11 tahun tanpa jawaban (12 Mei)

setelah lebih dari seminggu tidak masuk kampus, saya cukup dikejutkan oleh banyaknya orang yang sibuk mendekorasi dan tentu saja dekorasinya sendiri yang cukup membuat merinding.

“ada apakah gerangan?” tanya saya dalam hati.

setelah menatap lebih jelas, barulah diketahui bahwa akan ada Dzikir & Doa mengenang tragedi 12 Mei 1998, 11 tahun tanpa jawaban. setelah saya berfikir lagi, tanggal berapakah sekarang. ternyata tepat satu minggu sebelum peringatan 11 tahun tragedi Trisakti 12 Mei.

saya terus terang sangat tercengang. tanpa terasa sudah 11 tahun berlalu peristiwa penting yang bisa dibilang tonggak sejarah terjadinya perubahan besar di negri ini. peristiwa yang telah merengkut nyawa 4 orang mahasiswa Trisakti. peristiwa yang sampai sekarang BELUM TUNTAS.

saya sendiri sebagai junior yang baik, tidak terlalu tahu apa yang sebenarnya terjadi , walau setiap tahun terus saja diingatkan dan tentu saja diperingati. 12 Mei adalah hari yang, (karena mahasiswa yang berkuliah di kampus B yang notabene jauh dari kampus A tidak terlalu aware akan acara-acara apa saja yang digelar disana) sangat sakral bagi mahasiswa universitas Trisakti, dan akan terus diingat tapi tetap saja tidak ada penyelesaiannya.  Setiap tahunnya banyak sekali rangkaian kegiatan yang dilaksanakan demi mengenang dan demi membuka mata para bapak2 dan ibu2 yang sedang berkuasa bahwa keadilan belum ditegakkan. akan sia-siakah nyawa dan perjuangan yang mereka lakukan.

apakah 11 tahun tidak cukup waktu untuk menuntaskan masalah tersebut. apakah mereka tahu bagaimana perasaan orang tua dan saudara-saudara korban. apakah mereka tahu bagaimana perasaan teman-teman korban.

kembali ke pokok bahasan tentang dekorasi mencengangkan yang saya lihat. bisa dilihat melalui gambar2 yang ada dibawah. tampak jelas dibisain agar dapat membangkitkan kembali orang-orang dan tentu saja agar suasana yang tercipta sedramatis mungkin.

di depan terdpat panggung kecil, disertai 2 layar tancep dan spanduk besar bertuliskan “Dzikir & Doa mengenang tragedi 12 Mei 1998, 11 tahun tanpa jawaban. ” lalu ada 4 keranda yang melambangkan 4 mahasiswa disertai poto mereka masing2. di barisan belakanganya digelar tiker buat duduk pada saat doa dan dzikir dilaksanakan. juga ada beberapa atribut semacam ban, bendera kuning, kursi terbalik dan sebagainya.

ketika saya berjalan lebih dalam memasuki lobi kampus saya itu, saya terhenyak. Tampak seperti ada bekas orang meninggal dunia, disertai ada nya pita kuning polisi. setelah saya dekati ternyata itu hanya cat merah sahaja. tapi sangat kreatif dan membuat kaget mahasiswa yang lewat disitu.

sayang saya tidak dapat mengikuti acaranya, karena buru2 harus pulang. tapi sebelumnya saya sempat mengambil beberapa gambar. silahkan dilihat gambarnya. dan tentu saja tolong doakan bagi ke empat pahlawan reformasi kita ini (Elang Mulia Lesmana, Heri Hertanto, Hafidin Royan, dan Hendriawan Sie), agar amal ibadahnya diterima Allah SWT, dan semoga kasusnya cepat terpecahkan. Amiin..

*postingan ini sudah ada di draft sejak tanggal 5 Mei*

25 comments

  1. mas stein says:

    rada berat ini mbak, tragedi 98 menurut saya terlalu banyak yang ndak masuk akal, mungkin berbau konspirasi tingkat tinggi. logikanya, penempatan pasukan pasti ada perintah, ada koordinasi, dari sekian banyak tentara itu yang nembak siapa, dari kesatuan mana mosok ndak ketauan. ya kecuali memang ada penembak di luar TNI Polri yang pengen mancing di air keruh.

    mas stein’s last blog post..Kurang Lebih Cukup

  2. cK says:

    kejadian ini sangat sulit dikorek. teman-teman saya yang mencoba menyelidiki kasus ini juga pesimis kasus ini bisa tuntas. terlalu banyak orang yang terlibat dan sulit untuk menguak satu persatu. (unsure)

  3. onizuka says:

    tindakan heroik, seheroik-heroiknya kita dibulan mei hanyalah mengenang tanggal 12 mei dengan kejadian tersebut. menggabung-gabungkan dengan issue ham, marsinah, may day, blow-up kemana-mana dan beberapa menggabungkan dengan kebudayaan, pertunjukan seni, bla bla bla; menjual mei. hanya itu, yang dilakukan dibulan mei, menjualnya. sesekali jika masih ada nafas, melakukan orasi (ora[l] ono isi). atas nama mei, atas nama tidak lupa atas nama mengenang atas nama budaya/seni atas nama rakyat. heil mei!

  4. oelpha says:

    Memang susah, tapi apa ya kita rela, kalo tragedi itu hanya akan sampai pada tahap “kenangan” tanpa penyelesaian??

  5. hanny says:

    sedih, ya, ketika yang bisa kita lakukan hanyalah untuk tidak melupakan. tetapi kita masih bisa teruskan semangat mereka, kan?

    hanny’s last blog post..You.

  6. dafhy says:

    saya ragu dengan hukum(orang-orang yang bekerja di dalam hukum) di negeri ini, kajadian yang baru beberapa bulan aja gak bisa ngungkap apalagi yang udah tahunan. apalagi maslah tri sakti ini ada orang atas periode orde baru yang bermain

    hemm. ah embuhlah saya hanya bisa mendoakan saja, karena saya tidak pintar dalam hukum untuk membantu mereka

  7. gRy says:

    (bigeyes) serem klo kebayang kejadian 11 tahun lalu, sempet kejebak kerusuhan juga soalnya waktu itu walaupun jauh dari TRISAKTI. memang sebuah harga pengorbanan yg mahal utk sebuah demokrasi ya (scenic)

    gRy’s last blog post..Warna Dunia

  8. refinance says:

    Kasus-kasus HAM di negara kita susah diungkap karena penguasa hari ini masih produk politik orde baru, cuma ganti kulit aja:) Tapi kita harus optimis mudah-mudahan suatu saat di nagara kita ini ada KEADILAN
    .-= refinance ´s last blog ..Home Loan Interest Rates =-.

Comments are closed.