Akses Layanan Kesehatan yang Merata

Beberapa waktu yang lalu, ibu saya mengalami kejadian patah gigi palsu nya. Beliau sangat panik, yang mengakibatkan sayapun  ikut panik. Kenapa panik? Oke kalau hal tersebut terjadi di hari kerja, kami berdua tidak akan panik karena dokter gigi praktek di hari kerja, kami panik, karena pada weekend terutama minggu sangat jarang sekali ditemui dokter gigi yang praktek.

Mungkin cerita pengalaman ibu saya itu sangat sederhana dan gak penting. Karena dokter gigi memang jarang membuka praktek nya di hari libur, dikarenakan tindakan di kedokteran gigi agak jarang yang darurat, dan toh kalau sakit gigi, orang masih bisa sembarang minum obat penghilang rasa sakit yang ada di rumahnya saja dulu, baru ke dokter gigi di hari Seninnya. Tapi lain cerita bila misalnya ibu saya mengalami kedaruratan medis lain yang tidak berhubungan dengan gigi. Seperti terkena serangan Jantung, pingsan, atau apapun.

Memang banyak Praktek dokter umum yang buka di hari libur, ataupun 24 jam, tapi itu semua biasanya ada di kota besar. Kebayang gak kalau masyarakat yang tinggal bukan di kota besar mengalami suatu kedaruratan medis. Mereka terpaksa nunggu hingga besoknya dan itupun harus menempuh jarak yang begitu jauh, dan tak jarang harus menyebrang ke kota sebelah, iya kalau penyakit mereka gak parah, kalau parah mungkin mereka akan segera menemui ajalnya bila tidak langsung ditangani.

Di Indonesia, ibu Hamil aja masih banyak yang meninggal ketika melahirkan. Padahal melahirkan itu sendiri bukan merupakan suatu penyakit. Bayangkan gimana banyaknya orang-orang yang meninggal karena penyakitnya tidak sempat ditangani oleh dokter karena jauh nya tempat praktek si dokter atau karena mahalnya biaya berobat ke dokter. Alangkah sedihnya bangsa ini. Alangkah tidak adilnya akses kesehatan bagi sebagian masyarakat yang tinggal di Negara kita. Padahal Negara kita bukan Neraga yang masih terlibat peperangan, tapi kenapa akses untuk kesehatan aja begitu sulitnya?

Di postingannya mba Memeth, ada komik “Orang Miskin di Larang ke Rumah Sakit“. Pada kenyataannya yang terjadi memang seperti itu kan? Kesannya SEHAT itu hanya untuk orang-orang yang punya UANG saja. Padahal seharusnya itu HAK untuk semua orang tanpa terkecuali. Gak usah orang sakit, Korban tabrakan Tugu Tani beberapa waktu yang lalu saja, untuk membawa pulang jenazah, keluarga harus merogoh kocek sebesar 7,5 JUTA! Betapa banyak ibu yang meninggalkan anak yang baru dilahirkannya di Rumah Sakit karena gak mampu menebus biaya persalinan.

Di Indonesia penyediaan layanan kesehatan menjadi tantangan tersendiri. Tingginya biaya yang harus dikeluarkan untuk mendapatkan pelayanan kesehatan membuat pengobatan menjadi sangat terbatas bagi kalangan ekonomi menengah ke bawah. Walau sudah ada program pemerintah yang memberikan pelayanan kesehatan bagi bagi masyarakat yang kurang mampu, masih banyak kekurangan yang terjadi sehingga akses untuk layanan kesehatan sulit didapatkan dan tak terjangkau bagi masyarakat yang kurang mampu dan tinggal di daerah terpencil. Masih banyak masyarakat kurang mampu yang tetap saja susah berobat walau sudah memiliki surat keterangan kurang mampu, atau punya kartu Askes.

