1000 Startup Digital, Untuk Sistem Kesehatan Indonesia yang Lebih Baik

Nama saya Dita Firdiana, saya seorang dokter gigi. Saya percaya sebagai seorang dokter kita punya tugas yang tidak sedikit apalagi ringan. Tugas kita menyembuhkan penyakit gigi dan mulut pasien-pasien yang datang ke tempat kita praktek, tapi sebenarnya ada tugas yang lebih penting dari sekedar mengobati.

Apa tugas tersebut?

Sesungguhnya yang sering dilupakan, dalam dunia kedokteran atau kesehatan, dikenal istilah pelayanan kesehatan. Apa saja yang termasuk didalamnya, yaitu Promotif, Preventif, Kuratif, Rehabilitatif.

Selama ini saya seringnya melihat kita fokus pada bidang kuratif, (kegiatan pengobatan yang ditujukan untuk penyembuhan penyakit, pengurangan penderitaan akibat penyakit, pengendalian penyakit, agar kualitas penderita dapat terjaga seoptimal mungkin) dengan fokus pada tindakan penambalan, pencabutan, dll.

Dan juga tindakan rehabilitatif, (kegiatan untuk mengembalikan fungsi semaksimal mungkin sesuai dengan kemampuannya) seperti pembuatan gigi palsu, atau sekarang yang lebih ngetren yaitu implan. Perawatan kawat gigi bisa saya kategorikan ada di bagian ini, karena sesungguhnya pemasangan kawat gigi bertujuan memperbaiki susunan gigi yang tidak baik, bukan hanya untuk keren-kerenan.

Bidang tindakan Promotif dan Preventif kadang masih suka di anak tirikan. Kenapa? Karena tidak bisa menghasilkan uang lebih banyak dari dua tindakan yang sudah saya sebutkan sebelumnya.

Sering kali kita sadar, yang rutin mengadakan tindakan promotif (kegiatan pelayanan kesehatan yang lebih mengutamakan kegiatan yang bersifat promosi kesehatan.) biasanya brand-brand yang menjual produk kesehatan gigi. Seperti penyuluhan kesehatan gigi dan mulut ke sekolah-sekolah.

Sedangkan tindakan Preventif (kegiatan pencegahan terhadap suatu masalah kesehatan/penyakit.) yang sebenernya sangat efektif dilakukan kalau memang ingin menyehatkan generasi penerus bangsa… *tsah* seperti pengolesan flour dan melakukan penutupan ceruk dan fisur gigi tetap yang baru tumbuh, justru jarang terdengar, coba saja tanyakan ke masyarakat berapa banyak yang mengetahui hal tersebut. Padahal beberapa negara hal tersebut sudah menjadi semacam sunah, kalau bukan malah wajib untuk di lakukan pada anak yang baru tumbuh gigi tetapnya. Masih ingat juga selogan, periksa ke dokter gigi 6 bulan sekali? Boro-boro masyarakat mau “mengunjungi” dokter gigi, terlebih saat dirasakan giginya tidak sakit.

Mengapa? Karena kurangnya edukasi kesehatan gigi dan mulut ke masyarakat. Lalu gimana caranya biar masyarakat bisa lebih teredukasi secara maksimal? Butuh kerjasama tim (Prasetyo Andi, Jakarta Smart City). Untuk mengubah struktur yang sudah tahunan ada dibutuhkan waktu yang tidak singkat dan jelas mustahil bila dikerjakan sendiri. Dokter gigi, perawat gigi, teknisi gigi, bahkan teman-teman dari FKM harus bisa jalan bareng, baru setelah itu semua bisa diubah pelan-pelan.

Selain itu, kita juga mungkin harus bisa mengubah pola pikir bahwa besar rupiah yang diperoleh dari pekerjaan dan keilmuan seseorang bukanlah ukuran dari keberhasilan dia. Tapi bagaimana pekerjaan dan keilmuannya tersebut dapat berdampak positif dan berguna bagi masyarakat luas. Setelah itu uang akan datang dengan sendirinya. (Alamanda Shantika, Vice President Go-Jek)

Jadi seseorang yang bekerja di bidang pelayanan kesehatan masyarakat kita jangan hanya fokus kerja hampir 24 jam sehari cuma menghadapi pasien dan rutinitas yang itu-itu saja, tentunya kita harus ingat untuk terus meng-upgrade ilmu kita dan bertemu dengan orang banyak. Berjejaring tidak hanya dengan sesama rekan dokter gigi, tapi juga lintas bidang. Kenapa? Karena kadang jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang kamu cari datangnya dari mereka yang bukan teman sejawatmu (Sesi 4, coworking space and the future if working).

Lalu satu hal yang paling penting, ketika sistem kesehatan kita masih berbasis pada pengobatan penyakit, sampai kapanpun masyarakat Indoensia tidak akan menjadi masyakarat yang sehat, dan negara terus akan menanggung biaya pengobatan yang sebetulnya bisa dikurangi bila berbasis pada pencegahan dan mengatasi akar masalah penyebab dari penyakit yang ada, salah satunya penyakit gigi dan mulut. Padahal biaya untuk melakukan tindakan preventif jauh, JAUH, lebih murah dibanding tindakan kuratif dan rehabilitatif. Tapi sayang, BPJS dan sebagin asuransi swasta justru tidak menanggung tindakan tersebut.

Sehingga pada akhirnya saya harus setuju dengan materi-materi di acara Ignition 1000 Startup Digital tanggal 28 Juli 2016 lalu, bahwa jadilah startup yang berguna bagi lingkungan sekitar. Suatu startup muncul untuk bersinergi membantu pemerintah dengan program-program yang sudah di buat, bukan malah menambah-nambahi masalah yang ada (Dina Kosasih, co-founder Makedonia). Disitulah letak keberhasilan pembangunan bangsa.

Istilahnya, gimana kita mau bersaing ke kancah internasional, permasalahan di dalam negeri aja masih carut marut, terlebih soal “perseteruan” antara dokter gigi dan tukang gigi yang selalu marak itu, terlepas dari semua yang sudah dijabarkan terlebih dahulu di atas. Nah, gimana caranya kita bisa menawarkan solusi yang selain bisa berguna untuk masalah di dalam, tapi juga mengharumkan prestasi dan inovasi bidang kedokteran gigi Indinesia di Internasional.

Saya percaya kita bisa, kalau kita mulai bersatu dan berhenti saling menyalahkan. Kurangi rasa egois, dan mau turun membereskan berbagai persoalan kesehatan di negeri ini.

#1000StartupDigital #DifaOHC #IndonesiaSehat #IndonesiaBebasPenyakitGigiMulut #IdeasForIndonesia

2 comments

  1. Dwi Wahyudi says:

    Semakin banyak aplikasi yang bisa diakses masyarakat luas maka akan semakin banyak pula manfaat yang akan diperoleh. Semua aspek kehidupan secara tidak langsung akan terimbas dengan pergerakan teknologi informasi yang terus berkembang pesat. Semoga dengan adanya program nasional ini dapat membuat Indonesia semakin “sehat”. Amin…

Leave a Reply

CommentLuv badge