengan tidak hanya memperhatikan fashion sebagai gaya hidup tetapi juga peduli akan lingkungan.

Continue reading →

Produk Budaya yang berbasis Lingkungan

Kemarin sambil jaga saya iseng browsing-browsing batik untuk project saya yang lain. Halaman demi halaman ditelusuri baru saya kemudian ngeh kenapa ada batik yang mahal banget, mahal aja dan murah. Terlepas dari proses pembuatannya yang secara ‘tulis’, ‘cap’ dan ‘print’, ternyata proses pewarnaannya juga dapat mempengaruhi kualitas dan harga jualnya. Selama ini mungkin kita tidak terlalu memperhatikan bagaimana cara para pengrajin batik itu mewarnai kainnya agar dapat memiliki warna-warna yang sering kita lihat itu. Fokus utama kita ketika membeli batik adalah jenis pembatikannya.

Batik merupakan kerajinan khas Indonesia yang sudah diakui dunia. Seni kerajinan batik adalah teknik melukis di atas kain yang menggunakan malam sebagai tintanya dan canting atau cetakan yang terbuat dari tembaga sebagai alat lukisnya dengan motif-motif tertentu yang memiliki kekhasan. Teknik ini dikenal sebagai wax resist dyeing.

Kita sudah mulai mengerti, “belilah batik tulis, atau paling tidak cap” karena dengan begitu kita membantu kehidupan dan mata pencaharian para pengrajin batik tersebut. Yang jarang kita ketahui adalah bagaimana cara pewarnaan batik.

Continue reading →

Perawatan busana dari Wastra Indonesia

Agar busana anda yang terbuat dari kain wastra nasional dapat tahan lama dan tetap terjaga keindahannya, ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk merawatnya.

Pertama, busana yg terbuat dari wastra nasional (batik, tenun, dll) sebaiknya dicuci tangan, bukan dengan mesin.

Gunakan sabun yang ringan (mild detergen) ketika mencuci busana dari wastra nasional. Sabun mandi tidak boleh digunakan dalam mencuci wastra, sebab mengandung lemak, dapat membuat pudar. Buat batik dapat menggunakan lerak, pilihan lain adalah bisa gunakan detergen cair yang biasa dipakai buat mencuci sutra.

Ketika mencuci wastra tradisional, cukup dikucek sebentar lalu bilas, JANGAN disikat karena akan merusak serat kain.

Continue reading →

Saroong

A sarong or sarung is a large tube or length of fabric, often wrapped around the waist and worn as a kilt by men and as a skirt by women throughout much of South Asia, Southeast Asia, the Arabian Peninsula, the Horn of Africa, and on many Pacific islands. The fabric most often has woven plaid or checkered patterns, or may be brightly colored by means of batik or ikat dyeing. Many modern sarongs also have printed designs, often depicting animals or plants [wikipedia].

Indonesia is a very beautiful and rich country. Indonesia have a gazilion tradition, food, dance and also textiles, including saroong. For me, nowadays, batik is already bored me. Everyone wear batik in every where and every occasion. Me, who loves brigth and cheerful color, somehow fallin love with saroong (or sarung), especially Bugis or Samarinda saroong. I didn’t say that I hate batik, but we [Indonesian] people have to open our eyes in any option, we have so many kind of traditional textile like ulos from North Sumatra, we also have Songket from West Sumatra and Palembang, we have batik almost in avery city in Java, we have a tenun ikat from NTT, Bali an other city, and Saroong from Kalimantan. We have to what we exactly have, so other country can’t take it easily from us.

With so many kind of patterns, colors and texture, saroong can be used for an old fashion style or in a fancy way. Who said that Indonesian don’t have a good tartan? Saroong it is… :D

Motif-Motif Batik

baiklah, karena sebelumnya sudah membahas soal perbedaan di postingan ini, maka sekarang saya akan membahas hal lain… :)

gimana kalo motif aja, kali2 kalo ada salah, mungkin bisa dibantu sama orang lain… (maklum saya ndak ada darah jawanya, tapi sesama orang indonesia, pantes donk kalo kita belajar tentang budaya kita)

Motif batik ada ribuan. tapi ribuan motif batik itu, dikelompokkan menjadi 7 kelompok batik.