Selain itu masih ada banyak tantangan lain yang muncul dan menghambat peningkatan kesehatan dan kesejahteraan di Indonesia diantaranya:

1. Rendahnya kesadaran akan bahaya kanker payudara di kalangan wanita Indonesia.

2. Kurangnya pengetahuan ibu hamil dibeberapa bagian Indonesia tentang proses melahirkan dan hanya mengandalkan pengalaman, bantuan bidan atau dukun saat melahirkan yang bisa menyebabkan kematian.

3. Tidak semua Tenaga Medis yang sudah ada memiliki akses ke teknologi terbaru di bidang ilmu kesehatan.

4. Meningkatnya penyakit-penyakit kardiovaskular, ginjal, pernapasan, artritis, dan kanker.

Apakah terbersit di pikiran kita, kira-kira apa ya yang bisa saya/kita bantu agar lebih banyak lagi orang yang mendapatkan akses layanan kesehatan yang lebih baik? Phillips mengajak masyarakat Indonesia mengambil peran dalam meningkatkan kualitas kesehatan dan kesejahteraan bangsa Indonesia melalui The ‘+’ Project. Ada hadiah bagi ide-ide terbaik yang dipilih. Kalau kita memang peduli, yuk bikin perubahan positif untuk Indonesia!

Kalau mau ikutan, caranya gampang:

a. Daftarkan diri di website http://philips.co.id/plus

b. Pilih tantangan dan submit ringkasan ide tidak lebih dari 1000 kata. Jika ada, materi pendukung berupa foto atau video bisa ditambahkan.

c. Mekanisme kompetisi selengkapnya bisa dibaca di: sini

Oh iya, kategori yang dikompetisikan selain  Akses terhadap Layanan Kesehatan (Access to Healthcare), ada juga Kota Layak Huni (Livable Cities) dan Hidup Sehat (Healthy Living). Kontes ini berakhir tanggal 29 Januari 2012. Jadi yang mau ikut, buruan, soalnya sudah hampir berakhir. Oh satu lagi, tidak ada batasan dalam jumlah ide. Jadi, siapapun bisa mengirim sebanyak mungkin entry di kategori manapun. ;)

Anyway, di akhir program, Philips akan membantu mewujudkan ide terbaik dari pemenang yang terpilih. Makin semangatkan buat sumbang ide :D

Aku ikutan juga ahh… :mrgreen:

——————–

gambar diambil dari sini, sini dan sini

6 comments

  1. Billy Koesoemadinata says:

    akses kesehatan itu ga sulit, cuman ga mudah aja..

    persoalan itu udah pernah saya alami beberapa kali, terutama kalo berkaitan saat mengakses kesehatan menggunakan jaminan (baca: asuransi). ada aja form yang musti diisi, orang yang musti ditemuin, surat yang musti diurus.. padahal namanya orang sakit, ga mungkin dong ngurus sendiri semua itu, dan keburu penyakitnya “menggila” dan bikin yang sakit jadi tambah parah..

    miris.. banget..

    itu makanya, selama ini saya seminimal mungkin untuk datang ke dokter/akses kesehatan lainnya. kalo udah diingatkan berkali-kali oleh istri saya, dan atau sulit mencari pengobatan untuk penyakit itu, barulah saya mendatangi dokter/akses kesehatan. saya tau itu salah, tapi mau gimana lagi? daripada saya tambah sulit mengurus pengobatan? anyway, pemikiran seperti ini juga ada di beberapa kenalan saya..
    Billy Koesoemadinata recently posted..Short Story #85: Tipe Yang Dicari

  2. Oom Yahya says:

    Di Indonesia itu bukan cuma layanan kesehatan yang belum merata, tapi hampir semua aspek kehidupan. Contoh saja jembatan yang hampir ambruk itu. Bagaimana bisa menyediakan layanan kesehatan yang mumpuni kalau prasarananya saja seperti itu
    Oom Yahya recently posted..Mengenang Papi

  3. sabai says:

    It always breaks my heart to read or hear anything related to poor prenatal and antenatal care. May be because I went through it myself as almost the most physical pain I’ve ever gone through. Ah, I really wish there are more noble hearted midwives, as I know some…
    sabai recently posted..Incredible India: Agra

Leave a Reply

CommentLuv badge