#AkberJKT Travel Writing oleh @Windyariestanty

akberjktKamis minggu lalu (21/03/13), kelas Akademi Berbagi Jakarta yang diadakan di gedung Merah Putih lantai 3, Univ. Moestopo, di ajar oleh mba Windy Ariestanty, seorang Editor yang terkenal telah mengorbitkan banyak penulis muda (eh, salah gak sih ini?) selain itu beliau juga menulis banyak buku salah satunya Life Traveler. Tema kelas AkberJKT malam itu adalah Travel Writing.

Bagaimana sih, memindahkan pengalaman traveling menjadi suatu bentuk tulisan?

“I write therefore I am. “

Manusia itu pada dasarnya adalah seorang pejalan. Sekarang kita bermimpi untuk melakukan apa yang sejak dulu sudah dilakukan nenek moyang kita yang nomaden, berpergian dan berpindah, pindah. Bahkan Nabi Adam aja berjalan jauh sekali demi mencari Siti Hawa istrinya. Selain itu perjalanan dapat membuat mu bertemu hal-hal baru, kenalan baru, dan juga ternyata dapat membuka peluang kerja baru. Bagi seorang Windy Ariestanty yang suka menulis, traveling membuat dia bisa memiliki bahan tulisan lebih banyak. Menurut penilitian, orang yang suka menulis itu jarang pikun, persis seperti yang diinginkan mba Windy, ia ingin melawan lupa.

Dimana sih kita bisa menuliskan kisah perjalanan kita? Kisah2 perjalanan itu bisa ditulis, entah di blog, atau serial twitter traveling, ataupun berkontribusi di majalah/web. Bagi yang ingin mengirimkan travel writing nya ke majalah/media, pelajari dulu gaya menulisan majalah tersebut. Karena setiap majalah/media punya aturan masing-masing dan gaya tulisan yang berbeda-beda. Misalnya, menulis untuk majalah GoGirl tentu akan berbeda cara penulisan, gaya bahasanya dengan menulis untuk National Geographic.

Ada beberapa tipe travel writing, kalau dalam bentuk Artikel, beberapa contoh sudut pandang yang diambil adalah: destinasi, festival, personal, essay, panduan perjalanan, dll. Tipe selanjutnya: Travel Guide Book, detail perjalanan harus di tulis semua, tapi cari unsur yang berbeda dengan buku-buku lain yang sudah ada. Tipe ke-3: Narrative Travel Writing, atau Sastra perjalanan. Pola penulisannya ada fiksi dan non-fiksi. Sastra perjalanan ini adalah bentuk tulisan paling dasar yang mungkin kita semua pernah menuliskan kisah perjalanan masing-masing. Narrative Travel Writing bisa di kisahkan dalam berbagai bentuk, sehingga terkadang suka disalahkan artikan dengan novel. Tipe selanjutnya, Comic/Graphic Travel Writing. Buat yang suka traveling dan suka gambar, mungkin tipe tulisan ini bisa dicoba. Comedy Travel Writing mungkin tipe travel writing yg paling susah. Jgn sampai bercandaan kalian menyinggung penduduk setempat.

Selain tipe-tipe diatas, ada satu macam lagi, yaitu travel photography. Jangan takut mengambil foto menggunakan kamera apa saja, termasuk kamera yang ada di gadget kita, baik itu BlackBerry, Android, iPhone,dll. Foto bicara moment, menceritakan apa yang mata kita tangkap saat itu, jangan pusingkan dengan jenis kameranya apa. Kata mba Windy, buat yang suka share foto di instagram, coba deh filter-filter nya jangan di pakai ketika share foto perjalanan. Karena yang orang ingin lihat adalah moment dan gambaran asli dari tempat yang kita datangi, bukan ingin melihat filter-filter yang ada di instagram.

windy ariestanty

Contoh beberapa travel photography

Berikutnya Windy memberikan Beberapa tips untuk travel writing.

