what a day!

matahari bersinar terik ditambah kemacetan lalu lintas yang biasa ia  hadapi setiap hari, bising suara klakson terdengar diluar  bersahut-sahutan, mobil dan motor yang tak mau saling mengalah,  ditambah dengan lampu hijau yang bertukar begitu cepat.

gadis itu berulang kali menatap jam yang terletak di dashboard mobil.  semakin lama, wajahnya semakin tertekuk. jarinya sibuk  menganti  channel radio. dia sudah pasrah. tak mungkin dia dapat tepat waktu tiba  di tempat janjian dengan kawannya.

Continue reading →

Goodbye Hon…

Begitu ku melangkahkan kaki menaiki ferry yang kan membawaku ke Singapore, perasaan aneh mulai melingkupiku. Hon, masih ingatkah kau kepadaku?

Memandang ombak diluar sana, diiringi kicau burung dan belaian lembut angin diwajahku, perlahan jatuh sebutir airmata. Tergesa kuusap sebelum ada yang melihatnya. Sudah lama sekali rasanya sejak terakhir kali kumenapakkan kaki disini.

Dulu… Setiap tahun kita pergi ke Singapore. Tanah impian kita.

Masih ingatkah kamu dengan janji-janji itu?

Alunan cinta yang kita rajut bersama. Sekarang menguap tinggal kenangan. Aku terlalu takut untuk membayangkan menginjak tanah ini tanpa dirimu. Rasanya sungguh menyesakkan.

Ah… Ferry ini sudah menepi. Sanggupkah ku bejalan tanpa terkenang akan dirimu?

Setiap langkah, setiap ke menengokkan wajah kebelakang, rasanya aku masih bisa melihat dirimu berdiri disana dengan senyum hangat mu. Kamu yang selalu berjalan dibelakangku, entah dengan alasan apa. Katamu, “Agar aku selalu dapat mengawasimu!”. Kamu tidak ingin kehilangan diriku. Benarkah begitu?

Lalu jika benar, dimana dirimu saat ini?

Mimpikah semua yang tlah kita lalui selama ini.

Hon, ingatkah bagaimana impian kita membangun keluarga kecil bahagia disini. Kamu ingin sekolah lagi mengambil spesialis, sementara aku berperan jadi ibu rumah tangga yang bahagia. Kita akan menjalani masa depan kita bersama anak-anak kita kelak. Kamu berangkat ke rumah sakit dimana aku mengantarkan anak-anak pergi kesekolah. ya… saat itu kamu berkata kalu sebaiknya aku jangan bekerja dulu sementara kamu sekolah lagi.

Sekarang semua itu tinggal angan yang tak sampai. Kita berpisah baik-baik dan semua mimpi itu sirna bersama perpisahan kita.

3 tahun Hon, aku tidak berani menapakkan kaki disini, karena takut airmata kan membanjiri wajah maupun hatiku.

Sekarang ku coba kembali ketempat ini. Tak tahu apakah diriku dapat melupakanmu ataukah S’pore tetap menjadi tempat impian kita. I must try Harder… Sekarangpun mataku telah basah.

Hon, aku tidak tahu apakah rasa itu masih ada, yang pasti every time I close my eyes, You always there. Smile at me.

I know you’re with someone now, but me… I’m still alone. Not because I can’t forget you. tapi karena aku masih terlalu nyaman dengan kesendirianku. Terlalu banyak mimpi indah yang telah kita rajut bersama.

Hon, mungkin memang perpisahan yang terbaik. Kita sama-sama keras kepala, sama-sama egois. Walaupun rasa cinta dan kasih yang kita miliki pun begitu besar, tidak dapat menjembatani perbedaan besar yang seperti jurang menganga dihadapan kita. Betapapun besarnya cinta itu takkan dapat mengalahkan itu.

Hon, bila waktu itu kita tidak berpisah. Akan seperti apakah kita sekarang? Apakah kita telah memiliki putra-putri cantik yang waktu itu kita impikan. Terkadang aku masih memikirkan itu.

Andai… waktu itu kita tidak berpisah… Andai kamu mau berpindah keyakinan, atau andai rasa cinta yang kita miliki begitu besar sehingga perbedaan itu tidak menghalangi kita untuk bersatu. Ya, tapi toh semua itu sudah ada yang mengatur. Mungkin aku memang bukan yang terbaik untukmu, begitu juga sebaliknya.

Hon… Aku harap akupun dapat segera menemukan kebahagianku, sebagaimana yang kamu akui telah kau temukan bersamanya. Dengan mencoba melangkahkan kaki di negri impian kita ini, aku harap dapat mengusir semua bayangmu dari relung hati ku.

Goodbye Hon… I will allways remember you…