1. Motif Parang
contohnya: Parang Klitik, Parang Rusak.

parang klitik
parang klitik
parang rusak
parang rusak

2. Motif Goemetri
contohnya: Gambir Saketi, Limaran, Sriwedari, Tirta Teja.

3. Motif Banji
contohnya: Banji Bengkok.

4. Motif Tumbuh-tumbuhan Menjalar
contohnya: Cokrak-Cakrik, Lung Klewer, Semen Yogya.

semenyogya
semenyogya

5. Motif Tumbuhan Air
contoh: Ganggong, Ganggong Sari.

6. Motif Bunga
contoh: Kembang Kenikir, Trumtum.

truntum
truntum

7. Motif Satwa Dalam Kehidupannya
contoh: Gringsing, Sido Mukti.

grising
grising
sidomukti
sidomukti

——————————————————–

susah sekali menemukan ragam motif-motif batik tersebut. semoga bila kelak, saya menemukan gambar2 motif tersebut, postingan ini akan saya edit dan perbaharui.

Batik milik kita, Indonesia.

berhubung jumat 2 oktober kemaren UNESCO abis mengukuhkan bahwa Batik Indonesia menjadi salah satu bagian dari warisan budaya takbenda UNESCO (Representative List of Intangible Cultural Heritage-UNESCO), walau negara tetangga ada yang mengklaim batik sebagai miliknya, kita tetep harus bangga, karena UNESCO menetapkan Batik sebagai Warisan Budaya kita.

Nah gara2 hal tersebut, saya jadi latah kepengen nulis tentang batik. Batik yang diakui dunia adalah proses membatiknya, bukan kain nya. bukan motif-motifnya, melainkan proses pengerjaannya (ituloh, yang pake canting, malam, tekniknya itu yg disebut batik)

kayaknya masih banyak banget yg salah kira, kalo batik2 yg di jual di toko kain atau di pasar2 tradisional itu, murni batik (yg diresmiin sama UNESCO). tahun lalu apa yah, ketika batik sempet booming mampus, semua org pake batik, artees pake batik, org2 ke kampus pake batik, ya bagus sih… tapi rata2 batik yg mereka pakai itu (karena ketidak tahuan) adalah batik Print. alias kain print motif batik. sedang Batik yg sesungguh nya adalah proses pembuatannya, bukan motifnya. sedang batik murah yg suka di jual di ITC2, pasar pagi-pasar pagi (saya mengamatinya di Jakarta loh, jadi maap2 kalo salah) adalah buatan Taiwan atau hongkong. jadi, yg tadinya kita kira, kita mau melestarikan buadaya kita, malah membuat untung para pengimport. kalau mau beneran pakai batik, pakailah batik tulis (muahaaaalll bok… eik juga tahu itu) atau paling tidak Batik cap. karena Batik yg seperti itulah, batik2 yang dihasilkan oleh para pengerajin batik, yg konon katanya udah hampir punah itu.

nah, sedikit sharing tentang perbedaan ketiga macam batik tersebut (tulis, cap, print):

Batik Tulis :