1. Riset. Tidak hanya destinasi, tapi juga siapa target pembaca anda. Angle travel writing yang mengkhususkan untuk kuliner atau festival, tentunya akan berbeda. Riset!
2. Jangan bertele-tele dalam menceritakan perjalanan anda. Sampaikan pengalaman tepat pada sasaran, cerita perjalanan sebaiknya jujur dan tidak dilebih-lebihkan. Setiap orang akan mengalami kisah perjalanan yang berbeda.
3. Koordinasikan seluruh indera-indera kalian. Aroma, warna, bentuk, rasa (kalau kuliner) masukan semua unsur-unsur tsb.
4. Gunakan Personal Voice. Tentukan akan membuat narasi seperti apa, apakah personal, formal, komedi, dll.
5. Keep it Light. Jangan menulis yang begitu berat sehingga orang yang membacanya perlu membuka kamus bahkan thesaurus.
6. Sajikan fakta2 seminimum mungkin (jumlah penduduk, letak geografis, dll), sebagai gantinya sajikanlah fakta-fakta yang unik dari perjalananmu. Lebih bagus lagi kalau kita bisa menyajikan fakta-fakta unik yang tidak bisa/sulit ditemukan di internet.
7.
 Bila kalian tidak menulis panduan perjalanan, masukan dialog-dialog untuk memperkuat tulisan itu.
8. Tulisan perjalanan naratif, harus “showing” selain memasukan dialog-dialog yang mendukung cerita, masukkan pula adegan-adegan kunci.
9. Buat catatan perjalanan, tapi tidak ketika sedang berjalan. Lakukan pencacatan agar informasi kecil tidak tertinggal. Tapi lakukan ketika malam hari, jangan ketika kita sedang melakukan perjalanan, nanti malah tidak enjoy.
10. Kenali target pembaca travel writing kalian.
11. Gunakan grammar atau EYD yang baik, jangan menyingkat-nyingkat kalimat, atau menulis memakai bahasa gaul, atau bahasa alay.
12. Read other travel writer. Jangan sombong. Setiap cerita perjalanan istimewa bagi penulisnya, belajar dari banyak traveling writer.
13. Travel Beyond Destinations. Tempat seterpencil apapun pasti sudah ada yang pergi kesana, kecuali kamu hendak menulis bagaimana cara pegi ke MARS, maka angle apa yang hendak kita sampaikan.

Jangan lupakan beberapa hal berikut! Showing, not telling; Nothing is new but be unique & fresh, Small things make a difference, Respect the culture, Not a mere destination.

“Seorang pejalan, tidak pernah menganggap dirinya orang asing.” ~ @windyariestanty. Perjalanan bukan lagi kisah tentang destinasinya, melainkan tentang manusia-manusianya.

Ambil banyak foto, termasuk nama jalan, nama tempat, atau apapun, untuk mempermudah penulisan. Salah satu guna pengambilan foto ketika perjalanan agar ejaan penulisan jangan sampe salah tulis, fatal. Jangan takut penolakan, karena “Rejection is your best friend”. Dan minta saran sebanyak2nya, karena “Feedback is your need”. Salah satu syarat agar tulisan kita bagus adalah, “Nulis saja dulu, setelah itu baru dirapihkan.” Membuat tulisan yg “cantik” bukanlah tujuan diawal, karena ketika kita menulis dan berusaha terlihat cantik, mungkin esensi ceritanya malah akan hilang fokus.

Tips terakhir berdasarkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di kelas. First of all, write for free. Kalau baru mulai menulis, jadilah kontributor tanpa dibayar. Bangun networking, ikut berbagai komunitas traveler, menulislah di blog, dan tinggalkan komen di blog-blog travel lainnya. Buat yang suka photography, atau suka menggambar, belajar membuat kalimat deskriptif dari foto/gambar tersebut. Spesifik menjadi penting ketika menulis untuk foto, karena teks akan menguatkan foto/gambar yang ada. Twitter merupakan salah satu tempat belajar untuk membuat copy yang padat, singkat dan tepat pada sasaran, banyak-banyak berlatihlah.

“Traveling bring us to a journey we’ve never thought before, that’s what i like most about traveling.” ~ @windyariestanty

Kelas AkberJKT kali ini benar-benar membuka mata saya, dan membuat ingin langsung packing dan berpergian seketika. :D Kemudian kelaspun ditutup dengan foto bareng peserta dan guru.

BF4v8AsCQAA1plj

3 comments

  1. Felicia Pacheco says:

    Kenapa? Mengutip bebas perbincangan dua orang teman traveler , “Tidak semua orang memiliki kesempatan untuk melakukan perjalanan, oleh karena itu setiap traveler harus berbagi foto atau cerita untuk dibagikan kepada mereka yang tidak memiliki kesempatan itu.” Selain itu, travel blog juga berguna untuk mendokumentasikan pengalaman perjalananmu untuk dibaca-baca lagi sendiri, atau bahkan akan menginspirasi orang lain untuk memulai petualangan mereka sendiri! Bagi yang sedang belajar travel writing, membuat travel blog juga merupakan salah satu cara untuk mengasah keterampilan menulis catatan perjalanan dan dapat digunakan sebagai portfolio atau contoh gaya tulisan kalian.
    Felicia Pacheco recently posted..No last blog posts to return.

Leave a Reply

CommentLuv badge