One Man One Tree

Gara-gara titiw ngomong soal nanem pohon trembesi, jadi keinget omongan nglantur saya dulu di twitter atau plurk?!? By the way, saya bukan aktipis/blogger lingkungan hidup loh.. Boro-boro aktip[is] lha disuruh jalan kaki aja paling males, sayah pecinta kendaraan pribadi, mohon maap yaah.. *dibacok deh eike*

Jadi begini yaaa… Gara-gara dirumah saya udah kayak kebun binatang, kebun bunga, kebun buah, dan kebun tamenan obat. *iya kalian gak salah baca kok* Mama saya itu tangannya dingin, kalau nanem apapun jadi. *Gitu bukan istilahnya?* Sejak kecil dan masih tinggal dirumah lama, mama membiasakan diriku untuk ikut membantunya bila sedang bercocok tanam, dimulai dari menyiram taneman, menanam pohonnya, sampai mencangkul. Masih jelas banget, dulu pas masih kecil dibeliin mama, alat berkebun yang mini, ada sekopnya, garpu tanah, ember, dan lain-lain. Jadi diriku sampai sekarang mah gak jijik maenan tanah, lha secara kecilnya dulu mainnya dikebon mulu.

Mama pada dasarnya suka sama yang namanya mahluk hidup (baik hewan maupun tumbuhan). Tapi kita skip dulu bicara soal binatang. Gak pilih kasih, dari bonsai, mawar, melati, anggrek, pinus, jambu, kelapa, mangga, sawo, srikaya, bengkoang, semua pernah/masih kami tanam. Dari yang bunga-bunga cantik, sampai pohon besar yang berbuah. Dari pohon hias, sampai tanaman obat. Itu ya segala jahe, laos (lengkuas), serai, sirih, kunyit, dan masih banyak lagi, ada semua dipekarangan kami (dalam pot). Bahkan cabe dan jeruk nipis, jeruk purut, ada. Kata mama, kalo kita mau masak, gak perlu susah, bumbunya semua ada dipekarangan rumah kami… *baiklah maaah*

Belakangan dita tahu, bahwa hobi mama berkebun itu turun dari kakek saya. Dulu waktu mama masih kecil kan mama keluarga besar tuh, total 10 bersaudara, kakek memberikan sepetah lahan (1×1 meter kalau dita gak salah inget), bagi semua anaknya lalu masing-masing disuruh nanam pohon apa saja terserah. Syaratnya cuman, agar pohon tersebut dirawat sendiri dengan baik. Hingga kalau nantinya berbuah, yang seneng kan yang ngerawat selama iniii…

Lalu waktupun berlalu, dita sudah tidak kecil lagi.. *ya iyalaaaah, yang bilang kamu kecil tuh siapaaaa??* :roll: walau ternyata bakat dan hobi mama tidak menurun kepadaku, tapi tanam menanam telah menempati suatu tempat khusus dalam hati dita. Kenapa begitu!?! Sebab, terinspirasi oleh sang Kakek, dita pun kelak kalau telah bekeluarga nanti sepertinya bakal menerapkan ajaran kekek dita tersebut. Yaitu memberikan lahan buat putra-putri kelak, biar mereka dekat dengan alam. Selain itu, sepertinya menyenangkan, kalau setiap anak yang lahir (iya anak saya kelak! Kalo anak situ juga mau ikutan ya monggoooo) ditanamkan 1 pohon. Yang jelas pohon yang bakal jadi besar, bukan rumpun mawar gitu. Jadi kalau si anak besar, dia bisa bangga melihat pohon yang tumbuh besar sama dia itu (tentu nya dia juga diharapkan untuk turut merawat si pohon donk ya..) Kalau perlu, gak cuman setiap kelahiran yang ditanami pohon, kalau ada kerabat yang meninggal juga bisa tanamkan 1 pohon. Jadi anggep aja pohon itu menggantikan saudara kita itu hidup didunia (ini bukan teori reinkarnasi). Jadi kita kan semangat dan dapat terus mengenang sang kerabat tersebut.

Jadi dit, kamu ngemeng panjang lebar, udah namen pohon belom??

Lha ya udah donk.. Walau bukan pohon trembesi yang kayak bakal di tanem di 14 ex SPBU yang mau dirubah jadi taman itu *ya iyalaaaahh gila aja nanem pohon itu di rumah.. Nanti saya malah punya rumah pohon*. Dateng aja kerumah mak-bapak saya. Situ bisa ngerujak langsung dari pohonnya… :lol:

——————————————-

saya beneran gak bahas pohon trembesi loh ya… Nah, kalo pengen baca post teman2 yg ngomongin pohon trembesi bisa lihat di:

titiw, didut, mbah Mbel, mba Zee.

14 comments

  1. Zippy says:

    Gue pernah ikutan aksi penanaman pohon di kampus.
    Tapi sayang, berhubung habis tanaman ditinggalin gitu aja dan gak dirawat, mati deh tu pohon.
    Sayang banget…

Leave a Reply

CommentLuv badge