1. Dikerjakan dengan menggunakan canting yaitu alat yang terbuat dari tembaga yang dibentuk bisa menampung malam (lilin batik) dengan memiliki ujung berupa saluran/pipa kecil untuk keluarnya malam dalam membentuk gambar awal pada permukaan kain.
2. Bentuk gambar/desain pada batik tulis tidak ada pengulangan yang jelas, sehingga gambar nampak bisa lebih luwes dengan ukuran garis motif yang relatif bisa lebih kecil dibandingkan dengan batik cap.
3. Gambar batik tulis bisa dilihat pada kedua sisi kain nampak lebih rata (tembus bolak-balik) khusus bagi batik tulis yang halus.
4. Warna dasar kain biasanya lebih muda dibandingkan dengan warna pada goresan motif (batik tulis putihan/tembokan).
5. Setiap potongan gambar (ragam hias) yang diulang pada lembar kain biasanya tidak akan pernah sama bentuk dan ukurannya. Berbeda dengan batik cap yang kemungkinannya bisa sama persis antara gambar yang satu dengan gambar lainnya.
6. Waktu yang dibutuhkan untuk pembuatan batik tulis relatif lebih lama (2 atau 3 kali lebih lama) dibandingkan dengan pembuatan batik cap. Pengerjaan batik tulis yang halus bisa memakan waktu 3 hingga 6 bulan lamanya.
7. Alat kerja berupa canting harganya relatif lebih murah berkisar Rp. 10.000,- hingga Rp. 20.000,-/pcs.
8. Harga jual batik tulis relatif lebih mahal, dikarenakan dari sisi kualitas biasanya lebih bagus, mewah dan unik.

Batik Cap

1. Dikerjakan dengan menggunakan cap (alat yang terbuat dari tembaga yang dibentuk sesuai dengan gambar atau motif yang dikehendaki). Untuk pembuatan satu gagang cap batik dengan dimensi panjang dan lebar : 20 cm X 20 cm dibutuhkan waktu rata-rata 2 minggu.
2. Bentuk gambar/desain pada batik cap selalu ada pengulangan yang jelas, sehingga gambar nampak berulang dengan bentuk yang sama, dengan ukuran garis motif relatif lebih besar dibandingkan dengan batik tulis.
3. Gambar batik cap biasanya tidak tembus pada kedua sisi kain, (tapi ada juga yang tembus)
4. Warna dasar kain biasanya lebih tua dibandingkan dengan warna pada goresan motifnya. Hal ini disebabkan batik cap tidak melakukan penutupan pada bagian dasar motif yang lebih rumit seperti halnya yang biasa dilakukan pada proses batik tulis. Korelasinya yaitu dengan mengejar harga jual yang lebih murah dan waktu produksi yang lebih cepat. Waktu yang dibutuhkan untuk sehelai kain batik cap berkisar 1 hingga 3 minggu.
5. Untuk membuat batik cap yang beragam motif, maka diperlukan banyak cap. Sementara harga cap batik relatif lebih mahal dari canting. Untuk harga cap batik pada kondisi sekarang dengan ukuran 20 cm X 20 cm berkisar Rp. 350.000,- hingga Rp. 700.000,-/motif. Sehingga dari sisi modal awal batik cap relatif lebih mahal.
6. Jangka waktu pemakaian cap batik dalam kondisi yang baik bisa mencapai 5 tahun hingga 10 tahun, dengan catatan tidak rusak. Pengulangan cap batik tembaga untuk pemakainnya hampir tidak terbatas.
7. Harga jual batik cap relatif lebih murah dibandingkan dengan batik tulis, dikarenakan biasanya jumlahnya banyak dan miliki kesamaan satu dan lainnya tidak unik, tidak istimewa dan kurang eksklusif.

Batik Printing:

Pengerjaanya dengan menggunakan mesin (mananya juga printing), memiliki harga lebih murah daripada kedua jenis batik diatas, waktu pengerjaannya cenderung lebih singkat, warnanya sangat cerah. motif sama persis, sedang batik tulis itu motifnya ndak bisa sama persis, namanya juga buatan tangan. batik printing look very perfect, sama seperti kain motif lainnya, hanya saja motifnya adalah motif batik. gambar tidak tembus bolak-balik. hanya 1 sisi saja.

jadi sekarang, kira-kira mata kita sudah lebih melek sedikit tentang batik khan? ketika berikutnya kita akan belanja batik, ada baiknya bertanya-tanya lebih teliti ke penjaga tokonya, dan juga lebih teliti melihat dan meraba batik yang akan kita beli. batik print emang cenderung lebih murah dan memiliki motif beragam. tapi kalau kita benar-benar ingin melestarikan budaya kita. alangkah baiknya membeli batik tulis (yang mahal itu) atau setidaknya batik cap.

———————————————–

sumber: perbedaan batik tulis dan batik cap